
Max menurunkan gadis itu diranjangnya perlahan, “Masih sakit?” ucapnya melembut. Tangannya memeriksa kembali jidat dan bibir gadis itu yang benjut.
“Uhm, masih sedikit sakit!” keluhnya menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang.
“Kenapa kau melakukan hal sebodoh itu dan turun tangan sendiri, hah?” delik Max. Namun, suara kembali merendah saat melihat wajah gadisnya.
“Sudah jangan menyalahkanku lagi. Mana aku tahu dia akan muncul dihadapanku. Kalau tahu dia akan datang, aku pasti bersembunyi lebih dulu,” cetusnya masih berkerucut bibir. Kesal dengan pertanyaan dari Max.
“Bersembunyi katamu? Apa aku tidak salah mendengar. Kau ini adalah wanita Maximus Mollary mana pantas diperlakukan seperti tadi!” Max berkata sambil mondar mandir dan berkacak pinggang.
Wanita Maximus Mollary? Kau pikir aku bangga dengan julukan itu. Karena aku mendapat julukan itu Shasa mengicarku.
Maureen memutarkan bola matanya. Masih tidak suka dengan perkataan yang mengalir seperti air dari mulut Max.
“Kenapa? Kau masih saja tidak bisa menerima kenyataan, hah?” dengusnya kesal menyadari gadisnya bertingkah seolah mengejek.
“Memangnya aku bersuara? Kau saja yang ambekan seperti anak bayi,” cibirnya tak mau kalah dengan umpatan Max.
“Kau!” delik Max, tapi terdengar pintu kamarnya diketuk. Max menghampiri dan membukanya.
“Ada apa?” semprotnya kasar. Martin yang berada di ambang pintu memundurkan tubuhnya.
“Maaf Tuan, ini obat yang tuan Adolf resepkan.” Martin memberikan sekantung obat.
“Sudah pergi sana!” usirnya dan membanting pintunya dengan kasar. Kalau Martin tidak mundur dengan cepat, mungkin wajahnya akan jadi sasaran empuk dicium oleh pintu.
Max membalikan tubuhnya dan melihat gadisnya sudah menarik selimut. Menutupi seluruh tubuhnya.
“Hah, bisa-bisa dia meninggalkanku tidur,” gerutu Max, tapi sedetik kemudian dia membuang nafasnya. Dia duduk dipinggir ranjangnya.
“Hei, hei,” Max menarik-narik selimut yang menutupinya.
“Uhm,” sahut Maureen dari balik selimutnya.
“Minum obatnya dulu,” ucapnya.
Maureen menyibakkan selimutnya, “Kenapa sih kau panggil aku, hei, hei. Aku kan punya nama tahu!” dengusnya sambil meraih gelas dan obat yang diberikan Max padanya.
“Oh ya,” sahutnya datar.
“Ter-se-rah!” dia memberikan gelas kosongnya. Menarik lagi selimut dan segera menutupinya.
“Dengar, hari ini dan maximal tiga hari kedepan kau selamat. Setelah itu banyak-banyak berdo’alah!” cetusnya. Maureen hanya menjawabnya dengan dengkuran keras. Persis seperti gorila yang sedang mengorok.
Aku lega kau tidak terluka parah, sayang. Bersabarlah. Aku pastikan mereka membayarnya dua kali lipat.
Max mengepalkan kedua tanganya dengan erat. Eratan giginya terdengar dengan jelas, tapi
tatapannya tetap melembut saat melihat gadis itu tertidur.
***
“Kau kenapa, Shaha?” Wina segara menghampiri putrinya yang pulang dengan baju compang camping
dengan benjut yang sama seperti Maureen dipipi dan ujung bibirnya. Wajahnya bengkak parah seperti orang yang alergi makanan.
“Mama, huhuhu!” dia melompat kepelukan Wina. Merajuk. Meraung seperti orok yang minta susu.
“Apa yang terjadi? Siapa yang berani melakukan ini? Berani sekali dia melakukan pada putriku yang cantik!” ucap Wina, memeriksa kondisi wajah lebam anaknya.
Empat orang pria berpakaian preman. Tubuh besar dan berotot dengan tato menyeramkan di tubuh mereka. Mereka masing-masing membawa tongkat bisbol yang ditaruh dipundaknya. Seolah mereka siap menghajar siapapun yang menghalangi mereka.
