MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
KITA MENIKAH SAJA



"Ayo, kita menikah saja!" Max berkata sambil membantu gadis itu merapikan baju yang berantakan karena ulahnya barusan. Dia, terus menatap lekat wajahnya yang masih kelelahan karena menghadapi tenaga besarnya barusan.


Irene seperti tersambar petir di siang bolong. Dia bahkan tak menyangka kata-kata barusan akan keluar dari mulut Max. Beberapa saat lalu, dia sudah menyakinkan hatinya kalau dia hanya sebagai selimut penghangat, tidak lebih.


Gadis itu balas menatap wajah Max yang tak berekspresi saat mengatakannya. Dingin dan suram. Tak seperti pada umumnya laki-laki yang sedang menyatakan cinta ataupun perasaan.


"Jangan bercanda, Max!" hanya jawaban seperti ini saja yang bisa keluar dari mulutnya.


"Apa aku pernah bercanda denganmu? Aku selalu melakukan apapun yang kuinginkan. Dan sekarang, aku mau kau tidak hanya berstatus dalam perjanjian saja. Aku benar-benar ingin memilikimu secara sah dimata hukum!" cetusnya mantap.


Gadis itu sedikit bergetar. Hatinya terasa sedikit hangat. Namun, kemudian dia tepiskan. Karenanya dia tahu keinginan laki-laki itu memilikinya hanya karena keegoisan dan tak pernah mau kalah oleh apapun. Bukan karena laki-laki itu mencintainya.


"Sebaiknya kita begini saja, lagipula aku tahu kau menginginkan diriku hanya untuk pelampiasan biologismu saja, kan? Kau tak perlu khawatir, karena aku pun melakukannya sekarang tanpa paksaan. Aku tidak akan menuntut atau memintamu bertanggungjawab atas apapun. Aku akan minum obat kontrasepsi untuk mencegahnya. Jadii, kau tak perlu khawatir."


Gadis itu mencoba menarik senyuman dari wajahnya. Terasa kembali nyess dihatinya. Dia, seperti ditusuk-tusuk oleh ribuan jarum. Benar-benar membuatnya sakit dan terluka.


"Apa maksud dari ucapanmu? Kau menolakku? Dan, kau berencana tak memiliki anak denganku, hah?" Mata Max mendelik tajam. Dia mencengkeram erat kembali kedua lengannya. Max bahkan masih bertelanjang dada dihadapan gorila kecilnya.


Max benar-benar tak menyangka akan mendapatkan jawaban pahit dari gadis itu.


"Aw, sa-sakit sekali, Max!"


"Aku tidak perduli. Katakan, kau tidak ingin memiliki anak dariku, hah?" Pertanyaan tak terduga keluar dari mulut Max.


Dia benar tersinggung saat gadis itu tak menginginkan anak darinya. Sedangkan dirinya sudah tak tahan ingin menjadikannya gadis itu satu-satunya wanita yang akan dia buat bahagia. Dan, Max menginginkan gadis itu selamanya ada disisinya.


Hihhh, dia kenapa lagi sih? Kenapa menjadi aneh seperti ini. Bukannya dia pernah bilang kalau aku tidak boleh jatuh cinta padanya dan berharap apapun. Sesuai dengan perkataannya dulu.


"Jawab!" Hardik Max. Membuat Irene kembali tersentak. Suasana hatinya sekarang berubah tak menentu. Benar-benar menjadi buruk.


"I-iya, tidak mau!" sahut mantap.


"Jadi, kau masih saja berpikir bisa pergi dari hidupku, hah?" Maureen mengangguk yakin. Selain dari jawaban itu, Irene tak pernah berpikir hal lain.


Max membuka pintu mobilnya dan mendorong kasar tubuh gadis itu hingga dia tersungkur dijalanan. Pemandangan tadi pun masih disaksikan oleh kedua wanita disana. Mata mereka seketika membulat tak percaya sekaligus mereka berdua bahagia.


Martin menoleh, dia tak menyangka tuannya akan bersikap kasar terhadap gadis itu.


"Pergilah, jika kau memang bisa pergi dariku. Aku akan membiarkanmu bebas tanpa syarat!" Perkataan Max membuat Irene tertohok.


Lengannya sudah tak di cengkram. Namun, dia merasa sangat menyakitkan hati ketika mendengar langsung dari mulut laki-laki itu. Laki-laki yang beberapa saat lalu bersamanya melakukan kehangatan.


Gadis itu tiba-tiba di usir. Dia diusir tanpa dia tahu apa kesalahannya. Tapi, disisi lain ini adalah kesempatan untuknya. Dia bisa pergi tanpa kekangan laki-laki itu.


