
"Kemarilah!" Nick menarik tangan gadis itu.
"Kita ketempat ku saja! Kau kan juga mau sarapan" Lola sudah berbalik arah ke tempatnya.
"Ayo!" Nick menarik gadis itu sampai motornya.
"Aku jalan kaki saja sama Lola, Kak Nick. Lagipula tidak jauh," ucapnya menolak ajakan Nick saat menyuruhnya naik ke motor.
"Ok, aku temani. Biar motornya aku parkir disini."
Nick tak ingin menghilangkan kesempatan untuk berduaan gadis itu. Tangannya masih menggenggam erat Maureen.
"Kak, ma-maaf," ucap Maureen mencoba melepas genggamannya.
"Ah, iya, maaf, Ren!" Nick mengikuti Maureen yang mengejar Lola.
***
"Brengsek! Berani sekali dia memperlakukan wanitaku seperti ini!"
Max membanting ponsel dan menginjaknya hingga hancur. Martin memberikan laporan rekaman yang pengawalnya kirimkan.
"Berikan mereka pelajaran. Aku ingin mereka tahu agar tak sembarangan menyentuh wanitaku!" Max memberikan perintah.
"Baik, Tuan. Anda tidak perlu khawatir saya akan menanganinya!" ucapnya. Namun, matanya melirik ponselnya yang sudah hancur tak bersisa.
"Cih, beli yang baru sana! Hanya ponsel saja. Begitu saja perhitungan!" dengus Max.
Martin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Baik, Tuan!"
Bukan masalah ponselnya Tuan, tapi saya tidak menyangka Tuan akan semarah ini.
"Ayo, jemput dia. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan dia berkeliaran lagi!" gerutu Max membanting kasar pintu ruangannya.
***
"Aku pulang sekarang ya, La!" Maureen tak nyaman. Sejak duduk Nick terus menatapnya.
"Kok pulang? Kamu mau pulang kemana? Memangnya sudah dapat tempat tinggal. Kamu juga belum cerita apa-apa padaku!" Lola menagih janji, tapi kemudian dia tersadar saat melihat Nick.
"Uhm," sahut Maureen singkat.
"Oke. Oke. Yang penting sekarang kamu sudah baik-baik saja!" Lola tidak ingin memperkeruh lagi. Walaupun Maureen tidak cerita, dia tahu temannya pasti sedang kesulitan.
"Biar aku antar, Ren!" Nick ikutan berdiri.
"Terima kasih, Kak Nick. Tidak usah. Aku sudah ada yang jemput." Terpaksa gadis itu berkata. Karena ponselnya tak berhenti bergetar.
Saat dia melirik, Max-lah si pemanggil. Hatinya gelisah. Dia takut jika ancaman laki-laki itu benar adanya dan dia melihat Nick bersama. Dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya.
"Setidaknya, biarkan aku melihatmu. Agar hatiku juga tenang!" Nick tahu kegelisahan gadis itu. Pasti berhubungan dengan laki-laki yang tiba-tiba datang di perjamuan mereka.
"Ta-tapi,"
"Aku mohon!"
Akhirnya gadis itu menyerah. Dia pasrah. Apapun nanti yang terjadi, ya terjadi.
"Aku juga ikut antar sampai depan deh!" Lola sigap saat melihat wajah temannya gelisah. Dia segera menggandengnya turun.
Tepat saat mereka sudah berada di lantai bawah. Mata Lola tertuju pada jajaran pengawal yang sedang menghadang mereka.
"Hohoho, ada apa ini? Kita tidak sedang syuting film action kan, Ren?" tanya Lola yang menyadari tujuannya pada gadis itu. Nick pun menghendaki langkahnya.
Kaki Maureen seperti mati rasa. Dia seperti kesulitan bergerak. Apalagi saat melihat wajah Max yang memicing tajam. Menghujam langsung ke jantungnya.
"Ayo, Ren, kita ambil jalan lain saja," ucap Lola menggandeng lengannya. Namun, kaki Maureen tak bisa bergerak.
"Kau pilih datang sendiri atau anak buahku yang menyeretmu!" suara bariton Max bergema.
Membuat seluruh buluk kuduknya berdiri. Ya ampun, bagaimana ini? Dia pasti menyiksaku habis-habisan.
Leher Maureen seperti tercekik dan kesulitan bernafas, "La, sampai sini saja. Terima kasih sudah mengantarku," ucapnya mencoba lepas dari gandengan Lola.