
Pupus sudah harapan Irene untuk mendapatkan jawaban dari ibu dan kakak tirinya itu. Dia, tak memiliki kesempatan untuk bertanya dengan jelas tentang keberadaan ibunya. Dia bahkan tak bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri. Rumah yang menyimpan banyak kenangan antara dia dan ibunya.
“Tenang, Ren ... jangan berpikiran jelek. Kita pulang dulu ya. Aku yakin mereka sengaja melakukan ini padamu. Mereka ingin kau terus terikat dan menuruti semua perintahnya!” Lola memberikan sedikit ketegaran untuk temannya.
Dia pun geram, ingin sekali ikut campur dengan masalahnya. Maureen hanya mengangguk pasrah ketika Lola memapahnya keluar dari kediaman keluarga Aditama.
***
“Sudah jam berapa ini, Martin?” Max mondar mandir tidak jelas. Sejak kepulangannya siang tadi hatinya masih tak bisa berhenti memikirkan gorila kecilnya.
“Jam 9 malan, Tuan!” sahut Martin sambil melirik jam di lengannya.
“Apa dia tak menghubungimu?” dia mendelik sambil berkacak pinggang pada Martin. Laki-laki itu hanya menjawab dengan dua gelengan mantapnya.
“Hah, berani sekali dia. Lacak keberadaannya, sekarang!” Max kalang kabut sendiri. Dia khawatir, tapi dibandingkan dengan itu dadanya terasa sesak saat melihat gorila kecilnya tidak berada di sampingnya.
Benar-benar menyebalkan. Dia tak menghubungiku sama sekali. Apa aku terlalu lunak padanya, sehingga dia bisa seenaknya. Tunggu saja, aku pastikan menghukummu dengan berat.
Max terus bergerutu. Seharian di mansionnya hanya berteriak dan marah-marah tak jelas. Memukuli beberapa pengawalnya tanpa sebab. Memecahkan barang-barang ketika kesal saat membayangkan wajah gorila kecilnya yang tak pulang-pulang.
“Martin, siapkan satu kandang besar di belakang. Kalau perlu pakai besi baja dan sengatan listrik. Aku akan memberikannya pelajaran!” geram Max memberikan perintah.
Dan lagi-lagi dia melampiaskan kekesalannya pada pengawal. Memukuli mereka hingga babak belur.
Martin hanya menggelengkan kepalanya saat melihat aksi tuannya. Dia, kembali menjadi tuan yang arogan dan seenaknya. Cepatlah pulang nona Maureen kalau tidak dunia kami bisa hancur. Martin merutuki nasib sialnya setelah kepergian gadis itu beberapa jam lalu.
“Tuan, sepertinya nona Maureen berada di dekat kediamannya!” lapor Martin menghampirinya.
“Hah, dia kembali ke rumahnya? Setelah di usir pun dia masih tetap kembali. Benar-benar gadis tak punya otak. Ayo, kita jemput dia!” Max terlihat tak sabaran. Dia geram, melangkah dengan cepat menghampiri mobilnya.
“Apa kita kembali ke rumah sakit saja, Ren? Kita kan belum sempat bertanya tadi!” Lola memberikan saran yang sempat mereka lewatkan. Karena terlalu panik mereka tadi langsung ke kediaman Aditama.
“Tidak, La. Percuma saja kita bertanya. Mereka semua pasti sudah disuap oleh kakakku. Mereka tak mungkin membocorkannya.” Irene menghapus air matanya.
Mereka masih berjalan menyusuri jalan yang tanpa mereka sadari air dari langit mulai turun. Awan pun terlihat menghitam. Beberapa kilatan cahaya menerpa wajah mereka.
“Kita harus cepat, Ren, kalau tidak mau kehujanan!” Lola menarik tangan gadis itu untuk ikut berlari dengannya.
Saat bersamaan mobil Max melintas dan melihat gorila kecilnya sedang saling memeluk di sudut jalan. Mereka sedang berteduh karena sudah tak bisa menghindari hujan yang turun dengan deras.
“Berhenti!” Max berkata tepat dihadapan mereka. Melihat gorila kecilnya menggigil dan saling berpelukan, Max berjalan suram kehadapannya. Tentu saja dengan beberapa pengawal yang memayunginya.
“Apa yang kau lakukan?” hardiknya. Dia, seolah tak sabar dan langsung memicing tajam pada Lola.
“Eh, Ren, bukankah dia—,” tunjuk Lola. Pinggangnya di sikut gadis itu jadi dia segera menurunkannya.
