
"Huwaaa ... jadi seperti itu, Ren?" Lola tak percaya saat mendengar semua cerita yang keluar dari mulut sahabatnya.
"Uhm, begitulah. Aku juga tidak menyangka akan seperti ini. Aku tak pernah berharap bisa bertemu dengannya," sambungnya lirih. Gadis itu sedikit melamun saat memikirkan Max.
Lola sudah diceritakan bagaimana pertama kali mereka bertemu dengan Max. Dan, Lola tahu sahabatnya sudah melewati banyak masa sulit. Dia, dijebak Shasa hingga harus terpaksa kehilangan mahkotanya oleh Max. Olah karena itu Lola tak ingin menghakimi apapun.
Lola tetap mendukungnya. Apalagi dia hidup dan dibesarkan di panti asuhan sejak kecil. Tak punya orangtua, jadi, dia sering merasakan satu nasib dengan gadis itu.
Maureen memiliki keluarga, tapi tak pernah menyanyanginya. Itulah yang membuat mereka makin dekat karena memahami satu sama lain.
Lola melirik dan menyadari seluruh leher temannya masih tersisa stempel merah kepemilikan Max, "Kau berpenampilan seperti ini sejak pergi darinya, Ren?" dia dengan kode bibir sedikit dibuat kerucut.
"Maksudnya?" Irene menautkan kedua alisnya. Tanpa ragu Lola menunjukkan semua letak tanda di lehernya. Hampir seluruh leher di tunjuk oleh Lola. Irene gelagapan dan sedikit malu.
"Apa dia benar-benar sekuat itu? Sehari sampai minta berkali-kali denganmu?" dengusnya, masih tidak mempercayainya sambil menggoda temannya. Wajahnya berubah merona ketika diungkit hal itu.
"Uhm, sepertinya sih ... ini saja kami sudah melakukannya tiga kali. Kalau dia tak membebaskanku, mungkin entah berapa kali lagi aku melakukannya," ucapnya berkata terus terang. Lola membelalakan mata dan bergidik ngeri tidak bisa membayangkannya. Gadis itu berpikir Max maniak sexx.
“Laki-laki gila. Apa dia tak merasa lelah saat melakukannya? Mungkin kalau aku jadi kamu sudah mati!” Lola masih berkomentar sedikit nyeleneh.
“Hahaha, jangan berpikir seperti juga, La. Aku pun sadar melakukannya. Jadi bisa dibilang bukan hanya kesalahan dia saja,” sambung Irene. Wajahnya kembali merona saat memikirkan hal itu.
"Hah, sudah jangan bahas lagi. Aku tidak mengerti. Lalu apa rencanamu sekarang?" Lola mengalihkan pembicaraan kearah yang lebih serius.
Maureen berpikir sesaat, "Aku kangen mama, La, maukah kau menemaniku menemuinya kesana? Aku takut, tak bisa menahan tangisku kalau bertemu sendirian!” Irene tertunduk tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja di pipinya. Membuat suasana haru, Lola pun tak kuasa menahannya dan ikutan menetaskan air matanya.
"Aku temani, Ren. Mulai sekarang kita bisa bersama-sama. Kau tak perlu kembali ke rumah terkutuk itu. Aku yakin, kau pasti bisa melewati semuanya. Aku akan membantumu mencari pekerjaan seperti rencana awal kita!" Lola berpelukan dan mengusap punggungnya. Menenangkan. Gadis itu mengangguk pelan dalam pelukan.
"Aku pinjam bajumu dulu ya, La. Aku tidak nyaman memakai pakaian seperti ini," ucapnya mengusap gaun yang dipilihkan oleh Max tadi pagi.
“Pakai saja, untungnya kita punya badan seukuran!” sahut Lola.
“Uhm, terima kasih banyak, La!” Matanya terbelalak saat tangannya berhenti di bawah perut.
Maureen tak merasakan keberadaan kain miliknya. Dia kembali membekap mulutnya. Ya ampun, pasti ketinggalan di mobilnya. Aku kan belum sempat memakainya lagi, dia sudah menarikku keluar. Pikiran gadis itu bertraveling pada wajah tampan Max. Ya ampun, kok jadi membayangkan wajahnya lagi sih? Gadis itu menggeleng kuat. Menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdebar saat memikirkan Max, lalu wajahnya kembali memerah begitu saja.
