MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
SELIMUT PENGHANGAT



 "Ayo, kita ke sebelah," ucap Irene. Dia segera menghindari tatapannya. Tak ingin mencari masalah baru.


Martin hanya membungkukkan badan saat melihat Maureen. Dia segera menarik koper agar Karina mengikuti. Suara kedatangan Irene terdengar oleh Max. Baru selangkah dia berbalik, Max membuka pintunya.


"Mau kemana kau, Gorila!" hardiknya.


Irene dan Clara menoleh, "Bawa masuk semua belanjaannya ke ruanganku!" perintah Max. Dia melirik kedua pengawal suruhannya.


Clara pun mengerti setelah mendapatkan kode anggukan dari tuannya. Dia segera meninggalkan gadis itu. Karena Irene tetap tak bergerak.


"Kosongkan jadwalku sampai siang, Clara!" perintahnya.


Max menarik tangan Irena ke ruangannya. Tanpa mendengar jawaban Clara, dia segera menutup dan menguncinya. Dia, menatap gadisnya yang terlihat kebingungan. Tatapan Max sangat berbeda. Gadis itu pun tak mengerti, sepertinya suasana hatinya berubah buruk sejak kedatangan wanita tadi.


Max melemparkan jasnya. Perlahan membuka dasi dan kancing bajunya. Dia, terus melangkah maju menghampirinya yang terus mundur hingga tubuh Irene mentok di ujung bibir meja kerja Max.


"Wowowo, tunggu dulu. Kau mau apa? Aku tidak ingin melakukannya sekarang," pekik gadis itu. Mencoba mendorong tubuh Max yang terus menghimpitnya.


Laki-laki itu  seolah tak memperdulikan ucapannya. Tangan Max memeluk pinggang dan tangannya dengan cepat mengikat kedua tangan Irene dengan dasi.


“Max, kau gila! Apa yang kau lakukan? Lepaskan ikatannya. Sakit!” Irene meringis dan gelagapan sendiri. Dia, mirip kingkong besar dan jelek kalau sedang marah.


“Diam! Puaskan aku sekarang!” perintahnya. Dia mencengkram wajah gadis itu dengan kasar.  Menaikan tubuhnya keatas meja. Melahap rakus bibirnya tanpa henti.


Hah, dasar  kingkong gila. Apa yang terjadi. Kenapa dia sekasar ini sih?


Hati Irene kalang kabut menghadapi keganasan Max yang brutal. Sikapnya berubah 180 derajat saat pagi tadi mereka mandi bersama. Dia, seoalah sedang menumpahkan segala kekesalan dalam hatinya pada gadis itu.


“Arggh!” gadis itu menggigit bibir Max. Kesal gadis itu dengan Max yang tak menghentikan ciuman dan membiarkan dia bernafas.


“Kau gila! Aku bukan boneka pemuasmu, tahu! Aku manusia!” umpat Irene lagi. Dia, terus berontak mencoba melepaskan ikatan dasi yang Max buat.


Max mengkrejapkan kedua matanya. Sadar dihadapannya kini adalah gadis itu. Gadis gorila kecilnya. Dia, meraup wajahnya dengan kasar. Mencoba menetralkan suasana hatinya.


“Maaf!” ucap lirihnya sambil menyentuh wajahnya dengan lembut.


Max melihat lagi perbuatan kasarnya barusan. Dia bahkan tak sadar sudah membuat gadis itu setengah telanjang. Bajunya sudah robek dan berserakan di lantai.


Dia memeluknya dan melepaskan ikatan dasi yang dia buat di kedua tangannya.


Max mengangkat tubuh gadisnya perlahan dan membawanya ke tempat yang lebih empuk. Laki-laki merebahkan tubuh gadis itu di sofa. Tetap mengeluarkan senyuman smirk mautnya yang dingin.


“Kalau disini sudah boleh kan?” dia memajukan wajahnya dan memulai kembali dengan ciumannya. Kali ini tidak sekasar tadi. Dia, lembut sampai-sampai hati Irene yang kesal berubah merona dibuatnya.


Argh! Kau gila Irene. Sebentar kau marah, sebentar jantungmu itu sudah tak dapat dikendalikan. Haduduh,  jantungku sudah tak bisa menolak ketampanan yang dia tunjukan. Gadis itu merutuki kebodohannya sesaat. Lalu.


Irene merekatkan kedua tangannya di leher Max. Tanpa memberikan jawaban, laki-laki itu tahu bahwa gadis gorila kecilnya sudah memberikan lampu hijau untuknya. Max melakukan pergulatannya lagi dengan membara sampai mereka berdua benar-benar  merasakan kebahagian dunia yang indah.


Maafkan aku sayang, aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku, hanya tak ingin kau pergi meninggalkanku.


Laki-laki bertubuh besar itu mengecup keningnya dengan lembut. Manariknya lebih dalam ke pelukannya. Dia, seolah tak ingin kehilangan lagi sesuatu yang berharga di hidupnya.


Irene menarik wajahnya. Mencoba membaca suasana hatinya. Namun, dia hanya bisa menebak saja, tak berani untuk mengungkapkan.


“Bajuku, kau robek lagi. Aku tidak ada persiapan baju ganti,” akhirnya kata itu yang tercetus dari bibirnya.


“Maaf, nanti setelah Martin kembali, aku akan menyuruhnya menaruh beberapa bajumu di ruanganku.” Max berkata seolah mereka akan melakukannya setiap hari.


“Hah, tidak-tidak. Aku tidak mau! Aku sudah bilang bukan boneka pemuasmu!” tegasnya.


“Memangnya apalagi tugasmu. Aku kan membayarmu untuk itu. Hanya untuk memuaskan segala hasrat biologisku. Kau harus siap berada disisiku. Kapan pun, aku menginginkannya. Kau harus siap. Karena tubuh dan jiwamu hanya milikku. Milik Maximus Mollary.” Max kembali berkata dengan arogannya. Membuat kembali nyut di hati gadis itu. Sedih dan sakit kembali saat kata-kata itu terlontar dari laki-laki yang mulai dia cintai itu.


“Ah, iya. Aku lupa!” Irene menjauhkan tubuhnya. Memalingkan wajahnya. Yang tanpa terasa air matanya mengalir keluar begitu saja. Dia menelan salivanya sendiri dan segera menghapus air matanya.


Bodoh kau, Irene. Sudah aku bilang jangan terlalu berharap banyak. Dia, hanya menjadikan dirimu teman ranjang. Selimut penghangatnya, tidak lebih.


“Jadi, aku harus pakai kemeja punyamu lagi kan?” gadis itu mencoba menarik wajahnya. Memberikan senyuman agar menutupi segala sedih di hatinya.