MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
AKU SUDAH DIJUAL



"Kalau begitu saya setuju, Tuan!" ucap Johan tanpa melihat kearah putrinya.


Air mata gadis itu membasahi pipinya. Dia benar-benar sudah tak bisa menahannya lagi. Ayahnya dengan tega menjual dirinya, tanpa ada rasa belas kasih sedikitpun.


Mama... Aku benar-benar sendiri. Aku ingin ikut denganmu, Ma...


Tangisnya lirih. Hatinya teriris bagai sembilu. Dia sudah benar-benar dijual oleh ayah sendiri.


"Martin!"


Martin berdiri dari tempat duduk dan benda pipihnya. Dia membawa benda pipih itu kehadapan Tuannya.


"Kau bisa membubarkan tanda tangannya sekarang!" Martin menyodorkan benda pipih tadi pada Johan dan dia pun melakukan tanda tangan di benda pipih tersebut.


"Kontraknya akan dikirim oleh pengacaraku ke perusahaanmu. Dan, untuk sisanya akan di urus oleh pengacaraku!" Max menarik lengan Maureen untuk bangkit dari duduknya.


"Dan, siapkan semua berkas-berkasnya. Orangku akan ada yang ikut dengan-mu!" tambah Max. Dia berlalu membawa Maureen pergi begitu saja. Membuat Johan mati kutu. Dia, bahkan belum sempat berkata apapun pada putrinya.


Maureen terus saja sesegukan menangis. Dia kesal. Dia ingin marah. Dia ingin sekali menampar, menjambak atau mencakar wajar laki-laki tampan disebelahnya itu.


"Berisik sekali kau!" dengus Max, gadis itu dihempaskan di kursi penumpang.


Dia diseret paksa keluar seperti anak kecil oleh Max. Dan didalam mobil bukan menghentikan tangisnya malah tangisnya makin menjadi.


Max benar-benar sakit kepala. Belum pernah dia bertemu dengan gadis seperti itu. Biasanya setiap wanita yang diajaknya selalu mencoba mencari perhatian agar dirinya puas. Sekarang, dia harus mencoba menenangkan gadis.


"Kau tuli, hah? Apa perlu mulutmu itu aku robek!" hardik Max. Mendadak Maureen menghentikan tangisnya dan tak lama dia malah cegukan.


"Arrgghh! Kau benar-benar pembuat onar. Aku sudah mengeluarkan banyak uang untukmu, jadi tidak usah banyak tingkah!" cerca Max.


Namun, Maureen tetap tak bisa menghentikan cegukannya.


"Martin, berhenti dan keluarlah kalian!" cetus Max, emosi.


Dan detik kemudian hanya bantingan pintu yang terdengar. Max menghela nafasnya dan menarik kulkas kecil di depannya. Dia, mengambil sebotol air mineral untuk gadis itu.


Max mendekati Maureen dan menarik gadis itu ke pangkuannya.


Gadis itu terkejut apalagi wajahnya Max sudah mulai mendekati wajahnya. Dan beberapa detik kemudian bibirnya yang hangat sudah menyapu bibirnya.


"Jangan menangis lagi, sebagai wanitaku, aku tidak mengizinkan orang lain melihatmu menangis lagi, mengerti!" ucapnya menghapus seluruh sisa air mata Maureen yang masih membasahi di pipi. Gadis itu mengangguk pelan dan membenamkan wajahnya di dada bidang Max.


Kruyuk! Max menautkan kedua alisnya. Dia kembali menarik wajah Maureen yang sudah memerah karena malu.


"Sejak pulang ke rumah, seharian ini aku belum makan!" ucap Maureen malu-malu.


"Astaga! Dasar gadis bodoh!" umpatnya.


Kemudian dia berteriak memanggil Martin dan menyuruhnya mencari restoran dan meminta saat mereka sampai semua hidangan sudah siap tanpa harus dia menunggunya lagi.


***


"Pah, apa kita sungguh telah menjual anak itu? Bagaimana jika ibunya bangun dan menanyakan?" Wina berkata di ruang baca setelah anak buah Max pergi mengambil semua berkas-berkas yang berhubungan dengan Maureen.


Dan anak buah Max berpesan akan ada satu orang yang khusus menangani kamar gadis itu. Tidak seorang pun dapat memasuki kamarnya tanpa seizin dari Max. Mereka pun sudah membuat pintu kamar Maureen terkunci otomatis dengan kode yang bisa dibuka oleh orang suruhan Max.


"Halah, nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terjadi bukan. Lagipula, Amira Aditama tidak mungkin sembuh. Bukankah kau sudah mengurangi semua asupan obat yang diterimanya!" sahut Johan.


"Iya Mah, Mama tidak perlu khawatir. Aku juga sudah menghentikan asupan untuk peralatannya. Kemungkinan besar dia tidak akan bisa bertahan sampai akhir bulan ini!" tambah Shasa yang memiliki otak licik seperti ular berbisa.


"Nah, kau dengar sendiri. Shasa sudah mengatur semuanya. Sebaiknya kalian tutup mulut rapat-rapat. Agar tidak ada dinding yang mendengar. Kita sudah terjamin. Perusahaan sudah stabil, aku pun masih memiliki sepuluh persen saham di perusahaan Mollary, kedepannya walaupun kita angkat kaki dari keluarga Aditama, keluarga Johan Permana akan tetap memiliki nama. Dan, Shasa putri kesayangan kita, masa depan dia pasti akan sangat cerah. Memiliki menantu yang lebih dari keluarga Fernando, aku yakin putri kesayangan kita bisa melakukannya!" Johan berkata dengan penuh percaya diri yang tinggi.


"Benar sekali, Ma, seperti kata Papa barusan, kita sudah tidak memerlukan lagi dukungan dari keluarga Fernando!" Shasa berkata dengan senyuman smriknya.


Mereka satu keluarga penuh dengan ambisi. Mencapai kekuasaan tertinggi melalui berbagai cara.


Maafkan aku kak Nick, aku memang sempat menyukaimu, tapi sepertinya kau itu masih sangat jauh dibawah seorang Maximus Mollary.