MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
CEMBURU BUTA



“Hei, kau wanita. Lepaskan tanganmu!” hardik Max. dia sudah berkacak pingang dan memicingkan matanya dengan tajam pada Lola.


“Astaga, Ren. Dia sungguh-sungguh dengan ucapannya?” mereka berdua baru saja turun dari mobil. Lola berkata sambil melingkarkan tangannya di pinggang Irene.


“Heheheh, iya. Dia sungguh-sungguh. Maafkan aku ya, La. Kau seperti harus mulai terbiasa dengan sikapnya itu!” satu cengiran kembali mengalun dari bibir Irene.


“Hah, baiklah. Baiklah. Pergi sana!” Lola mendorong perlahan tubuh temannya itu.


Irene berjalan pelan menghampiri kingkong jeleknya. Namun, laki-laki itu seolah tak sabaran dan melangkah maju lebih dulu meraih pinggang gadisnya, “Awas, setelah ini, jangan coba-coba kau menjauh dariku!” dengus Max. gadis itu hanya menanggapinya dengan senyuman dan tentu saja anggukan malu-malu kucing darinya.


“Kau? Bisa-bisanya, di saat seperti ini pun kau menggodaku!” Max makin gemas. Laki-laki itu sungguh sudah cinta mati padanya.


“Jangan berpikir aneh-aneh, Max. kita sedang di tempat keramainan!” Irene merasa tak enak hati dengan Lola, Martin dan beberapa pengawal yang mengikuti mereka masuk ke gedung pencatatan sipil.


"Cih, aku tak perduli. Kalau perlu kita nikahkan saja temanmu itu dengan Martin!" dengus Max.


"Akh, kau gila. Mana mungkin kau seenaknya saja menikahkan Lola dan Martin. Mereka bahkan tak saling mengenal!" Irene hampir mencekik leher Max saat mendengar ucapan gilanya.


"Cih, kau tak setuju? Jangan bilang kau sedang mulai tebar pesona dengan mereka. Awas saja, sampai kau lakukan bukan hanya kepala mereka yang menjadi jaminan. Tapi, kepalamu pun harus dipersiapkan!" Cetus Max. Dia persis seperti laki-laki gila yang sedang cemburu buta.


"Kau jangan gila, Max. Sapu otakmu dulu biar bersih, Max. Jangan asal menuduh!"


"Ow, kau sedang menantangku. Bisa-bisanya ..." Max tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lola dan Kartu secara bergantian.


"Hei, Martin!" Max berkata dengan penuh penekanan.


"Iya, Tuan!"


"Me-menikah, Tuan!" Gendang telinga Martin serasa pecah. Tuannya menyuruhnya menikah, sedangkan dirinya tak pernah menjalan hubungan dengan wanita manapun. Jadi, perintah tuannya kali ini terasa berat dan sulit.


"Apa telingamu sudah tak beres, hah?"


"Ma-maaf, Tuan. Tapi, saya belum memiliki calon. Apa tidak sebaiknya," Namun, delikan mata dari Max lebih menakutkan dibanding dengan perintahnya yang baru saja dicetuskan tuannya.


"Siapa bilang tidak ada calon. Kau bisa menikah wanita disebelahmu itu!" Sontak kini mata Lola yang membulat lebar. Boro-boro memikirkan pernikahan. Baginya sekarang, dia ingin menggapai cita-cita. Apalagi, sudah dapat durian runtuh dari Max.


"Ti-tidak. Aku tidak mau. Siapa dia? Aku bahkan tak mengenal apapun tentangnya. Aku juga tak mau sembarangan menikah. Aku masih punya cita-cita yang ingin kuraih!" Spontan Lola menjawab dan menolak mentah-mentah ucapan Max.


"Cih, kau pikir aku sudi menikah denganmu. Kalau bukan perintah dari Tuan Max, aku pun tidak akan mau menikahimu!" Seperti tersulut api, tiba-tiba Martin yang pendiam pun membalas penolakan Lola.


Dasar wanita tak pemilih. Memangnya aku ini benar-benar tak pantas menjadi calon suamimu.


Sewot Martin tiba-tiba. Tatapannya garang. Mereka berdua lebih mirip Tom and Jerry saat berhadapan.


Apa-apaan dia. Dia, pikir, dia siapa? Seenaknya menolakku. Ya walaupun aku tak cantik-cantik amat. Tapi, aku juga manis seperti Irene. Dan wajahnya, ya, lumayanlah, tidak jelek-jelek amat.


Lola yang tanpa sadar meneliti dari rambut hingga ujung kaki Martin.


Berani sekali dia menatapku seperti itu. Apa matanya itu perlu ku cungkil?


Delik Martin makin membara. Tanpa mereka sadar suasananya sudah seperti dalam arena ring tinju.