
"Iya sih, Ren. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku kepepet. Aku tidak mau rencana kita tadi gagal. Setidaknya kau harus bisa memanfaatkan peluang. Dan, peluangmu sudah terbuka!" Lola mengingatkan dirinya kembali pada misi yang sempat mereka bahas.
"Hurf, iya, La. Aku paham, aku akan mencoba berbicara dengannya nanti malam. Aku ingin meminta solusi padanya!" Cetusnya mantap. Irene sudah membulatkan tekad dan akan menyusun rencana balas dendam.
"Arrrggghhh! Aku bisa gila. Martin, kau sudah lihat kan? Aku sudah menikah dengannya sekarang? Aku, Maximus Mollary sekarang suami dari Maureen Aditama. Hahaahh!" Max berkata sambil menciumi dua buku legalnya tadi dan tertawa dengan penuh kegembiraan.
Martin bergidik ngeri melihat tingkah tuannya yang persis seperti anak-anak. Meliak-liukan tubuhnya. Berjoget seperti cacing kepanasan tanpa adanya musik di mobil itu.
Ah, ini rupanya. Alasan kenapa tuan bergegas meninggalkan Nyonya. Tuan tak ingin sampai Nyonya tahu sikap Tuan yang memalukan seperti ini.
Martin yang mengerti dengan tingkah kekanak-kanakan tuannya.
Haduh, cinta memang bisa membuat orang jadi gila. Jangan sampai deh aku ketularan virusnya tuan.
"Kita langsung ke kantor, Martin!" Max mendadak berhenti berjoget sendiri saat menyadari tatapan aneh dari bawahannya tadi.
"Baik Tuan!"
***
"Kau jangan berbohong padaku, Clara?" Karina yang sudah berteriak di depan meja kerja Clara.
"Saya tidak berbohong, Nona Karina, Tuan Max memang belum datang!" Clara mencoba menjelaskan bahwa bosnya belum datang. Dan, Karina tetap memaksa ingin masuk ke ruangannya.
Tidak mungkin kak Max belum datang. Ini sudah jam 11. Aku yakin, kau sedang berbohong padaku, kan?" Karina yang berang dan beranggapan Max berada dikantor menarik kerah baju Clara dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan, hah? Sudah kubilang, jika tak ada kepentingan mendesak, kau tidak diperbolehkan datang ke kantor ini. Atau kau masih berpikir aku main-main denganmu!" suara khas bariton milik Max menggema dibelakangnya.
Karina segera menurunkan tangannya dan berbalik. Dia segera memasang wajah sendunya ketika berhadapan dengan laki-laki yang sedang diburunya.
"Maafkan aku, Kak Max. Aku pikir dia berbohong dan menyembunyikan dirimu di dalam ruangan!" Karina memasang wajah memelasnya. Berharap mendapatkan simpati dari Max.
"Martin, setelah dia pergi. Buat blacklist atas namanya. Aku sudah tidak ingin ada orang yang tak berkepentingan datang dan mengacau di kantor ini!"
Sakit terasa menghujam di jantung Karina. Dia tak akan mengira kalau laki-laki buruannya akan memperlakukan dirinya seperti tak ada harganya.
"Aku mohon Kak Max, jangan seperti itu padaku, huhuhu! Aku hanya ingin bertemu denganmu saja. Apa itu pun salah? Aku datang kepadamu hari ini untuk mengingatkan hari peringatan kematian kak Shareen. Kakak Max, pasti sudah lama sekali tak mengunjunginya bukan?"
Pupil Max bergerak cepat. Tubuhnya bergetar. Eratan dan kepalan ditangannya berbunyi hingga ke telinga Karina.
"Sudah aku bilang, jangan bahas apapun lagi tentangnya. Aku bahkan tak sudi untuk mengingat wanita kotor sepertinya!" Teriak Max. Membuat tubuh Karina mundur.
Apa benar-benar kak Max sudah sangat membenci kak Shareen? Lalu bagaimana dengan nasibku. Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak akan membiarkannya. Aku tidak mau kehilangan Kak Max begitu saja.
Karina mengigit kukunya sendiri. Tatapannya berubah suram. Setelah berteriak padanya, Max segera membanting pintu ruangannya dengan kasar.
Ini semua pasti karena wanita rubah itu. Dia sudah menggoyangkan ekornya, menggoda kak Max hingga seperti ini. Sepertinya tak ada pilihan lain, supaya Kak Max kembali menatapku, aku harus melenyapkan wanita itu dari hidup Kak Max.