
"Kau!" delik Max kini menatap Maureen.
Martin bersiap menghampiri Bima dan gadis itu segera tersadar.
"To-tolong, jangan lakukan itu, Tuan, aku mohon!" Maureen segera menghampiri Max dan menyentuh lengannya.
Maureen tidak ingin ada masalah apalagi seluruh keluarganya ada di dalam ruang pertemuan. Dia, tak ingin mempersulit dirinya lebih jauh.
"Kau sedang memerintahku!" dengusnya.
"Ti-tidak berani Tuan!" gadis itu menggeleng yakin.
Duh, apa yang harus aku lakukan? Kenapa ada laki-laki ini muncul disini? Aku harus bagaimana?
Maureen berpikir keras dan dia samar-samar mengingat suaranya. Suaranya persis sama seperti orang yang menelponnya sore tadi. Dia, membekap mulutnya dan benar-benar yakin kalau suaranya sama.
"A-aku, minta maaf, Tuan, aku benar-benar tidak mengenali suaramu!" Maureen berkata jujur dan Max menautkan alisnya saat gadis itu bicara dan menganggap dia mencarinya karena telponnya tadi sore.
"Oh, jadi aku sudah mengingatkanku!" Max memberikan kode pada Martin untuk membuat pingsan Bima. Dia, tak ingin Bima mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Aku sungguh minta maaf Tuan, lagipula hanya nomor saja yang tertera mana aku tahu kalau itu kau yang menelpon!" gerutu Maureen. Max melayangkan pandangannya pada Martin.
Martin hanya bisa menelan ludahnya saat gadis itu berkata.
Mati aku. Aku lupa memberikan nama untuk nomor Tuan.
"Jadi, kalau hanya nomor saja kau tidak akan mengangkatnya?" Max mencengkram kasar wajah gadis itu. Maureen hanya mengangguk cepat dan menunjukkan wajah memelasnya.
Huh, aku benar-benar gila, menatapnya saja sudah membuatku ingin menyentuhnya.
Max menarik tangan gadis itu ikut bersamanya, "Kau dan yang lain jaga disini!" Max berhenti disalah satu ruangan dan dia menempelkan sidik jarinya hingga ruangan itu terbuka.
Martin mengerti kode tuannya dan melaksanakan perintahnya.
"Kemari kau!" Max menarik Maureen dalam pangkuannya. Membuat gadis itu tak berani banyak bergerak.
"Ayo, lakukan!" perintah Max.
"Apa masih perlu aku mengajarimu?" lagi Max berkata. Dia kesal sendiri karena gadis itu tetap saja tak bergeming dengan permintaannya.
"Aku kan sudah bilang akan mencarimu lagi. Aku ingin melakukannya lagi, seperti saat kita berada di mobil!" ucap Max langsung membuat mata Maureen mendelik.
"Ti-tidak Tuan, aku tidak mau!" Maureen akan bergerak turun dari pangkuannya, tapi Max mencengkram lengan gadis itu, "Lakukan secara baik-baik sekarang, atau keluargamu akan tahu. Mereka akan melihat dirimu tanpa sehelai benang pun jika aku yang melakukannya!" ancam Max.
Tubuhnya bergetar, bahkan gadis itu tak memiliki keberanian untuk melawan saat ancaman Max terucap.
"Kau sungguh tega sekali Tuan!" Maureen berkata dengan sedih, tapi Max yang sudah dikendalikan gelora panas yang sudah tak dapat dia tahan.
Max menurunkan gaun gadis itu, membiarkan dua milik gadis itu terekspos dihadapannya. Dan, Max menikmatinya secara berganti dengan sangat lembut.
"Aku sangat menyukai milikmu ini, Maureen!" bisiknya lirih di telinga gadis itu. Maureen yang juga sudah terbuai oleh sentuhan Max hanya bisa membenam wajahnya di pundak Max dan membiarkan laki-laki itu melakukan semua yang diinginkannya.
"Ingat, saat aku menelponmu berarti aku ingin melakukannya dan kau harus selalu siap seperti barusan!" ucapnya sambil memberikan Maureen kembali satu kartu hitam untuknya.
Maureen hanya diam saja, dia merapikan semuanya. Dia sudah tak memiliki hak untuk menentang kemauan laki-laki itu. Entah karena dia memang takut atau karena dia sudah tak memiliki sedikit harapan untuk hidup.
"Kau mendengarku?" Max kembali berkata dengan melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu. Maureen hanya mengangguk.
"Ah, sial! Kalau kau menjadi penurut seperti ini aku mana bisa melepaskanmu begitu saja!" Max membalikkan tubuh gadis itu dan kembali menarik wajahnya, mencium kembali dengan membara bibir Maureen.
Kembali Maureen membenamkan wajahnya didada Max. Dia, malu. Benar-benar malu.
"Jangan berani-benarinya kau menunjukkan wajah seperti ini dihadapan laki-laki lain, Oke!" Maureen mengangguk pasti.
"Ayo!" katanya lagi. Max menggenggam tangan Maureen.
"Kemana?" Maureen bingung.
"Kau pikir keluargamu akan percaya dengan ucapanmu?" Maureen menatap bingung ucapan yang keluar dari mulut Max.
"Aku akan temani!" ucapnya. Maureen kembali mengangguk. Dia seperti kucing liar yang sudah dijinakkan hanya mengikuti ucapan tuannya.