
Brakk!
Pintu ruangan pertemuan Maureen ditendang oleh Max. Dia berjalan masuk kedalam ruangan yang terlihat riuh oleh keluarga Prakoso yang terlihat marah.
"Cari siapa pelakunya. Aku ingin dia pun merasakan hal yang anakku rasakan!" ucap ayah Bima yang geram saat melihat kondisi anaknya. Anaknya ditemukan terkapar di lantai dengan kondisi tangan dan kakinya sudah patah dan beberapa luka disekujur tubuhnya.
"Jadi, kau ingin membalas dendam denganku!" Max berkata dengan sakras. Rahangnya mengeras menatap semua orang. Dia, menatap suram semua orang dalam pertempuran keluarga itu.
Shasa terlihat mengenali Max dan segera menghampiri, "Se-selamat malam Tuan Maximus," sapanya.
Maureen hanya menatap kelakuan kakaknya. Dia, terlihat sangat antusias dan bersemangat saat melihat Max.
Dia, benar-benar tampan dan wow tubuhnya pasti sangat kekar. Batin picik Shasa.
Shasa sudah seperti siluman ular, bersiap dan mencari perhatian. Dia sampai lupa kalau tadi sedang bergelayut manja di lengan Nick.
Max mengabaikan wanita itu, dia menatap garang Shasa dan membuat wanita itu memundurkan tubuhnya.
Martin memberikan kursi untuk tuannya. Dia kembali menatap keluarga Prakoso dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Darimana saja kau, Maureen? Apa yang sebenarnya terjadi?" Wina, ibu Shasa menarik lengan anak tirinya. Dia terlihat mencengkram tangan Maureen dengan kasar.
Wina terlihat marah karena secara tidak langsung keluarga Prakoso menyalahkan keluarganya.
"Akh, sakit Ma, a-aku dari toilet!" Maureen memekik menahan rasa di lengannya.
Mata Max langsung memicing tajam. Dia tidak menyukai perilaku kasar ibu tiri Maureen. Baginya, hanya dia saja yang boleh bersikap seenaknya kepada gadis itu.
"Toilet? Kau jangan berbohong Maureen, mana mungkin kau ke toilet begitu lama. Katakan dengan jujur, apa yang kau lakukan terhadap Bima?" Wina dengan sengaja menumpahkan semua kesalahan pada anak tirinya.
Prakoso segera menghampirimu Maureen dan mencengkram tangan gadis itu dengan kasar, "Kau pelakunya? Hah? Katakan!" Prakoso berubah penuh kemurkaan pada Maureen.
Cih, mereka semua benar-benar sedang cari mati denganku.
"Tidak, Tuan, sungguh. Bukan aku pelakunya. Aku tidak melakukan apapun padanya, percayalah!" gadis itu mencoba memberikan keyakinan pada semua pasang mata yang sedang menatapnya penuh curiga.
"Tidak ada saksi, tidak ada bukti, hah. Kau masih saja membohongi kami, Johan, aku batalkan pertunangan anak kita. Aku tidak ingin mempunyai calon menantu yang kasar dan liar seperti anakmu ini!" Prakoso berkata dengan kasar dan mendorong tubuh gadis itu hingga dia tersungkur di lantai.
"Percaya padaku, Pah. Aku sungguh tak melakukan apapun!" tegas Maureen. Tetap berusaha menyakinkan semua orang.
Dia ingin sekali melayangkan pandangannya pada Max. Namun, dia tepis. Bahkan ucapan Max saat memasuki ruangan pun tak ada yang menyadarinya. Sekali pun Maureen mengelak, tetap saja dia akan menjadi sasaran yang disalahkan mereka.
"Aku mohon Tuan Prakoso, semua bisa dibicarakan lagi. Ini pasti salah faham, putriku pasti tidak akan melakukan hal sekasar itu!" Johan berusaha membujuk keluarga Prakoso.
Namun, "Aku tidak perduli dia pelakunya atau bukan. Yang aku inginkan putrimu itu sekarang bertanggung jawab. Aku akan layangkan gugatan untuk membuat putri membusuk di penjara!" Prakoso yang tak bisa mendengarkan apapun penjelasan.
Satu senyuman licik muncul di wajah Shsa, dia merasa semua yang dia rencana berhasil. Karena ada tangan lain yang memberikan pembalasannya.
Kau rasakan sendiri Maureen. Kau akan di penjara. Aku harap kau membusuk selamanya disana.
Brakk!!
Max menendang meja makan hingga seluruh isi dalam meja berserakan di lantai.
"Apa kalian tuli? Kalau kau ingin membalas dendam kenapa harus menyalahkan orang lain! Dia, bersamaku tadi, apa kalian mengerti!" Max berjalan dengan langkah besar dan menarik lengan Maureen yang masih tersungkur di lantai.
Gadis itu tetap diam. Dia tak melakukan pembelaan apapun. Karena baginya, semua pembelaan akan sia-sia. Dia, pasti akan tetap disalahkan.
"Apa kau akan tetap diam walaupun mereka menusuk dengan pisau, hah?" ucap Max geram pada gadis itu.