MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
LAHAR PANAS



Gadis itu hanya melirik satu kali. Dia, tak berani lagi meliriknya. Takut kena semprot lahar panas dari mulut Max.


“Sudah selesai?” Max berkata cepat saat gadis itu meletakan sendok dan garpunya. Dia, terlihat tak sabar. Dia pun mengangguk cepat dua kali.


“Ayo!” ucap Max. Dia berdiri dan membalikkan punggungnya. Maureen pun melompat tanpa ragu ke punggungnya. Membuat semua pasang mata menggeleng kuat melihat tingkahnya.


“Aku mau sorbet strawberry campur blueberry, Max!” pinta gadis itu.


Max melayangkan pandangannya pada Berto, “Kau dengar kan apa yang dia minta!” dengus Max. Berto mengangguk kuat.


“Buatkan dan jangan lama-lama!” cetusnya lagi.


“Uhm, satu lagi, Berto, tambahannya lagi buatkan aku waffle chomaltine lalu taruh sorbet tadi diatasnya,” lanjutnya.


“Baik Nona, saya akan buatkan sesuai permintaan anda. Apa ada lagi tambahannya?” Berto bertanya sambil menatap gadis itu. Menyakinkan dan tak ingin melakukan kesalahan. Namun, dehaman keras keluar dari mulut tuannya.


“Ma-maaf, Tuan.” Berto langsung menundukan wajahnya.


“Sekali lagi kau tatap, kucungkil matamu itu!” Max menaikan rahangnya dengan kasar.


“Ba-baik, Tuan. Maaf!” dia terus menbungkuk meminta maaf.


“Jangan marah lagi. Aku belum selesai nih dengan tambahannya,” kata Maureen dari balik punggungnya.


“Cih, apakah kau ini benar-benar jelamaan wanita gorila? Sudah makan begitu banyak masih saja kurang.” Max menolehkan wajahnya.


“Ya sudah, kalau tidak boleh!” gadis itu mode on pura-pura ngambek dan membenamkan kepalanya di punggung Max.


“Cih! Buatkan semua yang dia minta, Berto. Dan antarkan ke kamarku segera!” dengus Max.


Maureen tersenyum memenangkan pertempuran barusan, “Jangan lupa tambahannya lagi, mie goreng double super pedas dengan berbagai extra toping super banyak!” Maureen memberikan sederet gigi putihnya ketika Max menoleh padanya lagi.


Huh, tubuh kecil, perutnya benar-benar seperti gorila. Umpat Max dengan gelengan kuat dikepalanya.


Max berjalan meninggalkan mereka. Bahkan mereka baru sadar kalau tuannya berjalan tanpa mengenakan alas kaki.


Seorang tuan bagi mereka yang selalu mementingkan kebersihan. Bahkan sangat gila dengan kebersihan. Semua harus semprot sana sini disekpetan agar tidak ada kuman kecil yang menempel.


Tapi, saat ini tuannya menggendong gadis itu, dengan penampilan dekil dan kotor. Belum mandi dari sore. Makanpun sudah dua kali, dengan super extra tambahannya.


Tuannya tanpa rasa jijik ataupun risih menggendong gadis itu tanpa takut tertempel kuman.


“Tunggu sebentar!”


Max menurunkan gadisnya perlahan. Dia mulai menyalakan air dan mengatur suhu dengan tangannya. Begitu teliti sampai gadis itu menatapnya dengan takjub. Perlakuan kecil dan manisnya itu membuat Irene terbang.


Ya ampun, apa dia masih laki-laki arogan itu? Benar-benar membuatku tersanjung. Siapapun wanita yang diperlakukannya seperti itu pasti akan jatuh cinta. Hah, sayangnya aku tak seberuntung itu. Hubungan kami ini hanya secarik kontrak, yang entah kapan kontrak itu akan berakhir. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


Gadis itu menghela nafas panjangnya. Sedetik hatinya hangat. Wajahnya memerah dan jantungnya penuh dengan debaran yang tak bisa dia ungkapkan. Mungkinkah gadis itu sudah menyelipkan namanya dihati?


“Sudah. Perlu aku bantu?” Max berkata melangkah mendekatinya yang masih tersipu dengan tingkah Max tadi.


Max menatap lekat wajah gadisnya yang tak bergeming dengan pertanyaannya tadi, “Hei!” Max mencubit pipi chubbynya.


“Aw!” gadis itu tersadar sambil mengkrejamkan kedua matanya.


“Apa sih? Jahil saja deh!” ketusnya. Lagi-lagi sudut bibirnya membentuk kerucut.


“Mau aku bantu buka baju!” lagi Max berkata, sedetik diapun tersenyum melihat tingkah menggemaskan gadisnya. Dia tahu, gadis itu memperhatikan setiap gerak geriknya.


“A-ah, ti-tidak. Kau keluar saja.” Maureen kalang kabut dengan wajahnya yang masih memerah.


“Baik, aku tunggu diluar. Jika kau perlu bantuan, panggil aku. Aku tidak akan jauh-jauh darimu.”


Dia mendekatkan wajahnya. Tersenyum menggoda. Berbisik lirih ditelinga gadis itu. Lalu keluar dengan cepat.


Hahhh, aku bisa gila. Kenapa sih wajahnya makin tampan setiap hari. Irene bodoh. Berpikirlah dengan normal. Buang jauh semua. Dia itu membelimu dan hanya menginginkan tubuhmu itu. Maureen kesal sendiri dan tubuhnya lunglai di lantai.


