
Max turun lebih dulu dan memberi perintah pada dua orang pengawal untuk mengikuti kemanapun gadis itu pergi. Dan tak membiarkannya sedikitpun terluka. Irene hanya bisa menatap punggungnya dari belakang.
Bagaimana nasibku kalau malam itu aku tidak bertemu dengannya? Apa aku akan diseret kembali ke dalam ruangan gelap itu? Dan melayani semua orang suruhan kakakku.
Hah, tapi, sekarang pun aku tidak dikatakan beruntung. Aku berada dalam genggamannya dan tak bisa melarikan diri. Aku tidak tahu mana yang lebih baik. Bertemu dengannya atau tidak.
"Ingat, cepat kembali dan aku menunggu!" Max menyentuh pipinya. Membuyarkan segala lamunan.
"Ah, iya. Apa kau menginginkan sesuatu?" Irene mencoba menarik wajahnya. Hatinya masih saja berdesir sedih.
Max menatapnya, sedikit berpikir, “Uhm, sepertinya apapun yang diberikan dari mulutmu ...,” dia memutar bola matanya, tersenyum kemudian mendekati telinga gadis itu, “Aku akan memakannya dengan lahap. Cepatlah kembali, aku sudah tak sabar ingin menikmatinya,” goda Max. Dan. Blash! Wajah gadis itu makin memerah. Dia segera memalingkan wajahnya takut kepergok Max.
“Jangan bercanda, aku bertanya serius!” ketus Irene menjawabnya.
“Pergilah, pokoknya apapun yang kau makan. Aku pasti mencobanya.” Max kembali mencubit pipinya.
Irene hanya mengusap pipinya yang dicubit Max. Menatap kepergian punggung Max saat memasuki gedung kantornya.
Haduduh, jantung bodoh. Kenapa sih kau terus berdebar. Ingat, Irene jangan lupa diri.
Gadis itu mengusap dadanya perlahan. Berbalik dan meninggalkan kantor Max diikuti dengan dua orang suruhan Max.
Clara mondar mandir didepan ruangan bosnya. Saat pintu lift terbuka dan melihat Max juga Martin keluar, dia segera berlari menghampiri.
"Selamat pagi, Tuan Max!" sapa Clara terburu-buru. Wajahnya pucat dan ketakutan.
"Ma-maafkan, saya, Tuan, di dalam ruangan anda ada nona Karina. Dia, datang sejak pagi dan memaksa masuk. Saya tak bisa mencegahnya," ucap Clara dengan tubuhnya yang bergetar.
Max menghentikan langkahnya. Dia kembali menatap suram wajahnya Clara. Namun, sedetik kemudian Max teduh, menyadari pipi Clara masih memerah seperti habis ditampar.
Max yakin sekretarisnya sudah berusaha dengan keras, "Baiklah, akan kutangani. Dan, satu lagi, sebentar lagi gorila kecilku datang. Carikan ruangan lain dulu, jangan bawa dia ke ruanganku." Pesan Max sebelum dia masuk ke ruangan bersama dengan Martin.
Martin pun terlihat geram saat mendengar nama Karina. Apalagi dia sudah berani bersikap kasar dan seenaknya dengan orang tuannya.
Clara sedikit lega karena tak dimarahi tuannya. Namun, dia kembali bingung dengan pesan tuannya. Gorila kecilku? Kenapa gorila harus diberikan ruangan bukan kandang.
Max membuka pintu dan seseorang langsung melompat kedalam pelukannya. Max segera mendorong pelan tubuhnya.
Ah, rupanya dia masih sama. Tetap menolakku. Belum berubah sama sekali. Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengobati lukanya. Bisiknya lirih dalam hati.
"Kapan kau pulang, Karina?" Max berkata ketus dan suram terhadapnya.
"Tadi subuh Kak Max, dari bandara aku langsung kesini. Aku kangen sekali denganmu. Tadinya, aku mau mengajakmu untuk sarapan bersama. Apa, Kak Max sudah sarapan? Kalau belum kita bisa keluar untuk mencari sarapan," tanpa ragu gadis yang dipanggil Karina itu menggandeng lengannya.
Max menghentikan langkahnya. Menatap lengan gadis itu yang sudah melingkar erat seperti lem aibon di lengannya.
"Ah, ma-maafkan aku, Kak Max." Karina melepaskan gandengannya dari lengan Max.