
"Aku yang akan berbicara dengan keluargaku, asalkan kau setuju. Aku akan mengatur segalanya!" tambah Nick kemudian.
"Apa yang akan kau bicarakan dengan mereka, Kak Nick? Walaupun ini kesepakatan kita berdua, aku tetap tidak mau namaku jelek dihadapan keluargamu!" Shasa mengajukan syarat yang membuat Nick sedikit tertekan.
Nick memang berencana akan memberitahu keluarganya kalau mereka tidak cocok karena Shasa sudah memiliki orang yang disukai. Tapi, kali ini, rencananya tak bisa dia pakai.
"Tadinya aku berpikir, ya, memang aku akan berbicara dengan keluargaku, kalau kau memiliki orang yang disukai lebih dari aku! Tapi, sekarang sepertinya aku sudah tak bisa memberikan alasan itu!" Nick mengutarakan semua maksudnya.
"Kenapa tidak kita balikan situasi saja, Kak?" Otak Shasa sudah berputar dengan suatu rencana.
"Maksudnya?"
"Ya, kenapa tidak aku saja yang memergoki Kakak sedang bersama dengan wanita lain. Dan, aku akan berbicara langsung dengan keluargamu, kalau kakak yang menghianatiku, lalu aku tidak mau melanjutkan pertunangan kita!" Shasa dengan ide gilanya yang selalu ingin menang sendiri.
Nick berpikir sejanak. Memang tak ada masalah. Mau siapapun yang akan dijadikan dalam kambing hitam drama mereka, toh hasil akhir yang ingin mereka ingin capai adalah pembatalan pertunangan.
"Beri aku waktu satu hari untuk berpikir. Kalau aku rasa idenya tak buruk, kita bisa menjalankan rencana ini!" Nick pun tak ingin berbasa-basi. Dia ingin segera menyusun rencananya dengan matang.
"Apa Kak Nick melakukan ini semua demi adik tiriku?" Shasa melontarkan pertanyaan yang tak mungkin di hindarinya. Nick menatapnya sesaat.
"Aku rasa kau tak punya hak untuk ikut campur dalam urusan pribadiku. Yang terpenting, rencana kita berjalan dengan baik!" Nick menolak menjawab dan menjelaskannya. Dia tak ingin jika Maureen dibawa-bawa dalam masalah ini.
Huh, dasar adik tiri kurang ajar. Kemana pun aku melangkah, selalu saja ada dirimu. Kau memang bantu sandungan terbesarku. Lihat saja, aku akan merebut apapun yang kau miliki sekarang.
Shasa mengepalkan kedua tangannya. Rasa benci dan egois sudah menguasainya.
***
"Max, aku akan keluar lagi dengan Lola, bolehkan?" gadis itu merayu saat dia sedang memakaikan dasi untuknya.
"Cih, kemarin kau sudah sehari. Apa hari ini juga kau akan meninggalkanku?" Max protes. Hari ini dia ingin seharian bersama istrinya. Walaupun dia hanya duduk manis menemani saat aktivitasnya di kantor.
"Ayolah, Max. Boleh ya, aku kan malamnya tetap pulang!" setelah dasi di pakaikan. Gadis itu tak memiliki cara lain selain merayunya.
"Tidak. Aku tidak akan izinkan. Hari ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat!" Max bersikeras dengan keinginanny.
"Tapi, Max. Hari ini, aku terlanjur berjanji dengan Lola. Aku berjanji tidak akan melakukan yang aneh-aneh!" Gorila kecilnya mengangkat kedua jarinya. Mengacungkan suerr. Mengikrar janji pada kingkong jeleknya.
"Aku tidak peduli!" Max mengacuhkannya dan keluar dari kamar mereka setelah dasinya terpasang.
"Waktumu hanya 15 menit untuk mengganti baju!" Teriak Max dari luar kamar mereka.
Arrrggghhh. Dasar kingkong jelek. Dia benar-benar cocok dijuluki sebagai suami killer. Tentu saja itu suamimu, Maureen.
Irene berkerut bibir saat duduk di meja makan. Bahkan saat menyuapkan sendok ke mulutnya saja terlihat tak bernafsu. Max terus memindainya.
Ck, ck, apa perlu dia menunjukkan wajah tidak sukanya saat bersamaku. Dia ini satu-satunya wanita yang bersikap berani terhadapku. Tapi, karena itulah aku menyukainya. Meski di awal dia terlihat lemah. Sekarang aku sudah banyak melihat perubahannya.
