
"Hah! Apa? Memangnya siapa kau? Berani sekali kau melarangku!" Shasa tak mau kalah dalam mempertahankan diri. Dia pun sudah berkacak pinggang dihadapan Karina.
"Kau wanita biang kerok dan satu lagi wanita siluman rubah. Dua wanita menyebalkan dan tak tahu diri. Berani berebut dan bersaing denganku, tak sadar posisi kalian! Hah!" delik Karina. Lagi dengan mulutnya, Karina mengeluarkan kata-kata yang tak enak di denger di telinga Shasa.
"A-a-apa kau bilang? Bi-biang kerok. Cih, kau pikir, kau lebih baik dariku! Dasar nenek sihir tak sadar diri. Hanya mengandalkan tubuhmu itu, hah. Kau pikir tuan Max akan tergiur." Shasa memajukan tubuhnya, seraya memamerkan dua semangka yang lebih besar dari miliknya.
"Arrrggghhh, kau benar-benar wanita biang kerok. Masih saja mencari masalah denganku. Hanya dua semangka saja yang kau pamerkan. Apa kau juga punya ini, hah?" Karina tanpa malu menggoyangkan pinggulnya. Memamerkan gerakan erotissnya.
Shasa makin panas. Dia kebakaran jenggot. Melihat Karina yang memang memiliki bokong yang aduhaii sexy.
"Hah, dasar nenek sihir gila!" dengus Shasa berlalu dari hadapan Karina. Dia tahu kalau terus terpancing dengan emosinya hanya akan berakibat fatal.
"Heh, kau mau lari kemana wanita biang kerok? Apa kau takut denganku? Aku tidak akan membiarkanmu kembali kesana dan merayu kak Max-ku." Karina segera berbalik badan dan menjambak rambutnya dari belakang.
Tubuh Shasa hampir terpelanting ke belakang kalau tangannya tidak memegangi pintu. Dia mencoba menahannya, sedangkan Karina yang kesal terus menariknya seperti gulali rambut nenek-nenek.
"Aw, sa-sakit! Nenek sihir kurang ajar!" Akhirnya pertahanan Shasa runtuh apalagi tatanan rambutnya sudah berubah acak-acakan. Sambil memegangi lehernya yang nyaris saja copot karena di tarik-tarik oleh Karina.
Shasa membalikkan tubuhnya. Dia tak mau kalah oleh Karina. Walaupun tubuhnya masih tersisa ngilu akibat terakhir kali dia beradu sumo dengan gorila kecil Max. Dia tetap tak mau menyerah dan mengalah begitu saja, apalagi sudah menerima penghinaan seperti itu.
"Kau pikir aku takut padamu, hah!" Shasa berdecak sambil terus Mendorong-dorong tubuh Karina.
"Kau menantangku, hah!" Kini mereka berdua sudah saling berhadapan. Entah siapa dari mereka yang memulainya lebih dahulu. Tahu-tahu mereka berdua sudah berada di lantai depan toilet. Melakukan pergulatan sumo untuk kedua kalinya bagi Shasa.
Dia tak mengizinkan gadis itu menyentuh makanannya sendiri. Bahkan Alex tanpa merasa jijik saat menggunakan alat makan yang digunakan bekas gorila kecilnya. Martin berkali-kali mengkrejapkan matanya. Dia benar-benar merindukanmu sendiri menyaksikan hal langka seperti itu.
Nona Maureen benar-benar luar biasa, dia bisa mengendalikan tuan seperti seekor kucing manis dan penurut. Huh, seandainya saja masih ada stok satu lagi wanita seperti dirinya. Aku tidak akan menolaknya.
Bisik hati Martin dalam hati. Dia diam-diam mengagumi Maureen. Dan, Martin tiba-tiba merasakan wajahnya seperti terbakar saat memikirkannya.
Hah, hentikan Martin. Kau masih ingin hidup kan? Kalau tuan Max tahu kau seperti ini. Dia, tidak akan segan menembak kepalamu.
Sedetik kemudian rasa panas diwajahnya berubah menjadi dingin. Dan sekujur tubuhnya bergidik ngeri membayangkan kemurkaan tuannya.
Nick hanya bisa menatapnya dengan harapan sesekali gadis itu melirik kearahnya. Namun, usahanya tetaplah sia-sia. Sekalipun gadis itu tak berpaling. Max terus mengintainya.
"Max!" panggil gadis itu lirih. Dia masih serius menatap Max yang menyantap makanannya.
"Uhm."
"Aku ke toilet sebentar, ya," ucapnya membuat Nick menaikan daun telinganya. Dia merasa memiliki kesempatan untuk berbicara berdua dengan gadis itu.
"Apa?"