“Si-siapa kalian?” Wina berdiri dan berkacak pinggang dihadapan mereka.
“Cih, wanita sampah! Bereskan!” peintah dari salah satu preman tadi.
“Apa kau bilang? Sa-sampah?” Wina membulatkan matanya. Dia melangkah maju dengan berani tanpa rasa takut.
“Cih, berani juga nih nenek lampir, Bos!” celetuk salah satu dari mereka lagi. dia sudah tak sabar sambil menutar-mutar tongkat bisbolnya.
“Apa kau bi—,” lagi Wina menbulatkan matanya. Namun, satu tamparan keras membuatnya tersungkur di lantai.
“Ma-Mama,” pekik Shasa. Dia pun panik. Segera menghampiri dan membantu ibunya. Mereka saling berpelukan seperti teletabis.
“Nenek lampir dan anaknya, bos. Enaknya kita apain?” satu orang dari mereka sudah berjongkok. Menghampiri ibu dan anak yang ketakutan. Dia, mencengkram kasar wajah Wina.
Bos preman itu melirik mereka secara bergantian. Sambil mengerakan kepala dan tongkat bisbolnya.
“Argh, jangan sentuh. Awas saja kalau kalian berani. Aku lapor polisi!” teriak Shasa lebih dulu.
“Cih!” orang yang berjongkok tadi meludah dihadapan mereka.
“Memangnya kau berharga? Dari penampilanmu saja sudah kelihatan!” orang tadi berusaha menyentuh Shasa. Namun, gadis itu makin kejar berteriak histeris.
“Hancurkan semua barang-barang yang ada dirumah ini saja dulu. Setelah itu kita urus sisanya!” perintah bos preman. Menbuat mata Wina membulat lebar kembali.
Dan, sedetik kemudian, dengan aba-aba tangan dari bos preman, mereka mulai menghancurkan semua barang yang dilihatnya.
“Argh! Argh!” yang terdengar kemudian hanya teriakan dari Wina dan Shasa ketika melihat guci, pajangan, lemari, piring semua sudah melayang dan hancur berserakan di lantai.
“Huhuhu, Mama, siapa mereka? Kenapa mereka menghancurkan rumah kita!” Shasa berkata dengan tangisannya yang meleleh.
“Huhuhu, mana Mama tahu, sayang. Seingat Mama, papa tidak punya hutang sama rentenir. Hutang papa kemarin kan sudah dilunasi,” Wina berkata sama terisak dengan anaknya.
“Aneh banget sih Ma, jangan-jangan papa ngutang diam-diam dan kita tidak tahu!” pikiran yang terlintas dibenak Shasa.
“Sudah beres semua, Bos. Tidak ada yang kami sisakan!” cetus satu orang memberikan laporan dan diekori kedua temannya dengan wajah mereka yang penuh dengan peluh.
“Bagus! Bagus!” Bos preman melirik kembali keduanya. Mereka sudah terlihat pucat dan tak berani lagi berkata. Mereka takut, saat melakukan protes wajah mereka berdua menjadi sasaran empuknya.
“Ta-pi, bos,” ucapnya. Wina dan Shasa seolah tercekik, mereka masih membayangkan barang apa yang akan mereka hancurkan.
“Apa?” dia menaikan rahangnya.
“Dua mobil di depan, belum kita hancurkan!” cetusnya.
“TIDAAKKK!!” mereka berdua menggeleng mantap dan segera melompat ke bos preman. Wina dan Shasa memegangi kaki bos preman tadi.
“Ja-jangan, Bos! Itu Mini Cooper keluaran terbaru. Jangan dihancurkan, huhuhu!” ucap Shasa.
Mereka berdua merengek. Apapun akan mereka lakukan agar kedua mobil baru yang belum lama dia naiki selamat.
“Ck, ck, ck. Benar-benar keluarga sampah. Pantas saja bos besar menyuruh kita memberi pelajaran!” ucap bos preman tadi.
“Bo-bos besar kata kalian? Si-siapa dia?” Wina mendangakkan wajahnya. Dia sangat penasaran dengan orang yang menyuruhnya menghancurkan rumah.