Hurf, tahan Max. Mulai sekarang jangan memaksanya lagi. biarkan perlahan hati gadis itu terbuka sendiri. Kau tak ingi dia terus-terusan mengeluarkan umpatan kan?


Max membenamkan punggungnya dibalik pintu kamar mandi. Debaran dijantungnya pun sudah tak karuan. Seakan mau melompat dengan sendiri. Benar-benar membuatnya gila.


Max tahu dengan sikap arogan dan gila kebersihannya itu, tak akan ada gadis yang mudah berdekatan dengannya. Tapi, tubuh dan jiwanya sekarang seperti kutub magnet. Selalu ingin menempel dengan gadis itu.


Brukk! Max melompat masuk saat mendengar suara tadi. Dan, matanya membulat lebar saat melihat gadisnya terjungkil di bathrob dengan peralatan mandi yang berserakan didalamnya.


Dia membuang nafasnya panjang. Ingin marah. Namun, saat melihat gadis itu meringis kembali dia tak tega.


“Kau benar-benar gorila pembuat onar!” Max menarik handuk dan mengangkat tubuh gadisnya, membalutkannya di tubuh.


“Ma-maaf Max, tanganku terpeleset tadi!” Irene berkata.


“Hah, alasan saja. Mana ada tangan terpeleset. Kau itu memang ceroboh dan pembuat onar! Aku baru meninggalkan sedetik saja kau sudah seperti itu,” cetus Max kecut. Namun, tangannya menggedong Iren ala pengantin baru keluar dari kamar mandi.


Max membuka lemari bajunya. Saat ini belum ada pakaian wanita dikamarnya. Dia, mengambil satu kemeja miliknya dan melemparkan tepat di wajah gadis itu.


“Pakai itu dulu. Semua barangmu kemarin masih berada di apartemen yang kusewa. Akan akan segera menyuruh Martin mengambilnya. Jadi bersabarlah.”


Jelas dan tegas laki-laki itu memberi perintah. Membuat gadis itu tak bisa menolak ataupun menyangkal semua ucapan yang keluar dari mulutnya.


“Kenapa kau tidak menagntarkanku kesana saja sih. Repot banget sampai harus menyuruh bawahanmu itu mengambil.” Iren berkata seperti berkumur-kumur. Suaranya hampir tak terdengar oleh Max. Tangannya membuka handuk dan memakai kemeja yang dilemparkan ke wajahnya tadi.


“Apa kau bilang?” kembali Max berang dengan ucapannya.


“Iya, iya. Aku salah bicara!” gadis itu menarik selimutnya kembali dan membiarkan handuk basahnya tergolek begitu saja di lantai.


“Kau!” teriak Max bertepatan dengan pintu kamarnya yang diketuk.


Max menghempaskan kasar langkahnya mendekati pintu. Wajah muramnya membuat Berto bergidig.


“Ma-maaf, Tuan. Pesananan nona Maureen sudah siap!” ucapnya mendorong pelan kereta dorongnya, masuk ke kamar tuannya.


Berto sempat melirik keberadaan gadis itu yang tak terlihat.


“Ada apa lagi? Lehermu itu sudah tak mau berada disana!” Max berkata ketus. Membuat Berto menelan ludahnya karena berangan tuannya.


“Ti-tidak, Tuan. Kalau begitu saya keluar dulu!” Berto keluar sambil mengelus dadanya. Kedua tangannya memeganggi kepala. Dia membayangkan kepalanya sudah tak berrada di tempatnya. Bergidig ngeri mengambil langkah seribu dari kamar tuannya.


Berto. Berto. Harusnya kau bisa mengendalikan diri. Kendalikan matamu itu. Jangan menatapnya lagi kalau kau mau selamat.


“Hei, gorila rakus. Makananmu sudah datang.” Max mengoyangkan tubuh gadisnya yang tertutup selimut.


“Makananku, asyikk!” gadis itu segera menyibak selimutnya. Mata langsung tertuju pada kereta dorong di samping tubuh Max.


“Kau semangat sekali. Apa aku lebih penting dari makananmu itu!” gadis itu bersiap akan melompat, tapi ketika dengusan Max mulai beraksi, dia hanya menunjukan sudut bibirnya lagi membentuk kerucut.


Opss, laki-laki itu ya, tetap sama tidak mau kalah bersaing dengan makananku.


Irene memutar otaknya agar dia mengapai kereta dorong makanan itu. Tapi, berkali diputar otaknya tak berfungsi jika harus bersaing dengan makanan.


Argh, gimana nih ... waffel chomaltine sorbet strawberry bluebery-ku. Mereka akan tambah lumer kalau tidak segera aku eksekusi. Dan lagi mie goreng pedas extra toping itu sudah menggoda lidahku. Pikiran Irene. Mungkin air liurnya akan segera tumpah kalau tidak cepat dilaksanakan.


Brukk! Max yang geram melihat tingkah gadis itu saat menatap makanan menariknya ke pangkuannya.


“Kau boleh memakannya. Asal, setiap suapan yang masuk ke mulutmu itu ...,” sambil berkata tangan Max bermain dibibir mungil gadis itu yang masih benjut.


Irene menautkan alisnya, “Satu suapan untuk satu ciuman dari bibir mungilmu itu, sayang ...,” tubuh Irene bergidig. Meremang saat mendengar perkataan terakhir Max.