Maureen membuang jauh nafasnya berkali-kali seperti orang yang melahirkan. Menenangkan diri dan mengambil salah satu baju Lola dan menggantinya di kamar mandi. Mereka bersiap akan pergi ke rumah sakit.
“Stop disini saja, Pak!” Maureen berkata saat taksi mereka akan sampai pada rumah sakit tujuannya. Namun, gadis itu menghentikannya di depan apotik.
“Mau beli apa, Ren?” Lola mengekori turun gadis itu masuk ke apotik.
“Sssttt!” gadis itu memberi kode satu telunjuk dibibirnya dan setelah berpikir beberapa saat Lola mengerti maksud temannya itu.
“Kau serius dengan itu?” ucap Lola saat melihat Irene memasukkan beberapa obat yang dibelinya ke dalam tas.
“Uhm, buat jaga-jaga saja. Tidak aku minum sekarang. Aku kan sudah berjanji padanya tidak akan meminta pertanggung jawaban!” tegas Irene. Entah kenapa saat dia berkata seperti itu hatinya kembali terasa nyess. Sakit. Seolah dia tak ingin melakukan hal itu.
“Yang kuat ya, Ren. Tetap semangat!” dukungan itu saja yang bisa Lola berikan. Dia sendiri tak mungkin bisa bersikap tegar seperti gadis itu.
“Mau bawa sesuatu untuk mamamu, Ren?” Lola melirik satu stand buah sebelum dia masuk ke rumah sakit.
“Terima kasih, La, tapi tidak usah. Kau kan tahu bagaimana kondisi mamaku. Dia masih belum siuman,” Maureen terlihat sedih saat membahas keadaan ibunya.
Gadis itu menggandeng lengan Lola saat memasuki rumah sakit. Tubuhnya masih bergetar. Lola menyadarinya hanya bisa melirik kondisi temannya. Semoga mamamu cepat sembuh ya, Ren. Pasti sangat bahagia masih memiliki seorang keluarga. Aku akan selalu berdo’a yang terbaik untuk segalanya. Lola berdo’a tulus dihatinya.
“Kok mamaku tidak ada ya, La?” gadis itu mengamati seluruh ruangannya yang benar-benar kosong, seolah tak ada pasien didalamnya yang pernah di rawat.
Lola ikutan panik, dia sempat berpikir yang bukan-bukan, “Uhm, tidak mungkin kalau mama-mu meni—,” gadis itu menghentikan perkataannya. Melihat wajah gadis itu yang sudah pucat pasi dia tidak tega.
“Ti-tidak mungkin, La. Mereka pasti mengabariku jika ada hal yang buruk terjadi ...,” otaknya tak bisa berfungsi dengan baik saat memikirkan ibunya. Memikirkannya, dia sudah tidak baik-baik saja membuat gadis itu meleleh dengan tangisnya.
“Te-tenang dulu, Ren. Kita ke rumahmu saja, kita tanya pada ibu dan kakak tirimu itu. Mungkin saja ini adalah ulah mereka.” Cetus Lola. Mereka memang tak punya pilihan orang lagi selain mereka.
Sejenak pikirannya melayang pada Shasa dan pertengkaran terakhirnya yang beradu sumo. Tidak menutup kemungkinan kalau kakak tirinya itu memang menyimpan dendam dengannya. Mama ... dimana kau? Aku berharap kau baik-baik saja. Tolong, jangan membuatku takut, ma ....
Maureen terus memeluk Lola dengan erat. Isak tangisnya masih saja belum berhenti. Pikirannya kacau, "Bagaimana kalau kakakku menyakiti-nya, La? Aku tak sanggup hidup lagi. Aku tidak mau hidup lagi kalau tidak ada mama!" Maureen masih saja terisak, air matanya tak bisa berhenti.
“SSttt, jangan berpikir yang bukan-bukan. Tenanglah. Kita akan tanyakan dengan mereka, uhm,” Lola tak mampu berkata lagi. Dia hanya bisa merekatkan pelukannya agar hati Maureen sedikit tenang.
