
Mereka semua tampak serius membahas sesuatu. Maureen seperti berada di dunia lain. Dia tak fokus mendengarkan apapun yang keluar dari pembicaraan mereka.
Martin kembali dan membisikkan sesuatu di telinga Tuannya. Membuat Max mengebrak meja dan bangkit dari duduknya.
Berani sekali gadis itu bermain-main denganku. Apa dia menganggap ancamanku angin lalu saja. Dia, tak akan bisa lepas dariku begitu saja!
Langkah kaki Max besar-besar saat menuju ruangan pertemuan keluarga Maureen. Dia terlihat menahan amarahnya.
"Jadi bagaimana, Tuan Fernando? Apakah anda setuju kalau Shasa akan kami jodohkan dengan Nick?" Johan berkata sambil memandangi wajah putrinya yang berbinar dengan penuh kebahagiaan.
Shasa terlihat tak sabar menunggu keputusan para keluarga.
Maureen tersentak. Dadanya terasa ngilu dan sakit. Dia hanya bisa melirik kearah Nick yang terlihat diam saja saat mendengarkan keputusan ayah Maureen.
"Kami sebagai keluarga mana mungkin menentangnya jika keduanya saling mencintai, kenapa tidak!" ayah Nick berkata sambi tersenyum bangga saat melihat Shasa yang merupakan termasuk kriteria keluarganya.
"Dan kami rasa Shasa pun pantas menjadi bagian keluarga besar Fernando," lanjut nyonya Fernando menambahkan ucapan suaminya.
Maureen kembali melayangkan pandangannya. Menatap nanar dan pedih pada kisah cinta yang dipendamnya. Dia, bahkan belum sempat mengutamakan isi hatinya.
"Baiklah Tuan dan Nyonya kalau seperti itu kita sudah putuskan untuk melanjutkan pembicaraan yang lebih serius untuk hubungan Nick dan Shasa!" jelas ayah Maureen berkata. Membuat gadis itu benar-benar putus asa.
Dia, bahkan tak pantas untuk mempertahankan atau berharap tentang apapun lagi. Maureen menyadari sepenuhnya dirinya sekarang sudah tak memiliki sesuatu yang bisa dia banggakan.
Kemudian ayah Maureen menatap keluarga Prakoso, anaknya Bima Prakoso yang sudah memindai wajah Maureen sejak tadi terlihat tak sabar.
"Bagaimana dengan putra kami, Tuan Johan?" tanya Prakoso terlihat berbinar saat melihat Maureen.
Apalagi putra pertamanya sudah mengutarakan lebih dulu, kalau dia menginginkan Maureen menjadi bagian dari keluarganya.
"Hahaha, aku sebenarnya tak bisa memaksakan, tapi aku yakin dengan ketulusan putra anda, jadi aku pun berencana akan menjodohkannya dengan putri kecilku ini, bagaimana?" Johan berkata seperti mereka sedang melakukan transaksi bisnis.
"Pah!" Maureen tak tahan akhirnya dia pun bersuara.
Johan langsung melayangkan pandangannya. Dia terlihat seperti ayah yang sangat menyanyangi anaknya.
"Ada apa Maureen sayang? Apa kau ingin ke toilet!" wajahnya suram saat dia berbicara. Penuh tekanan dan membuat nyali Maureen kembali menciut.
"I-iya, aku mau ke toilet!" dia beranjak dari duduknya diikuti Bima yang juga ikut beranjak dari duduknya.
"Aku akan mengantarkannya, Paman!" ucap Bima berkata dengan sangat sopan dan lembut.
Bima segera memepet Maureen. Tak membiarkan Maureen jauh dari pandangannya.
Maureen bergegas keluar ruangan. Rasanya dia ingin kabur dari pertemuan itu.
Tangan Maureen ditarik paksa oleh Bima ke satu lorong. Brukk! Tubuhnya didorong dan dihimpit di tembok.
"Kita bertemu lagi. Kau lihat perbuatanmu waktu itu!" Bima berkata dengan matanya yang mendelik. Dia, menunjukkan kepalanya yang di balut perban.
"Argh! Lepaskan! Dasar pria kurang ajar!" Maureen baru saja akan mendaratkan tamparan di wajahnya. Namun, Bima dengan cepat menangkapnya.
"Kau benar-benar kucing liar yang nakal. Aku sangat penasaran dengan aksimu saat di ranjang, hah!" Bima mulai mengenduskan wajahnya di leher Maureen dan menjulurkan lidahnya, menjilati leher gadis itu.
"Argghh!" tiba-tiba Bima berteriak. Maureen yang memejamkan matanya saat Bima berusaha menjilatnya.
Maureen membuka matanya dan betapa terkejutnya dia saat melihat laki-laki yang dibencinya sudah berada dihadapannya.
Max mengeraskan rahangnya, "Potong lidahnya, Martin!" ucapnya geram.
Maureen membalikkan tubuhnya dan sudah melihat Bima dipegang dua orang pengawal dan dia terus berontak.