MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
PERTEMUAN RAHASIA



Maureen menyusuri jalan. Jalan setepak yang dipenuhi oleh pepohonan. Dia terlihat merentang kedua tangannya menikmati suasana. Dia merasa memiliki sedikit kebebasan yang selama ini menjadi belenggu dirinya.


Kakinya berbelok kearah taman. Dia melihat seorang tengah duduk di sudut bangku dengan pemandangan depannya kolam teratai. Orang itu menolehkan kepalanya dan segera berdiri menyambut kedatangannya.


Senyum hangat seperti mentari pagi menyambutnya. Mengalihkan semua beban yang sedang dirasakannya. Sirna sesaat oleh senyuman itu.


"Kakak, sudah lama menungguku?" sapa Maureen dan kemudian duduk disebelahnya.


"Tidak, aku juga baru datang!" ucapnya menyodorkan minuman yang sudah dia sediakan.


"Uhm, harumnya. Terima kasih banyak, kak!" dia menyeruput minumannya.


"Aku juga bawa ini!" ucapnya, dia membuka kotak makan yang sudah disiapkan untuknya.


Maureen tersenyum. Orang dihadapannya masih mengingat makanan kesukaannya. Nick membalas senyuman Maureen dengan bahagia.


"Ini kan susah banget dicarinya Kak, Kakak menemukan dimana?" Maureen segera mengambil satu kue cubit setengah matang dan hup, satu lahapan masuk ke dalam mulutnya.


"Makannya pelan-pelan," Nick mengusap bibir gadis itu yang sedikit belepotan.


Wajah Maureen merah padam saat mata mereka beradu pandang. Mereka berdua hanya bisa bebas bersama ketika melakukan pertemuan rahasia seperti itu. Tanpa gadis itu ketahui semua kegiatannya sudah terekam dan memberikan bukti-bukti foto kebersamaannya.


***


Ponsel Max terus saja bergetar. Max menyadari itu. Namun, dia tengah berada dalam rapat dan ingin segera menyelesaikannya.


"Hubungi dia, Martin. Aku ingin makan siang dengannya!" Max berkata setelah rapatnya usai dan semua orang pergi.


Martin sempat berpikir,tapi dia tahu tuannya sangat ingin bertemu dengan siapa. Dia baru akan menghubungi ponsel Maureen, "Suruh dia datang dalam waktu setengah jam!" tambahnya.


"Jadi, Kak Nick akan menikah dengan kakaku?" Maureen akhirnya berbicara. Dia mengeluarkan semua kata yang dia pendam sejak pertemuan keluarga.


Dia ingin sekali berkata. Aku tidak setuju, tapi lagi-lagi segala keberaniannya sirna. Dia sudah merasa tak pantas untuk memperjuangkan apapun.


"Tidak apa-apa Kak, lagipula kak Shasa sangat menyukaimu!" Maureen tertunduk. Bibirnya terasa kelu saat dia mengatakan hal yang tak ingin dia katakan.


"Memang kau tidak menyukaiku?" segurat pertanyaan yang menambah luka di batin Maureen. Dia mengangkat kepalanya, menatap laki-laki yang dicintainya.


Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Cinta pertama yang musnah begitu saja. Tanpa sempat dia perjuangan. Cinta pertamanya yang sudah gagal.


"Aku tidak pantas untuk Kakak," ucapnya berat. Lidahnya seperti tertusuk ribuan jarum. Perih dan pedih terasa.


"Kenapa kau bisa menarik kesimpulan seperti itu, hah? Apa yang tidak pantas? Atau mungkin sebenarnya kau sudah memiliki tambatan hati yang lain?" Nick menghujatnya dengan pertanyaan. Sesak kembali terasa didadanya.


"I-itu, tidak seperti yang kakak bayangkan, aku, a-ku ...," ponsel di tasnya bergetar.


Dia mencoba mengacuhkannya dan kembali focus menatap wajah orang yang dicintainya itu.


"Lalu, apa hubunganmu dengan laki-laki itu?" segurat tanya benar-benar membuat gadis itu tak bisa menjawabnya.


Dia bingung menjelaskannya. Harus darimana dia memulainya. Apakah dia harus menjelaskan, kalau dia sudah kehilangan mahkotanya. Dan dia berubah menjadi seorang penjaja jasa kehangatan karena kecerobohannya.


"Uhm, dia sebenarnya atasanku. Bisa dibilang aku bekerja dengannya!" jelasnya padat dan berisi.


"Atasanmu? Sejak kapan? Kenapa aku tidak pernah tahu? Bukannya semua perkerjaan yang kau lakukan tidak ada yang bersifat perorangan!"


Masih Nick menghujani dengan pertanyaan yang tak mungkin lagi gadis itu jelaskan.


"Tidak seperti itu, Kak, hanya saja aku dan dia terikat sebuah kontrak yang, maaf, aku sungguh tak bisa menjelaskannya secara detail padamu, Kak!" Maureen tetap menutupi, dia tak ingin seorang pun tahu jika dirinya sudah berubah. Dia tak ingin orang menganggap dirinya pura-pura polos.


"Angkatkah, sepertinya sangat penting!" Nick benar-benar merasa terganggu. Walaupun ponsel Maureen tak berbunyi. Getaran merusak suasana mereka.