MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
TAK BISA KABUR DENGAN MUDAH



“Ada apa? Apa kau menginginkannya lagi?” Max melayangkan pandangannya pada gadisnya yang sedang bergidig didalam pelukannya.


“Hah, kau jangan asal bicara. Aku mohon janganberbuat seperti itu lagi. Aku tahu, aku salah. Daripada kau bersikap seperti tadi lebih baik kau tampar saja wajahku ini,” dengus gadis itu berkata seperti orang yang sedang mengumpat.


“Cih, di tampar itu tidak ada keuntungannya untukku. Aku tidak merasakan enak!” cibirnya tak terima ketika Maureen memohon padanya.


Gadis itu seketika diam. Dia tak berbicara lagi, sampai Martin masuk dan memberikan paper bag untuk tuannya.


“Kau, keluarlah!” perintahnya. Tanpa disuruh pun Martin sadar diri.


“Aku akan membeli mobil baru, agar aku bebas melihatmu!” Max berkomentar sambil melihat gadis itu mengenakan semuanya.


“Kau mau makan apa?” dia kembali bertanya saat gadis itu membalikkan punggungnya. Meminta bantuan untuk menarik resleting belakang.


“Aku tadinya mau makan mie ayam bersama kak Nick, tapi karena ulahmu, rencanaku gagal!” cetus Maureen.


“Sekali lagi kau sebut nama laki-laki lain dihadapanku, kupotong lidahmu!” Max menarik tubuh gadis itu. Mencengkran kasar lengannya dan berbisik penuh penekanan di telinga gadis itu.


Ooppss, aku lupa. Keceplosanan! Maureen membekap mulutnya. Segera membalikan tubuhnya dan melompat ke dalam pelukannya.


“Ma-maaf sih, jangan marah lagi ya ...,” gadis itu menunjukan wajahnya. Menatapnya seperti kucing manis.


“Sial! Kenapa kau seperti itu!” Max memalingkan wajahnya yang tiba-tiba seperti terbakar. Jantungnya tiba-tiba ikut berdebar kencang.


Apa ini? Apa yang terjadi denganku. Gadis ini benar-benar membuat aku gila.


“Martin, pesankan makan dan kirim ke kantor. Kita  kembali  sekarang!” Max berteriak memberikan perintah. Martin


hanya mengangguk dan menekan tombol yang biasa tuannya meminta untuk pesan makan siangnya.


“Sssttt!” delikan dari Max membuat mulut gadis itu langsing terkunci. Dia tak berani lagi berbicara.


Max hanya membelai rambut gadis itu, dan tak membiarkan tubuh Maureen sedikitpun jauh darinya.


Max mengulurkan tanganya saat mereka berhenti di depan gedung Mollary Company. Sesaat gadis itu hanya memandanginya. Gedung yang menjulang tinggi seperti pencakar langit berbeda dengan gedung perusahaan ibu


Maureen yang tidak ada seperempat darinya.


Max menarik tangan gadis itu bersamanya. Semua pasang mata terlihat mengintai mereka. Sampai saat ini tidak ada seorang pun wanita yang dibawa bosnya ke kantor.


“Selamat siang, Tuan Max, anda ada janji meeting jam dua ini!” seorang wanita berdada besar dan penampilannya nan sensual menghentikan langkah Max. Dia terlihat membawa beberapa berkas.


“Kau, tunggu saja di ruang rapat, Gina. Aku akan segera kesana!” ucapnya. Kemudian berlalu memakai lift khusus ke ruangannya.


“Ta-tapi, Tuan, tuan Alan sudah menunggu anda sejak satu jam lalu!” wanita bernama Gina itu menghentikan pintu lift yang akan tertutup, sambil sesekali matanya menatap tak suka terhadap Maureen.


“Apa kau tuli. Jika, dia tak mau menunggu batalkan saja semua kontraknya!” dengus Max. Dia terlihat tak menyukai ketika Gina mencoba menghentikan kepergiannya.


“Ba-baik, saya akan sampaikan pada tuan Alan!” Gina tak lagi berani membantah ketika bosnya berubah suram.


Namun, Gina tak melepaskan tatapan matanya pada Max yang terus tak melepaskan genggaman tangannya pada Maureen.


“Pergilah, aku tidak apa-apa sendirian!” ucap Maureen mencoba menenangkan amarahnya. Dia mengusap pelan lengannya Max.


“Uhm, tapi aku akan mengantarmu dulu,” ucapnya. Maureen hanya menunduk saja saat ultimatum itu sudah keluar dari mulut Max. Sepertinya, dia tidak suka kalau ucapnnya di bantah.


Max membuka pintu ruangannya dengan menempelkan tangannya. Kemudian pintu itu baru terbuka. Woah, sepertinya aku tidak akan bisa kabur dengan mudah. Pikiran Maureen terbang ketika dia tahu akses pintu ruangan tersebut tak bisa sembarangan orang masuk. Maureen yang berpikir akan melarikan diri saat Max meninggalkannya.