
"Kau sudah pulang?" suara khas bariton langsung menyapanya. Gadis itu baru beberapa langkah masuk.
"Selamat malam sayang, kau belum tidur?" Mau tak mau gadis itu mengembangkan senyuman semanis madu saat menghadapi laki-laki dihadapannya. Dia sudah melipat kedua tangannya didada dan berwajah suram padanya.
Gadis itu segera melemparkan dirinya dalam pelukan, "Apa kau lupa dengan pesanku, hah? Dasar gorila nakal. Apa aku perlu memberikanmu kandang agar kau tak berlarian kesana kemari lagi?" sontak membuatnya membulatkan mata saat mendengar kingkong jeleknya mulai merajuk.
"Maafkan aku, Max. Aku bukan sengaja. Aku terlalu fokus dan sibuk menemani Lola. Jadi, maafkan aku, kalau aku tidak sempat menelpon atau memberikanmu kabar 1 jam sekali. Padahal tadi aku benar-benar berniat akan ke kantormu. Sungguh, aku benar-benar ingin kesana dan pulang bersama dengan sua-mi-ku!" Hah, mau tak mau lagi Irene mengeluarkan jurus andalannya. Dia mengunakan segala cara untuk membujuk laki-laki tamvan di hadapannya.
"Cih, kau sedang merayuku? Tidak mempan, kecuali ...," Max memutar bola matanya. Gadis itu tentu saja tahu, apapun keinginannya tidak jauh dari selangkangannya.
Bukan Max tak suka ketika gadisnya memanggilnya dengan sebutan suami. Jantungnya seakan mau melompat keluar kalau dia tak benar-benar menyembunyikannya.
Aku benar-benar gila di buatmu, sayang. Kau itu imut banget sih ...
"Umm, aku pegal-pegal nih. Sepertinya enak mandi dengan air hangat apalagi ada yang memijatku!" Irene menarik wajahnya. Menatap Max yang bergeming. Dia tak bereaksi dengan ucapannya.
Wah, gimana nih? Masa tidak berhasil sih? Benar-benar merepotkan. Aku harus bagaimana lagi merayunya? Kalau dia sudah tak menginginkannya tubuhku lagi.
Mendadak Irene bingung. Laki-laki itu belum merespon sedikitpun ucapannya, "Sayang ... iihh, kok gitu sih? Aku beneran dicuekin nih? Ya sudah kalau kau tidak mau. Aku akan melakukannya sendiri!" Irene akan menarik tubuhnya. Dia mode on pura-pura jual mahal.
Aku mau lihat, sampai dimana kau bisa menahannya?
Belum usai pikirannya beberapa detik. Saat dia akan menjauh dari tubuhnya. Tubuhnya, malah di tarik kembali ke dalam pelukannya.
"Kau sedang main-main dan memancingku marah? Hah?" eretan giginya terdengar saat dia berbisik di telinga Irene.
"Aww! Sakit, sakit. Aku kan sedang tidak main-main. Kau sendiri yang menolakku!" Irene mengusap telinganya yang digigit oleh Max barusan.
"Apa hanya itu usahamu? Hah?" Max yang pura-pura ngambek. Tapi, dilubuk hatinya sudah tak kuasa menahannya terlalu lama.
"Cih, masih saja aku yang disalahkan?" gerutunya. Tapi, sedetik kemudian Max sudah mengangkat tubuh gadisnya. Membawanya masuk ke dalam kamar. Melakukan ritual mandi bersama dan tentu saja olahraga malam pembakar kalori diatas ranjang.
***
"Ada apa? Kenapa kau ingin bertemu denganku malam-malam seperti ini, Kak Nick?" Shasa duduk di hadapan Nick. Memenuhi janji yang dibuat oleh Nick.
Nick menatap Shasa. Gadis terlihat berbeda dari beberapa pertemuan sebelumnya. Biasanya dia tersenyum dan menyambutnya dengan ruang gembira. Belum lagi, sikap sok manja dan menempel terus seperti perangko.
"Bisakah kau membatalkan pertunangan kita?" To the point Nick berkata. Shasa langsung menarik wajahnya menatap Nick yang terlihat serius dengan kata-katanya.
Dia, memang ada rencana untuk membatalkan pertunangannya dengan Nick yang dibuat oleh keluarga karena untuk menutupi kekurangan dana di perusahaan ayahnya. Maksudnya, perusahaan peninggalan ibu Maureen.
"Kau serius, Kak Nick? Kau sedang tidak bercanda denganku kan?" Namun, awalnya Shasa sedikit tak enak karena dia merasaa Nick pun baik dan dulu dia sempat sangat mengidolakan laki-laki itu sebagai suami impiannya.
"Tentu saja. Aku tidak sedang bermain-main. Aku tahu, kau juga gak menginginkannya pertunangan ini kan?" cetusnya tanpa ragu. Menembak tepat di sasaran.
Shasa tersenyum sinis, "Baiklah, jadi apa rencana Kak Nick untuk membatalkan pertunangan ini. Aku pun sudah tak sabar!" senyuman penuh kemenangan dari Shasa. Dia merasa harus mengatur rencananya makin matang. Membatalkan pertunangan lalu merebut apapun yang sedang dinikmati adik tirinya sekarang.