"Sudah, Tuan. Anda bisa berangkat kapanpun!" saat mendengar perkataan Martin, gadis itu pasti ada yang sedang direncanakan oleh kingkong jeleknya.
Cih, main sembunyi-sembunyian. Dia pikir aku akan penasaran?
Irene mendorong kursinya lebih dulu. Dan berjalan lebih dulu masuk ke mobil yang sudah menantinya di pekarangan.
Aku memang tidak menyesal menikah dengannya. Apapun yang kuminta pasti dia akan nenuruti. Tapi, kalau seperti ini, aku juga merasa seperti di sangkar emas. Hah, sudahlah, Irene. Ini kan pilihan kepepetmu, andai saja saat itu kau tak ketahuan sedang membawa alat kontrasepsi. Tidak mungkin hari ini kau sudah menikah dengannya.
Saat Max masuk, tubuhnya sudah di tarik mendekat, "Kau mau sudah bosan hidup? Suka sekali kau menjauh dariku?" Peringatan kecil yang langsung diberikan oleh Max.
"Ya ampun, Max. Aku kan ada disini. Tidak kemana-mana. Masih saja kau protes kalau aku menjauhimu!" sahut Irene ketus. Dia mencoba bergerak dan melepaskan tangan Max yang sudah melingkar di pinggangnya.
"Lalu kalau kau tidak menjauhiku, itu apa?" Max tak mau kalah memberikan tekanan padanya gorila kecilnya.
"Aku begah, Max. Habis makan. Perutku terisi penuh!" Irene tetap berkelit saking tidak inginnya dia di peluk oleh Max.
"Hah, sekarang kau makin pintar mencari alasan. Apa kau sudah melupakan hukuman yang akan ku berikan kalau kau menjauhiku!" Max berbisik penuh penekan.
"Hukuman saja yang kau pikirkan. Memang tidak ada hal lainnya? Bosan aku mendengar kau mengatakan hal serupa!" Mungkin otak Irene sedang konslet hingga punya keberanian seperti itu.
"Kau, memang benar-benar gorila kecil yang makin nakal!" Dan tubuhnya kini sudah berpindah ke pangkuan Max.
"Hihhh, kau ya. Dasar kingkong jelek. Ini masih pagi. Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak mau melakukannya di mobi lagi?" Max mengacuhkan semua teriakannya.
Gadis itu terus bergerak dan mencoba turun. Tapi, tiba-tiba Max mencengkram pinggangnya dengan kuat, "Terus saja kau bergerak. Aku tidak akan bertanggung jawab kalau kau sampai membangunkan belut listrik-ku. Setelah dia bangun. Kau rasakan sendiri sensasi sengatannya!" Max menatap wajah gorila kecilnya dengan serius. Sambil menaikan satu sudut bibirnya dengan kecut.
"Apa? Apa kau bilang barusan? Belut listrik? Sejak kapan kau memelihara belut listrik? Jangan mengadi-ngadi. Kalau berbohong pun harus ada logikanya dong! Aku belum pernah sekali pun melihat belut listrik seperti apa?" Jawaban yang membuat hati kecil Max terkekeh geli. Polos dan penuh makan.
Hah, dia ini pura-pura tidak tahu? Atau memang sedang menggodaku?
"Yakin, kau belum pernah melihat belut listrik-ku? Atau sedikitpun kau tak pernah merasakan tersengat olehnya?" Goda Max makin menjadi.
"Yakinlah. Melihat saja belum pernah apalagi tersengat olehnya!" Polos dan penuh keyakinan gorila kecilnya berkata.
"Kau penasaran tidak? Ingin melihat atau menyentuhnya?" Lagi Max terkekeh dihatinya. Saat gorila kecilnya mengangguk. Dia benar-benar tak mengira gorila kecilnya begitu polos dan bodoh.
Kini cengkraman tangannya mengendur dan berpindah ke bibir gorila kecilnya. Tangan dinginnya bermain di bibir gadis itu. Entah kenapa saat tangannya menyentuh bibir saja sudah membuat sesuatu yang tersengat di hatinya.
Apa ini? Apa maksud dari kata-katanya? Apa jangan-jangan belut listrik yang dia maksud adalah....
Mata Irene membulat, saat satu jari Max masuk ke bibirnya. Dan, dia membimbing tangan Irene kearah sesuatu yang sudah mengeras.
"Max!" Terlambat gadis itu berteriak. Max sudah menutup ke kursi kemudi, dan sesuatu yang hangat sudah mengalun indah di dalam sana.