
Martin mengantarkan Karina ke salah satu hotel milik Max. Saat Martin masuk manager duty yang bertugas segera menghampiri, “Selamat pagi, Tuan Martin. Ada yang bisa saya bantu?” dia meliriknya membawa koper dengan seorang wanita.
“Berikan dia kamar terbaik dan apapun yang dimintanya, tolong kau layani dengan baik. Pakai akses kartu tuan Max untuk semua tagihan yang dipakainya.” Perintah Martin diberi anggukan kuat oleh manager duty tadi.
“Martin, kau akan menjemputku lagi kan? Aku benar-benar ingin makan malam di tempat kak Max,” ucap Karina tanpa malu bergelayut dilengan Martin.
Membuat laki-laki itu bergidig ngeri dan langsung menghempaskannya. Manager duty hanya pura-pura tak melihat, takut kena semprot. Apalagi sedang membicarakan atasan mereka.
"Saya tidak bisa berjanji, Nona Karina. Sebaiknya ada beristirahat lalu berjalan-jalan untuk mengusir kebosanan. Atau mungkin, anda bisa sesekali mengunjungi keluarga anda. Saya yakin, mereka pasti menantikan kepulangan anda," Martin berkata seolah menyindir gadis itu.
Karina hanya bisa mengeratkan giginya. Menatap Martin yang pergi setelah mengeluarkan kata-kata yang membuatnya kesal setengah mati.
Pulang? Yang benar saja aku pulang ke keluarga itu. Kalau aku pulang mereka akan memaksaku untuk menikah dengan orang lain. Dan kesempatanku menjadi nyonya Maximus Mollary yang aku susun selama ini akan lenyap begitu saja.
"Mari, Nona, saya antarkan ke kamar." Manager duty menghamburkan segala lamunannya. Dia mengangguk dan mengekori.
***
"Max!" panggil Irene, tapi laki-laki itu sibuk dengan pekerjaannya.
Benar saja kan ... aku disini hanya menjadi nyamuk tak berguna. Menunggunya yang sibuk dengan pekerjaan. Hoh, bodoh sekali kau Irene.
Gadis itu kesal sendiri karena Max tak mengindahkan panggilannya setelah berkali-kali dia memanggil. Dia, menghampiri dan memutar kursi yang sedang didudukinya.
"Max!" gadis itu menghentakkan kakinya.
"Uhm." Kali ini max menjawabnya dan menarik wajahnya pada gorila kecilnya yang sudah membentuk sudut kerucut dibibir.
"Aku mau main. Aku keluar saja ya. Bosan tahu," cetusnya.
"Jadi makananmu sudah habis? Akan akan suruh Martin untuk membelikannya lagi." Bukan jawaban itu yang gadisnya mau.
"Argh. Sudahlah. Pokoknya besok aku tidak mau ikut. Lebih baik aku di rumah saja." Dia protes. Membuat Max mengembangkan senyumnya.
"Sebentar lagi makan siang. Kita akan keluar. Jadi, biarkan aku selesaikan pekerjaan ini dulu, oke!" Max memutar kursinya kembali pada pekerjaannya.
"Max, biarkan aku keluar. Kau kan bisa menyuruh orang bawahanmu untuk mengikutiku," ucap gadis itu lagi. Tetap tak beranjak dari posisinya, disamping kursi Max.
Max tak bergeming. Dia tetap focus pada layar pipih didepannya.
"Cih, menyebalkan." Irene kesal, dia tak kehilangan akal. Dia menurunkan sesuatu dari balik gaunnya dan melemparkannya tepat jatuh di layar pipih tadi.
"Aku akan pergi sekarang, kau sibuklah terus!" Dia berbalik badan. Max tersenyum saat mendapatkan sesuatu dari balik gaun gadisnya.
"Kau sedang menggoda? Aku pasti kau menyesal melakukan ini," ucapnya sambil menciumnya dan tersenyum.
"Hih, dasar kingkong jelek, kalau dipancing seperti ini baru bereaksi!" kecut Irene menjawabnya. Max sudah menariknya ke pangkuan.
"Ayo, mulai bergeraklah. Aku tahu kau pasti menginginkannya!" Max menarik kembali wajah gadisnya. Mencium bibirnya lagi dengan memburu dan tangannya terus saja bergentayangan di bagian kedua milik Irene dan meremasnya.
"Izinkan aku keluar ya, Max. Aku mohon!" dia berbicara, tapi tangannya sedang membuka sarang milik Max. Mengangkat tubuhnya sedikit dan memasukannya ke dalam sana.
