
"Hah? Apa Ren?" Lola hampir tak percaya dengan perkataan yang keluar dari mulut temannya. Dia bahkan melihat temannya berjalan mendekati orang-orang yang dikiranya sedang syuting film action.
"Ren, hei, tunggu!"
Saat Lola mendekat, Martin menghadang, "Maaf, Nona, cukup mengantarkan sampai sini saja!" ucapnya tegas.
Maureen sudah masuk kedalam mobil Max. Dan ditutup oleh Martin. Nick dan Lola hanya bisa menyaksikan kepergian gadis itu.
"Kita pulang ke mansion, Martin!" Perintah Max. Gadis itu membalikkan wajahnya.
"Kenapa? Kau tak suka? Itu hukuman karena kau sudah bersikap seenaknya dan tak mendengarkan perkataanku!" cetus Max. Dia terlihat memandangi wajah Maureen yang babak belur.
Wajah Maureen berubah sedih. Dia merasa kebebasan makin terkekang.
"Aku kan mana tahu mau begini. Kau tega sekali, Max!" Maureen berbicara berkerucut bibir.
"Aku tak perduli. Setelah disana, kau tidak akan bisa keluar seenaknya lagi. Kau harus menututi semua aturan yang kubuat!" cetus Max.
Maureen hanya bisa menghela nafas panjang. Dia memalingkan wajahnya. Dia sedang tidak ada tenaga untuk berperang mulut dengannya.
Dasar pria arogan. Selalu saja mau menang sendiri.
"Kau bahkan tak bisa melindungi diri sendiri," gerutunya.
Gadis itu tetap diam. Dia memejamkan matanya. Dia bahkan belum tahu rencana apa yang akan Max lakukan untuk menghukumnya.
Martin membukakan pintu, "Ayo cepat turun!" Gadis itu hanya menurut. Jidat dan bibirnya yang benjut mulai terasa nyut-nyutan lagi.
Saat meringis, Max meliriknya.
"Panggil Adolf kemari, Martin!" perintah lagi. Martin hanya mengangguk.
"Ayo jalan!" ucap Max menarik tangannya.
"Gendong, badanku sakit semua tahu!" Maureen yang merajuk manja.
"Apa?" delik Max. Martin pun melirik. Dia tak mengira Maureen akan seberani itu pada tuannya.
"Ya sudah kalau tidak mau. Tidak apa-apa kok!" Baru saja gadis itu melangkah, Max sudah menariknya.
Martin pun hanya bisa menggeleng karena tuannya pasti tidak akan menuruti permintaannya.
Tapi, sedikit kemudian mata Martin membulat lebar. Tuannya berjongkok dan menarik tubuh gadis itu ke punggungnya.
"Terima kasih, Max. Aku sedang sekali!" ucapnya di telinga Max. Membuatnya seperti tersengat listrik. Dan debarannya kembali bergema di jantungnya.
Semua mata melihat tuannya yang memanjakan Maureen. Tidak ada satu orang pun yang pernah diperlakukan spesial sepertinya. Gadis itu adalah orang pertama.
"Max, apa yang terja-di?" Seseorang menerobos masuk saat mendapat kabar dari Martin.
"Kau berisik sekali, Adolf. Membuat telingaku sakit!" Max membalikkan badan dan saat ini dia masih menggendong gadis itu dipunggungnya seperti anak gorila.
"Apa itu? Kau memelihara gorila sekarang?" cetus Adolf. Dia tak mengira akan mendapatkan pemandangan langka.
"Max, aku lapar," ucapnya lagi.
"Berto!" teriaknya.
"Siap menerima perintah, Tuan!" Berto langsung berlari mendekat ketika mendengar teriakan tuannya.
"Kau sudah ada hidangan yang bisa dimakan?" Max bertanya, karena jam makan siang masih satu jam lagi.
"Aku mau makan nasi goreng terasi, kau bisa membuatnya?" ucap Maureen. Dia masih berada dalam gendongan Max.
"I-itu," Berto terbata sambil melirik Tuannya.
"Kenapa? Apa itu sulit? Kau tidak bisa membuatnya?" dengus Max. Matanya mendelik tajam.
"Te-tentu saja bisa, Tuan. Mohon menunggu akan saya buatkan!" Berto akan berbalik.
"Telurnya buat mata sapi, aku mau dua!" tambah Maureen membuatnya menoleh.
"Ba-baik, Nona. Akan saya buat sesuai pesanan anda!" Berto menghilang dari peredaran.
"Cih, siapa dia? Apa aku tidak salah kau dikendalikan oleh gorila wanita itu!" Adolf menggeleng kepalanya.
Begitu pun Martin yang bisa melongo seperti sapi ompong. Dia tak menyangka tuannya akan ditaklukkan oleh seorang gadis kecil.