
"Iya, aku tak percaya. Memangnya kau ini seorang Sultan atau Raja? Benar-benar gila dan tak masuk akal!" Maureen menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia, berbalik dan berkacak pinggang dihadapan Max. Matanya tetap terbelalak keluar.
"Ikutlah pulang denganku, apa kau tidak lapar!" ucap Max tiba-tiba melembut. Dia, sebenarnya sudah meradang dan ingin melampiaskan segala amarahnya pada Maureen. Namun, lagi-lagi saat melihat wajahnya yang begitu pucat dan terlihat sedih, dia tidak tega.
Max tak pernah menunjukkan wajah seperti itu pada wanita manapun.
"Tidak!" Maureen tetap memekik tajam saat Max mencoba menyentuh lengannya akan mengajaknya masuk kembali ke mobil.
"Jangan buat kesabaranku hilang. Kau ikut denganku sekarang, atau aku tak segan akan membunuhmu dan melemparkan mayatmu ke jalanan!" ancam Max. Kali ini dia tak mau kalah dengan wanita dihadapannya itu.
"Argggh!! Kau gila. Dasar pria maniak. Pergi sana!" kembali dia mendorong tubuh Max yang mencoba mendekatinya.
"Ikut aku sekarang juga sebelum aku berubah pikiran!" Max melangkah maju dan menarik lengan Maureen. Dan menyeretnya masuk ke mobil.
"Lepas, lepaskan aku! Aku tidak mau ikut denganmu!" dia meronta sekuat tenaga. Namun, sisa-sisa tenaganya tak mampu melawan kesigapan dari Max.
"Kau sungguh membuatku repot, hah!" Max mengangkat tubuh mungil Maureen hingga dia sudah berpindah di pangkuannya. Tangannya melingkar dengan erat di pinggang wanita itu dan Max terus menatap intens wanita yang sedang berada dalam pangkuannya.
Maureen tidak menjawabnya. Dia memalingkan wajahnya. Tenaga sudah cukup terkuras, setelah dia memukul dada laki-laki itu, tidak ada yang berfungsi. Laki-laki itu sepertinya tak merasakan apapun pukulan dari Maureen.
"Aku kan sudah bilang ikut denganku. Kau sungguh tidak lapar?" ucapan yang terulang dari mulut Max membuat cacing-cacing di perut Maureen menjawab dengan spontan.
Kruyuk kruyuk
"Sungguh, kau benar-benar tidak lapar?" Max menggoda Maureen sambil mengangkat dagunya. Wajah wanita itu sudah tertunduk karena malu.
"Aku tidak lapar!" jawab Maureen tegas. Namun, naas malah perutnya kembali berbunyi tambah keras saat dia menolaknya lagi.
"Martin, suruh koki siapkan hidangan istimewa malam ini. Aku hanya ingin, saat tiba semua sudah ada!" perintahnya. Martin menautkan alisnya sambil menekan nomor yang terhubung dengan Mansion tuannya.
Apa aku tidak salah? Tuan sendiri yang mengundangnya secara pribadi ke Mansionnya. Martin berkata di hati sambil memberikan perintah lewat telponnya.
Maureen tetap memalingkan wajahnya. Saat tangan Max masih terus bermain diwajah cubbynya.
"Aw, sakit tahu!" pekik Maureen menghempaskan tangan Max. Saat Max mencubit pipinya dengan gemas.
"Kau, mirip boneka. Aku gemas sekali!" selorohnya tanpa sadar. Membuat kembali Martin menautkan kedua alisnya. Segurat senyuman meluncur mulus di wajah Max.
Entah kenapa Max merasakan kenyamanan berbeda saat menatap wajah Maureen. Tidak seperti saat dia menatap para wanita yang hanya menjadi selimut penghangat dirinya dikala dia sedang membutuhkan makanan biologisnya.
Maureen tetap tak bergeming, dia diam tak menanggapi ucapannya. Pikirannya terus melayang pada wajah ibu dan kakak tirinya, kalau dia tak pulang malam ini, dia pasti akan dihajar habis-habisan oleh mereka.
Martin membukakan pintu. Max menarik keluar perlahan tubuh Maureen. Kakinya tetap tak mau bergerak, terpaksa Max mengangkat tubuh Maureen secara paksa.
"Kau pikir aku tak memiliki cara untuk membuatmu berlutut di bawah kakiku!" Max berkata dengan sangat sombongnya sambil membawa masuk tubuh Maureen ke Mansionnya.