"Tergantung usahamu kali ini," goda Max. Laki-laki itu mengangkat tubuh gadisnya naik turun perlahan.
"Jangan bercanda, Max. Aku serius," gadis itu berkata sambil mengigit bibirnya. Menahan jiwanya yang terus bergetar oleh perbuatan Max.
Max mengubah posisi, dia berdiri dan menaruh tubuh gadisnya di meja, "Ssttt, diam dulu. Biarkan aku bekerja!" cetusnya. Dia mulai mempercepat gerakannya. Membuat gadis itu hanya bisa menikmati semuanya.
Astaga, kau merayunya Irene. Tapi, bukannya dia terjebak. Dia, malah membuatmu kewalahan.
Bisik hati Maureen. Dia sudah tak bisa berkata lagi. Yang keluar dari mulutnya hanya suara-suara yang tak biasa.
"Maaf, Tuan Max, sepertinya anda ada ra—," Martin tiba-tiba membuka pintu dan menyaksikan tuannya sedang olahraga siang hari diatas meja kerja.
"Uhm, tunggulah. Aku akan segera selesai," sahut Max tak menghentikan aktivitasnya. Martin segera membalikkan badan dan keluar setelah perkataan dari tuannya.
Wajah Martin memerah. Jantungnya tiba-tiba berdebar cepat. Bukan dia tak pernah menyaksikan hal seperti itu. Tapi, dia pun laki-laki tidak mungkin tidak tergiur hal yang seperti itu.
Berapa kali tuan Max melakukannya? Pantas saja dia tak bisa jauh-jauh dari nona Maureen. Nempel terus seperti perangko. Huh, aku kapan ya bisa mendapatkan gadis sebaik nona Maureen. Bisiknya di hati sambil meraup wajahnya dengan kasar.
"Ada apa? Apa kata tuan Max, Martin?" ucap Clara yang sudah berdiri dihadapannya. Memandangi wajahnya dengan bingung.
"Ah, itu." Martin gelagapan sendiri.
"Kau belum berbicara dengannya? Kalau begitu biar aku saja. Aku juga ada berkas yang akan meminta tanda tangannya." Clara bersiap melewati Martin, "Jangan masuk sekarang. Kau masih ingin tetap bekerja disini!" cegah tangannya mencengkram erat Clara.
Clara memutar otaknya mencoba memahami situasi. Wajahnya pun tiba-tiba memerah. Clara mengingat peristiwa pagi tadi saat melihat tuannya bertelanjang dada dan memamerkan roti sobeknya.
“Ya ampun, jangan bilang tuan sedang ...,” Clara tak melanjutkan ucapannya. Dia membekap mulutnya saat dapat anggukan kuat dari Martin.
Mereka berdua pun memilih untuk menyingkir tak ingin menganggu kesenangan tuannya. Pintu lift terbuka. Martin melihat Karina baru saja keluar dan mereka berdua segera menghadangnya.
“Ada apa, Nona Karina kesini lagi?” cetus Martin yang menunjukkan wajah tak sukanya akan kedatangan Karina.
“Ah, aku bosan sendirian dalam kamar. Jadi, aku memutuskan untuk jalan-jalan seperti katamu, Martin!” seringai Karina dengan tatapan liciknya.
Kali ini dia sudah merencanakan akan makan siang dengan Max. Dia, akan mengejar laki-laki itu sampai dia menerima keberadaannya.
“Maaf, Nona Karina, tuan Max sedang tidak bisa di ganggu. Sebaiknya anda kembali saja ke hotel,” ucap Martin. Tegas dia mengusir gadis itu.
“Apa dia sedang ada tamu? Padahal ini kan sudah jadwal makan siang. Aku akan menunggunya sampai selesai. Biarkan aku masuk, dan menunggunya di ruangan.” Karina tetap memaksa. Pikirnya, asalkan dia bisa masuk dulu ke ruangan Max, urusan Max marah atau tidak nanti dia akan memikirkannya.
“Maaf, Nona Karina, anda tidak bisa masuk sekarang!” Martin tetap mencegahnya masuk. Clara yang disampingnya ikut merentangkan kedua tangannya seperti mau terbang. Menghalangi gadis itu masuk.
“Minggir kau, Clara. Apa tamparanku tadi pagi masih kurang? Hah!” hardiknya menatap Clara tajam. Gadis itu sedikit menciut oleh gertakan sambalnya dan menurunkan tangan lalu menyentuh pipinya.