
Baru saja dia menikmati terkekeh bersama. Ponsel Irene bergetar, "Yah, La, panjang umur banget! Kingkong jelekku menelpon," ucap Irene melirik Lola.
"Ini kan belum 1 jam, Ren, mau apa dia? " Gadis itu mengangkat kedua bahunya menjawab pertanyaan Lola. Dan langsung memberikan kode pada gadis itu untuk tutup mulut.
"Iya, hallo," sedikit malu-malu gadis itu mengangkatnya. Dia memalingkan wajahnya agar tak terciduk yang sudah terlihat seperti udang rebus.
"Kau dimana?" suara bariton dari seberang telpon membuat debaran jantung Irene tiba-tiba mau meledak. Dia tak bisa membohongimu lagi kalau hatinya sudah benar-benar tersentuh oleh perlakuan manis kingkong jeleknya itu.
"A-ku, baru saja keluar dari rumah. Baru saja berangkat. Aku akan ke tempat temanku dulu mengantarkan makanan tadi, lalu aku mau berbelanja dengan Lola, boleh kan?" sekalian saja gadis itu meminta izin. Dia tak ingin telponnya mengubah keputusan Max.
"Uhm, jangan lama-lama. Aku sudah kangen. Bisakah kita bertemu dulu sebelum kau ke tempat temanmu itu?" Irene membulatkan matanya dengan lebar. Benar-benar tak mengira kalau kingkong jeleknya akan berkata seperti barusan. Dan benar kata Lola, mereka berpisah pun baru dalam hitungan menit.
"Aarrghh, ini kan baru beberapa menit. Aku saja baru keluar, masa sudah minta bertemu. Aku yakin kau juga pasti belum jauh dari rumah. Ayolah, Max, jangan mencari-cari alasan lagi!" Irene protes. Dia merasa Max akan melanggar janjinya.
"Memang kau tidak kangen denganku?" lagi-lagi kata yang membagongkan di telinganya. Max bahkan mengeluarkan gombalan recehnya. Sejak gadis itu memutuskan untuk menerima menikah dengannya, pikiran Max makin menggila saja.
Spontan saja wajah Irene makin merona dibuatnya. Apalagi perkataan Max begitu lemah lembut penuh dengan rayuan, "Ya ampun, Max. Kita baru saja berpisah 10 menit. Bagaimana kau bisa bilang sudah kangen denganku!" Makin menjadi protes yang dikeluarkan oleh Irene.
"Jangankan 10 menit sayang, aku dekat-dekat saja sudah kangen. Ayolah, kau tidak usah ke tempat temanmu itu. Lebih baik kau menemaniku di kantor!"
Eyaaa ... Makin menggila Max dengan gombalannya. Hatinya bahkan sudah bertekuk lutut untuk gorila kecilnya.
Membuatku merinding saja!" cetusnya. Dan benar-benar memang seluruh tubuh gadis itu meremang.
"Tuh kan, kau saja sudah bisa merasakan. Ayo berhentikan mobilnya, kau lebih baik ikut denganku ke kantor!" Max tetap bersikeras dengan keinginannya. Namun, gadis itu menolaknya. Kemudian diatas kepalanya terus berputar, perkataan Max barusan dan dia menolehkan wajahnya ke belakang.
Astaga, mobilnya ada dibelakangku.
Irene mematikan telponnya dan menyuruh sopirnya berhenti.
"Ada apa, Ren?" Lola bertanya dengan bingung. Tapi, Irene menyuruhnya agar tetap tutup mulut.
Bisa-bisanya dia menguntitku melebihi seorang paparazi.
"Keluar kau!" Maureen berkacak pinggang menghampiri pintu Max. Martin tampak membantu membukakan pintu untuk tuannya.
"Peluk aku!" Max tanpa tahu malu merentangkan sayapnya dan suaranya persis seperti anak kecil yang sedang merengek meminta di gendong.
"Ya ampun, Max! Apa sih? Kau ini, malu tahu!" segera gadis itu melompat ke pelukannya. Dia sudah tak bisa menahan malu karena sikap kingkong jeleknya yang merengek seperti anak kecil.
"Untuk apa malu. Aku kan sebentar lagi akan menjadi suami-mu. Max Mollary dan Maureen Aditama akan segera menikah. Mereka akan resmi menjadi sepasang suami-istri!" Max berkata dengan sangat jelas sambil memeluk gorila kecilnya dengan erat.