
Gadis itu berlarian tanpa memperhatikan sekitarnya. Matanya membulat lebar saat mengenali mobil hitam yang sedang menunggunya di muka jalan taman. Mobil tempat dimana semua segala kehormatannya direnggut secara paksa.
Bugh! Dia menabrak tubuh seseorang dan membuat jatuh duduk.
"Aw!" dia bergerak dan mencoba bangkit. Namun, tubuh seseorang ikut berjongkok dan menatapnya dengan tajam.
"Jadi ini yang kau lakukan saat kau bilang akan mencari tempat tinggal, hah?" wajahnya sudah dalam cengkraman kasarnya.
Max yang tadinya akan menyuruh Martin mendatangkan gadis itu, tapi dia berubah pikiran. Setelah dia melihat video Maureen sedang makan kue cubit dan Nick membantu mengusap kue cubit yang belepotan dibibir gadis itu. Max menghancurkan satu meja dengan satu kali tendangannya.
"Ti-tidak, ini tidak seperti yang kau bayangkan!" Maureen mencoba memberi perlindungan pada dirinya sendiri. Dia tak ingin salah berbicara atau salah kaprah. Apalagi dia bisa melihat Max yang suram dan geram terhadapnya.
Max menghempaskan kasar wajah gadis itu. Dia tak ingin banyak bicara lagi. Lalu dia menyeret Maureen masuk ke mobil dan melemparkan tubuhnya dengan kasar.
"Aku mohon, jangan salah faham. Aku dan Nick tidak ada hubungan apapun!" dengan jelas Maureen ingin berkata jujur. Namun, brekk! Brekk! Max merobek baju gadis itu dan menyirami kepalanya dengan air.
"Argghh!" teriaknya. Dia segera menutupi kedua asetnya, tapi kecepatan tangan Max tak bisa dicegahnya. Dia sudah menarik paksa kain penutup kedua milik Maureen.
"Ma-maafkan aku, Tuan. Aku janji tidak akan mengulangi!" Maureen berkata, tapi Max tak bergeming.
Dia terus menghimpit tubuh gadis itu, membuka kedua pahanya dan merobek kain segitiga miliknya dengan kasar juga. Kemudian dia membuka sangkarnya dan menghujamkannya dengan kasar.
"Argh!" kembali Maureen memekik. Dia membekap mulutnya sendiri. Dia tak ingin suaranya terdengar, apalagi Max melakukan di tempat terbuka dan siang bolong.
Perih dan panas terasa dibawah sana. Max dengan kemarahannya tanpa berbicara terus menggoyangkan tubuhnya diatas tubuhnya. Max benar-benar bergerak melampiaskan segala amarahnya.
"Sa-sa-kit, Tuan. Tolong pelan sedikit!" dia mengiba dengan segala kekuatannya yang mulai melemah.
Maureen tak mungkin kuat menerima hujaman laki-laki yang penuh dengan amarah. Rasanya berbeda dengan yang semalam dia lakukan. Pelan dan penuh kehangatan.
"Berapa kali aku bilang, jangan pernah main-main denganku. Kau itu sudah aku beli. Jadi, kau harus tahu diri dan apapun yang aku perintahkan kau harus menurutinya!" ucapnya. Ritmenya makin terasa kasar di bagian bawah sana.
Marah. Ya, ingin sekali Maureen marah. Namun, dia tak bisa berkata apapun lagi. Semua perkataannya adalah benar.
Dia hanya bisa pasrah menerimanya. Dia, membiarkan laki-laki itu puas saat menggagahi tubuhnya.
Hampir setengah jam dia berada diatas tubuhnya. Peluh pun mulai membasahi. Maureen sempat menitikkan air mata di awal. Namun, lama-lama setelah tubuhnya mereka rilek, dia pun dapat merasakannya perubahannya.
Maureen mulai mengeluarkan suaranya perlahan-lahan. Membuat seberkas senyuman dari wajahnya. Dia sudah berhasil membuat gadis itu meremang.
"Ah, Tu-Tu-an!" desahnya.
"Panggil namaku, aku ingin mendengar kau memanggilnya!" Max berkata dengan lembut. Dia sudah mengubah suaranya. Emosinya mereda saat melihat wajahnya memerah dan tubuh gadis itu tak menolaknya lagi.
"Ah, ugh ... Max!" dan Max menggerakkannya agar mencapai ******* hingga keduanya melakukan pelepasan.
Max merengkuh tubuh gadisnya ke dalam pelukan, "Jangan pernah kau ulangi. Hukuman tidak akan seringan ini!" Maureen mengangguk pelan.
"Sudah, Tuan. Aku benar-benar sudah tidak kuat lagi!" buruknya. Max tersenyum dan mengecup kening Maureen.
"Aku tahu!" ucapnya lirih.
"Martin!"
Martin membuka pintu kemudi saat tuannya memanggil.
"Kita ke butik wanita sebentar!" perintahnya. Tanpa menoleh, Martin mengangguk dan memutar stir mobilnya diikuti empat mobil dibelakangnya.
"Tuan."
"Uhm."
"Aku kelaparan!" selorohnya.
"Kita cari baju untukmu dulu, setelah itu kita cari makan!" jawabnya.
"Terima kasih!" satu kecupan mendarat di pipi Max.
"Kau sedang menggodaku lagi, hah?" wajah gadisnya ditarik agar mereka saling menatap.
Maureen menggeleng, "Tidak berani, Tuan!" ucapnya.
"Max, panggil aku seperti tadi. Mulai saat ini aku ingin kau memanggiku seperti itu!" kembali dia memberikan perintah.
"Iya, Max!" ucapnya.
"Nah, gadis pintar!" Max menarik kedua pipi chubbynya.
"Sakit. Aku bilang kan--,"
"Sstttt, iya, iya. Aku tahu, tapi tetap saja aku gemas sekali!" Max menjadi panas kembali melihat wajah gadisnya hingga dia menggigit telinga Maureen.
"Aw!" pekik Maureen. Wajahnya lagi-lagi seperti udang rebus.
"Pokoknya nanti aku tidak mau turun!" Maureen menolak dengan kondisi tubuhnya. Bajunya sudah compang camping dirobek oleh Max.
"Iya, aku akan menyuruh Martin yang turun. Kau bisa pilih bajunya dari mobil!" ucapnya. Max pun tak akan tega membiarkan gadisnya turun.
Tak berapa lama mobil mereka sampai di depan butik. Martin turun memenuhi perintah tuannya. Dia, memberikan sambungan video untuk Maureen memilih baju yang dia sukai.
Huh, untungnya pria yang tidur denganku tampan dan kaya. Coba kalau laki-laki gendut menyebalkan itu. Hiiihhh.
Maureen tiba-tiba bergidik ngeri sendiri saat memikirkan peristiwa lalunya.