
“Agh, jangan seka—,” belum sempat gadis itu melanjutkan ucapan. Bibir Max dengan ganas melahapnya. Membuat gadis itu gelagapan sendiri menahan serangan darinya.
“Hah!” Iren membuang jauh nafasnya dan menjauhkan tubuhnya saat Max melepaskan pagutan bibirnya.
“Bernafas bodoh!” umpat Max. Namun, kedua tangannya tetap melingkar di pinggangnya.
Gadis itu tetap tak perduli, “Aku mau i-tu, Max!” Iren memberi kode dengan putaran bola matanya. Menunjuk kereta makan yang masih tak tersentuh sedikitpun olehnya.
Max memutarkan tubuhnya kearah kereta makan, tapi tak membiarkan gadis itu turun dari pangkuan.
“Kau serius dengan ucapanmu?”
“Memangnya, aku pernah bercanda denganmu!” dengusnya.
Ah, Iren, kau bodoh jika bertanya hal seperti itu. Dia, pasti akan menjawab seperti tadi.
“Uhm, maksudku, tidak bisakah kau membiarkanku makan du-lu,” dia sedikit ragu mengutarakannya.
“Boleh!” segurat senyuman mengembang dibibir gadis itu.
“Yes!” jawabnya penuh semangat.
“Tapi, aku akan mendapatkan double untuk itu,” lanjutnya dengan seringai tampannya, langsung menusukkan anak panahnya tepat dijantung Iren.
“Haisss, aku pikir ...,” dia kembali membentuk sudut segitiga. Max mengacak rambutnya.
“Dokter gila itu kan sudah berpesan. Aku sedang sakit dan membutuhkan perawatan selama tiga hari,” kembali gadis itu berkumur-kumur dan suaranya hampir tak terdengar.
“Makanlah!” ucapnya melembut.
“Sungguh? Kali ini kau tidak sedang membohongiku kan?” Max gemas dia kembali menarik pipi gadis itu.
“Aw, iya,iya. Jangan tarik lagi. Sakit tahu!” satu tangan Iren mengusap pipinya yang ditarik oleh Max tadi.
Dia menggeserkan posisinya agar berhadapan dengan kereta makan tadi. Matanya berbinar seperti mendapatkan lotre. Max terus menatapnya tanpa henti. Tersenyum sendiri. Dadanya berdebar kembali.
Dan wajahnya memerah saat melihat gadis itu makan dengan lahap.
Hurf, berapa banyak tabungan di perut kecilnya itu. Sepertinya tidak akan pernah cukup jika dia hanya makan satu porsi.
“Wuaahh! Mantap. Aku kenyang!” ucapnya. Tubuhnya tanpa sadar bersandar ke dalam pelukan Max.
Laki-laki itu tak membuang kesempatannya lagi. Dia merengkuh gadisnya lebih erat.
“Apa sudah boleh aku menangihnya sekarang?” dia berbisik lembut ditelinga gadis itu. Membuat matanya mendadak membulat lebar. Karena kekenyangan dia melupakan perjanjian tadi.
“Ta-pi, perutku masih begah. Tuh ... kau lihat sendiri, kalau kau memang tak percaya!” dia benar-benar lupa. Menarik kemeja Max hingga perut dan bagian intim bawahnya tidak tertutup. Dia mengelus perutnya pelan-pelan seperti orang hamil.
“Oya?” Max menyentuh perutnya lalu tangannya dengan nakal menggoda bagian tadi.
“Akh, Max. Jangan disitu!” reflek gadis itu menghempas kasar tangannya tadi dan membuat tawa renyah dari mulutnya Max.
“Kau gila! Masih saja tertawa.” Umpatnya lagi dan segera melompat ke tempat tidur. Menarik selimutnya, menutupi seluruh tubuhnya.
“Memangnya apa yang belum kusentuh dan lihat. Semua itu sesuai dengan perjanjian, hanya milikku. Akulah pemiliknya. Milik Maximus Mollary.” Laki-laki itu bersuara lantang. Dia bahkan tak tahu malu dengan apa yang diucapkannya itu.
Cih, masih saja kau membanggakan perjalanan itu.
“Iya, iya. Aku tahu, tapi tidak sekarang sih, Max. Kau benar-benar tega denganku.” Gadis itu berbicara bergumah dari balik selimut yang sudah menutupi seluruh tubuhnya.
“Memangnya aku perduli. Kau bahkan terlihat sangat sehat. Makanmu saja sudah seperti gorila yang sedang mengandung!” cetusnya. Terus mengumpat gadis itu.
“Max, diam kau! Aku bukan wanita gorila. Aku punya nama, dan kaupun juga tahu namaku. Sungguh menyebalkan!” gadis itu menyibak selimutnya. Menyalak seperti anak anjing yang sedang mengonggong ketemu pencuri. Dia benar-benar tak terima panggilan itu.
“Kau marah denganku, hah?” Max menerjang tubuh gadis itu dan menindihnya. Membuat gadis itu kesusahan untuk bergerak. Max mencengkram kedua tangannya dengan erat.