“Kemarilah!” ucapnya lagi. Gadis itu menggeleng kuat. Bahkan tak bergerak dari posisinya.
Mau apa lagi sih? Kenapa dia tiba-tiba datang? Ini kan hanya baru beberapa jam saja. Jangan bilang, dia sengaja kesini untuk menarik ucapannya. Hah, bisa gawat kalau begitu. Gadis itu bergulat dengan pikirannya. Saat dia sadar ada yang tak beres.
Cih, berani sekali dia mengabaikanku. Aku sampai khawatir dengannya, tapi inikah balasan darinya. Umpat Max dihatinya. Dia, tak terima gorila kecilnya menghidar.
“Argh, sakit, Max! Lepaskan!” pekiknya. Tangan satu berusaha melepaskan. Tapi, mata mendelik saat Lola diseret paksa masuk ke dalam mobil salah satu pengawal Max.
Bukan melepaskan, Max yang sudah tak bisa jauh darinya makin mencengkram dengan erat. Dia menyeret gorila kecilnya masuk mobil dan melemparkan kasar tubuhnya. Mobil pun bergerak setelah mendengar dehaman dari Max.
“Arrgghh! Kingkong gila, apa yang kau lakukan, hah!” marah gadis itu segera mendaratkan pukulan-pukulannya di dada Max. Dia kesal dengan laki-laki itu. Baru saja dia merasakan sedikit bernafas, sekarang laki-laki itu sudah mengurungnya lagi.
Max tak bergeming. Dia menerima semua amukan marah dan kesal gorila kecilnya. Hah, aku tidak perduli. Yang penting, aku bisa membawamu pulang. Hanya itulah yang berada dihati Max.
“Argghh!” gadis itu benar-benar geram dengan sikap Max. Dengan nafas tersengal akhirnya dia kelelahan sendiri saat memukulinya. Dia seperti tak merasakan sakit sedikitpun.
“Kau kan sudah janji melepaskanku. Ini bahkan belum 24 jam dari waktu yang kau janjikan. Kenapa, Max? Kenapa?” gadis itu menangis tersedu meminta penjelasan.
Hatinya kacau. Semua rencana yang sedang disusunnya kembali berantakan karena ulah Max.
Laki-laki itu pura-pura tak mendengar semua umpatannya. Baju gadis itu sudah basah. Max meliriknya terus karena kaos dan rok yang dipakainya sudah tembus pandang. Tubuhnya terus bergetar karena kedinginan.
“Hah!” dia malah menarik gadis itu kedalam pelukannya. Setelah dia berhenti memukulinya.
“Memangnya kau tidak kangen denganku, hah!” akhirnya Max tak kuasa lagi melontarkan kata-kata yang di pendamnya.
Kedua tangan hangatnya menyentuh pipi gorila kecilnya yang seakan membeku.
Gadis itu menggeleng, air matanya perlahan pecah kembali. Entah kenapa dia ingin sekali menangis. Dadanya terasa sesak saat memikirkan keberadaan ibunya yang belum di ketahui.
“Benarkah?” wajah Max mendekati lehernya. Membuat tubuh gadis itu meremang tak karuan.
Dia menangis, tapi merinding disko saat hidung Max mulai menyentuh lehernya.
Max menghapus air matanya. Walaupun dia tak tahu apa yang sedang gorila kecilnya pikirkan. Dia, tetap tak menyukai gadis itu menangis dihadapannya.
“Kenapa kau menangis, hah?” kedua tangannya masih menyentuh pipinya dengan lembut. Berkata dengan sangat lembut membuat hati gorila kecil itu luluh.
Gadis itu tetap menggeleng pelan dan tak sampai sepersekian detik, dia malah melingkarkan tangannya di leher laki-laki itu. Menangis. Meraung dengan sangat keras.
Max tak punya pilihan hanya memeluknya dengan erat. Dia menenangkannya seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
“Aku mau mati saja!” ucapnya terisak menarik wajahnya perlahan dari pelukan Max.
“Apa kau bilang?” delik Max.
“Aku mau mati. Mati. Kau memang tuli, ya!” teriaknya histeris. Max menarik sudut bibirnya membentuk senyuman.
“Kau boleh mati, setelah kau melahirkan anakku. Mengerti!” jawabnya. Irene yang kesal kembali memukuli dadanya pelan.
“Kau jahat. Sama saja dengan mereka. Aku ben—,” Max menarik wajahnya. Dia sudah tak kuat lagi menahan keimutan gorila kecilnya. Dia melahap lembut bibir gorila kecilnya.