
Max pura-pura tak mendengar.
"Aku mau ke toilet!" Irene mengulangi ucapannya. Max menolak wajahnya, menghentikan makannya dan beranjak dari duduknya.
Irene bingung, "Kau mau kemana?" kini gadis itu yang bertanya, karena dia tak memberikan jawabannya.
"Mengantarmu ke toilet. Ayo!" sahut Max mengulurkan tangan.
Astaga yang benar saja? Masa kingkong mesum ini mau ikutan ke toilet sih?
Irene masih belum bergerak dari tempat duduknya. Dia masih terkesima dengan tingkah Max yang makin tak bisa dikendalikan.
"Aku bisa sendiri, Max. Ayolah, aku bukan anak kecil." Irene berdiri dia menolak keinginannya.
"Aku tahu kau bukan anak kecil, tapi kau bisa membuat anak kecil. Jadi, aku tidak ingin kau membuat anak kecil atau melirik yang lain. Kau itu hanya bisa membuat anak kecil dengan Max. Hanya Maximinus Mollary saja yang bisa membuat anak kecil dengan-mu. Kau dengar!"
Max berbicara panjang lebar, tapi matanya melirik kearah Nick. Kau pikir aku tidak tahu. Aku pun laki-laki, jadi tahu kalau kau sedang mengincar gorila kecilku sejak tadi.
"Apa sih, Max. Aku kan hanya ingin ke toilet!" Irene mencubit kecil pinggang Max.
Dia sebenarnya sedikit terbuai oleh kata-katanya. Namun, jika mengingat statusnya yang hanya terikat kontrak sebagai selimut penghangat, hatinya menjadi sedih. Bisa saja sekarang hatinya sudah mulai tersentuh oleh setiap perlakuan manisnya.
Tetap saja, dia hanya bertepuk sebelah tangan. Yang dia tahu Max hanya menginginkan dirinya sebagai selimut penghangat, tidak lebih.
"Ayo aku antar. Atau kau mau aku gendong?" tawar Max. Dia sudah membalikkan punggungnya dan berjongkok. Membuat hati gadis itu makin memanas dan ketar ketir sendiri.
Huh, untung kak Shasa dan wanita yang bernama Karina itu tidak melihat. Kalau dia melihat, hah, aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.
Maureen menggeleng pelan. Dia memberanikan diri melirik Nick saat Max sedang berjongkok. Nick terlihat sedih dan menundukkan kepalanya.
Max menggandeng pinggang gorila kecilnya saat ke toilet. Tentu saja diikuti oleh Martin dan beberapa pengawal. Saat Max dan Irene ke toilet, Nick memutuskan untuk meninggalkan restoran. Dia tak ingin terlalu lama menyaksikan hal yang menyakitkan hatinya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" suara bariton Max memecah mereka berdua yang tengah adu gulat jambak-jambakan rambut. Shasa dan Karina masih belum berhenti dari pergulatan mereka.
Seketika mereka berdua berhenti. Tanpa ragu, Karina melompat kepelukan Max. Membuat Irene sedikit menyingkir.
"Kak Max, lihatlah ulah perempuan biang kerok dan kampungan itu. Dia melakukan ini padaku, huhu ... huhuhu." Karina mengadu seperti anak kecil. Mengambil kesempatan memeluk Max dengan erat sambil dengan sengaja dia menggesekkan kedua semangka besar miliknya di dada Max.
Kau tidak mungkin menolak lagi kan kak Max. Seringai licik Karina saat berada dalam dekapan Max. Dia benar-benar menikmati aroma tubuhnya.
"Arghh! Dasar wanita gila!" teriak Max kemudian dia mendorong kasar tubuh Karina hingga tersungkur ke lantai.
Hahaha, apa kubilang, dua semangka-mu itu juga tidak berguna kan? Shasa menyeringai puas saat melihat Karina dihempaskan kasar oleh Max.
Max tanpa ragu membuka kemejanya dan melemparkan di lantai. Tak lama seorang pengawal yang sudah diberikan perintah oleh Martin berlari membawakan kemeja ganti untuknya.
"Cepat selesaikan urusanmu gorila. Aku menunggu disini!" Max berkata dengan eratan giginya penuh penekanan pada Irene. Membuat gadis itu tanpa berpikir dua kali melompat masuk toilet. Menuruti perintahnya.