"Be-benarkah aku boleh pergi?" Ya inilah yang di mau gadis itu. Kebebasannya. Dia tak perlu lagi merasa harus menuruti perintah orang lain. Dia sudah bebas darinya.


"Cobalah. Kalau kau bisa bertahan dan tak mencariku dalam waktu 24 jam. Kau bebas untuk selamanya!" Seringai Max, dia melipat kedua tangannya didada telanjangnya. Menatap gadis itu seperti mereka sedang dalam arena pertandingan.


Cih, lihat saja. Aku akan buktikan padamu. Aku tidak akan kalah dan aku pastikan kau berlutut dan memohon kembali padaku.


Untuk terakhir kalinya gadis itu menatap lekat laki-laki itu. Laki-laki yang mulai menyusup hatinya. Dia memakai sepatu dan memeluk tasnya dengan erat.


Dia bangkit dan berdiri perlahan. Tanpa ragu gadis itu berbalik badan. Dia memberhentikan taksi dan lalu pergi meninggalkan Max begitu saja.


Sesaat gadis itu menoleh ke belakang. Max tak bergeming, dia hanya menatap tajam kepergiannya. Tak ada pergerakan apapun. Dia tak menyuruh Martin untuk mengerahkan pengawal mengikutinya.


Hah, aku tidak percaya. Aku bebas. Aku benar-benar bebas dengan sangat mudah. Dia melepaskanku begitu saja. Maureen membekap mulutnya sendiri. Hampir saja dia berteriak kegirangan.


Cih, dia bahkan tak melihatku. Aku mau lihat seberapa kuat kau bertahan tanpa diriku. Aku yakin kau pasti kembali dan bertekuk lutut padaku.


Astaga, wanita siluman rubah itu pergi. Dia, diusir sendiri oleh kak Max. Sudah aku bilang, dia bukan tipe kak Max. Terbukti, belum apa-apa dia sudah dibuang ke jalanan. Kendalikan dirimu, Karina. Jangan terburu-buru lagi. Jangan kau salah perhitungan seperti tadi.


Karina mundur perlahan, dia menghentikan taksi dan berbalik ke hotel untuk merencanakan ulang siasatnya.


Hah, aku yakin, Tuan Max tak mungkin menyukai gadis siall itu. Dia, sekarang sudah diusir. Ini kesempatan bagus untukku. Aku harus pulang dulu. Aku harus mempersiapkan diriku lebih sempurna lagi agar dia bisa tertarik denganku.


"Martin, batalkan semua pertemuanku hari ini. Kita kembali ke mansion!" Max memberikan perintahnya. Dia membanting kasar pintu mobilnya.


Tangan Max tak sengaja menyentuh kain yang di robeknya tadi. Dasar gorila kecil penggoda. Dia meninggalkannya disini dan tak memakai apapun tadi. Geram dan panas hati Max sambil mengepal kuat kain tadi di tangannya.


Argghhh! Sialll, bagaimana kalau miliknya yang manis itu sampai dilihat dan disentuh orang lain. Dasar siall. Arghh, Max tenanglah. Malam ini dia pasti sudah kembali dan mencarimu. Kau hanya perlu bersabar sedikit lagi. Gorila kecilmu hanya ngambek. Kau bisa mengatasinya.


Otak Max tak kuasa menahan pikirannya. Tanpa sadar dia menciumi kain yang di cengkramannya tadi. Arghh, aku sudah kangen lagi dengannya. Bagaimana ini? Wajahnya Max memerah dan debaran di jantungnya kembali berdegup. Dia membayangkan pergulatan manisnya beberapa saat lalu dengan gorila kecilnya.


***


"Lolaaa!!" Maureen segera melompat ke pelukannya. Dia benar-benar bahagia dan tak bisa berpikir jernih.


Maureen tak mungkin pulang ke rumah. Dengan kondisinya saat ini dan peristiwa tadi, akan sangat sulit dia kembali. Dia, tak ingin mencari masalah lagi dengan keluarga pengeretan itu.


Saat ini dia sudah bebas, tak punya hutang apapun juga yang bisa dituntut oleh ibu dan kakak tirinya itu.


"Ka-kau? Kau baik-baik saja?" Lola yang masih cemas. Setelah pertempuran terakhir yang dibawa paksa oleh Max, dia tak mendapatkan kabar apapun dari gadis itu.


"Uhm, aku baik-baik saja, La. Aku bebas sekarang. Aku bisa melakukan apapun yang ku mau sekarang!" Lagi Maureen memeluk tubuh sahabatnya dengan sangat erat.


"Ayo, masuk. Kau masih hutang cerita padaku." Jujur Lola penasaran dengan kejadian waktu itu.


"Uhm, ayo!" Lola menggandeng masuk dan menutup pintunya.