“Ah ... Max, ayolah, jangan malam ini. Tubuhku benar-benar remuk setelah bersumo dengan kakakku itu.” Gadis itu mencoba bernegosiasi. Berharap laki-laki dengan tatapan serigala kelaparan itu mengampuninya.
Astaga, aku benar-benar gila. Kenapa dia manis sekali, ditambah dia merayuku seperti itu. Mana bisa lagi aku menahannya.
Astaga imut sekali.
Wajah Max memerah, “Hah!” Max tegang sendiri. Dia pun luluh kembali dan menghempaskan tubuhnya disamping gadis itu.
“Terima kasih, Max!” Iren membenamkan wajahnya didada bidang Max. Yes. Aku menang! Seringainya, tersenyum dalam dekapan hangat laki-laki itu.
***
Plak! Satu tamparan keras masih saja menghujam pipi Wina. Johan baru saja pulang saat mendapati rumahnya seperti habis dibobol maling.
“Apa yang kalian berdua lakukan, hah!” laki-laki itu meradang.
Memicing tajam melihat istri dan putrinya yang saling berpelukan setelah menerima tamparan darinya.
“Huhuhu, kami juga tidak tahu, Pah. Mereka tiba-tiba saja datang dan menghancurkan rumah kita. Kami pikir Papa masih memiliki hutang terhadap rentenir!” cetus Wina mencoba membela diri.
Melihat kemarahan Johan bukan hanya tersulut oleh keadaan rumahnya. Johan terlihat frustasi dan berwajah suram saat kakinya memasuki rumah.
“Kalian berdua sama saja. Hanya bisa menghabiskan uangku, dan mencari masalah. Tak bisa seharipun aku tenang di rumah ini!” Johan berkacak pinggang dan sambil memegangi keningnya yang terasa nyut-nyutan.
Dia seharusnya ingin beristirahat saat pulang dan lelah bekerja. Namun, yang didapatinya hal yang membuatnya makin berang.
“Jangan salahkan kami, Pah. Sepertinya itu bukan hanya kebetulan. Ada seseorang yang memang sedang mengincar keluarga kita.” Shasa berbicara mulai menyalahkan api ayahnya.
“Apa kau bilang? Siapa yang berani-beraninya melakukan ini? Apa dia sudah bosan hidup!” cetus Johan makin tersulut.
“I-iya, Pah. Sepertinya aku tahu siapa pelakunya,” Shasa berkata penuh penekanan pada ayahnya lagi.
“Hah, kepalaku hampir saja mau pecah. Satu masalah terselesaikan, sekarang timbul masalah lain. Hutang-hutang sudah terlunasi, tapi hari ini aku malah mendapatkan kabar buruk.” Johan membuang nafas panjangnya seolah membuang semua masalah yang bergelayut dalam pikirannya.
Laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah itu duduk sambil memijat kepalanya yang pening di sofa. Masalah tiba-tiba saja datang. Saham sepuluh persen yang Max berikan padanya saat perjanjian pertukarannya dengan Maureen.
Secara tiba-tiba turun drastis diangka yang membuatnya hampir kehilangan modal awal.
Johan tak pernah menyangka, keberuntungan yang baru keluarga mereka rasakan mendadak sirna.
“Memangnya ada apa, Pah?” Wina menghampiri suaminya dan memegang pundaknya.
“Sahamku yang sepuluh persen dari satu perusahaan yang tuan Max berikan tiba-tiba anjok dan kemungkinan aku tak bisa mempertahankannya.” Johan mengeluarkan segala keluh kesah hatinya.
“Apa Papa bilang? Saham kita? Saham sepuluh persen itu?” mendadak Wina klenyengan. Matanya tiba-tiba berkabut dan dia tak sadarkan diri.
Dia tak menyangka hari ini berlangsung dengan sangat dramatis.
“Ma-mah!” teriak Shasa histeris. Dia segera merengkuh tubuh ibunya ke dalam pelukan.
“Habis sudah semua. Habis. Kita benar-benar akan bangkrut untuk kedua kalinya,” ucap Johan kesal setengah mati.
Dia bahkan tak memperdulikan istrinya yang pingsan dihadapannya. Baginya keuntungan perusahaan dan uang yang didapatkan jauh lebih penting dari apapun. Tentu saja, dia bisa hamburkan dengan seenaknya.
Mata Shasa memicing dengan sangat tajam. Semua yang dipikirkannya makin menuju satu titik. Dan keyakinannya makin mengarah pada satu garis lurus yaitu Maureen—adik tirinya.
Kau sungguh sedang bermain api denganku, Iren. Lihat saja, semua perlakuanmu hari ini. Aku pasti akan membalasnya berkali lipat. Aku tidak akan mengalah atau meyerah untuk mendapatkan semua yang sedang kau miliki sekarang.
Shasa merasa uang yang diberikan Max sebagai konpesasi masih sangat sedikit, jika dibandingkan dengan kehidupan mewah yang sedang Maureen nikmati.
***
Yang kemarin menanyakan visualnya. Aku buatku Visualnya menurut versi aku yaa☺