Taksi mereka berhenti di pintu gerbang rumah keluarga Aditama. Belum lama gadis itu meninggalkan rumah, tapi suasana terasa berbeda dan asing buatnya. Suasana langit sangat mendung, mendukung dengan suasana hatinya.
Penjaga pintu yang mengenalinya segera membukakan gerbang, “Selamat malam, Nona Irene!” sapanya memberi hormat dan mengangguk. Gadis itu hanya membalas dengan anggukan tanpa berbicara dia memasuki pekarangan rumahnya.
Dia menekan bel pintu rumahnya. Pintu terbuka. Di ambang pintu Wina yang menyambut kedatangan mereka.
“Kau? Ada apa kau kesini?” sambutan ketus yang gadis itu dapat. Dia bahkan belum mengeluarkan sepatah katapun.
“Siapa, Ma?” Shasa bersuara dan menghampiri Wina.
Matanya langsung memicing. Shasa maju dan mendorong tubuh gadis itu. Hampir tersungkur kalau tidak Lola menangkapnya.
“Cih. Jangan bilang kau mau pulang setelah kau diusir oleh!” cetus Shasa. Wina seketika mendekati putrinya.
“Siapa yang diusir? Ma-maksudmu, dia diusir oleh tuan Max?” Wina meminta penjelasan dari putrinya.
“Iya, Ma. Dia, sudah diusir. Dia, sudah tidak jadi wanita panggilan tuan Max lagi. mungkin, dia pikir kalau pulang kita akan menerimanya!” cetus Shasa mengompori ibunya agar tak menerima gadis itu kembali ke rumahnya.
“Tidak, tidak. Aku tidak akan menyetujuinya. Pergilah. Aku tidak ingin melihatmu menginjakkan kakimu lagi disini!” Wina kembali mendorong tubuh mereka. Kali ini kedaunya tersungkur di pekarangan rumahnya.
“Ma, dengarkan aku dulu, aku mohon ... Ma,” Irene mencoba bangkit dibantu oleh Lola. Dia mencoba menghampiri ibunya.
“Pergi. Aku tidak ingin mendengar apapun. Kau kan sudah memutuskan sendiri untuk keluar dari sini. Jadi, jangan harap kau kembali!” Wina tak memberi kesempatan gadis itu berbicara.
“Tu-tunggu, Ma. Aku mohon dengarkan aku dulu. Ma ...” Irene berlari mengejar mereka yang langsung menutup pintu. Gadis itu menggedor pintunya berkali-kali. Namun, tetap saja tak digubris oleh mereka.
“Mama ... buka pintunya, aku mohon, Ma ... Ma, katakan padaku dimana Mama menyembunyikan Mama-ku. Aku mohon, Ma ...,” Irene menggedor pintu sambil terisak. Dia sudah benar-benar kehilangan harapannya.
“Bagaimana ini, La? Mereka tak memberitahuku? Bagaimana keadaan mamaku, La?” tubuh Irene bergetar memeluk tubuh Lola. Menangis dengan tersedu dalam pelukannya.
“Kau dengar barusan, Sha, dia bilang, mencari mamanya? Kau apakan dia? Apa kau sudah membereskannya?” cetus Wina. Dia penasaran dengan rencana Shasa.
“Ya, seharusnya memang orang itu sudah tidak ada lagi sih, Ma. Beberapa hari lalu aku sudah menyuruh seseorang untuk melenyapkannya. Aku tak ingin suatu hari nanti dia menjadi batu sandungan untuk kita!” Shasa berkata terus terang dengan Wina.
“Bagus, bagus. Tapi, jangan bilang apapun dengan papamu. Kau tahulah, papamu itu masih sedikit bodoh kalau dengan urusan wanita!” cetus Wina. Mereka merasa telah berhasil melenyapkan ibu Maureen.
Cih, tak akan kubiarkan kau kembali ke rumah. Rumah ini sudah menjadi milik keluargaku. Jadi, gadis siall, nikmatilah hidupmu menjadi gelandangan.