MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
SEPERTI MELIHAT HANTU



“Kak Max , kau kenapa sih? Memangnya apa salahku?” Karina sudah memasang wajah memelasnya, meminta dikasihani.


“Kau masih saja bertanya? Kau ini tak sadar diri atau hanya pura-pura bodoh dihadapanku!” perkataan tajam dan menusuk langsung menghujam Karina.


“Apa aku salah padamu, Kak Max? Aku hanya menyukaimu saja. Aku berjanji padamu, Kak, aku tidak akan seperti kak Shareen yang melukaimu. Aku berbeda dengannya. Aku akan selalu setia denganmu!” cetus Karina. Dia akhirnya mengutarakan perasaan pada Max yang telah disimpannya bertahun-tahun.


“Kau tidak salah. Aku hanya tak menyukaimu. Pergilah, sebelum moodku berubah!” ucapnya datar dan memberi kode pada Martin agar anak buahnya mengusir Karina.


“Katakan alasannya, Kak Max. Aku tetap tak bisa menerimanya. Aku sudah berada disisimu selama ini. Selalu sabar dan menuruti kemauanmu. Kau bilang aku pergi, aku pun pergi. Tapi, inikah balasanmu padaku, Kak Max!” Karina tetap tak terima Max  lebih memilih gadis yang menurutnya biasa saja.


“Aku tak punya alasan. Martin!” Max bersuara bariton. Telinganya sudah mulai jengak mendengar rengekan yang menurutnya menyebalkan dari Karina.


“Tidak. Aku tidak mau pergi, jangan usir aku, Kak Max. Aku mohon!” Karina berteriak histeris. Dia berontak saat dua pengawal menyeretnya pergi.


“Ada apa sih, Ren? Kok dia sampai teriak seperti itu?” Lola kebingunggan saat mereka makan mendengar teriakan memilukan dari Karina. Dia, menangis seperti anak kecil yang terdengar sampai di meja makan.


“Terserah saja! Aku capek mikirin begituan. Daripada begitu, lebih baik aku memikirkan bagaimana caranya mendaparkan informasi keberadaan mamaku dari kakakku itu,” cetus Maureen yang enggan memikirkan hal lain yang tak penting.


“Uhm, benar juga sih, hehehe. Omong-omong, Ren, bolehkah aku membungkus makanan disini?” canda Lola. Dia, merasa semua makananya enak dan sangat istimewa.


“Akh, kau jangan pulang. Disini saja menemaiku?” Maureen tak ingin sendirian atau ikut bersama Max ke kantor.


"Di-disini? Yang benar saja, Ren? Memangnya dia memperbolehkan? Sudah jangan membuat masalah lagi. Aku lihat laki-laki itu bukan orang yang mudah dihadapi. Semakin kau menolaknya, nasibmu pasti akan lebih sial. Lebih baik kau menurut saja untuk sekarang ini." Lola memberikan saran terbaiknya.


Dia pun tak ingin teman terbaiknya lontang lanting di jalan. Selain itu Lola merasakan bahwa Max bisa menjadi solusi untuk Maureen mencari ibunya.


"Kok, kau bilang begitu sih, La? Kau, keberatan menampungku?" Irene sedikit cemberut saat mendengar saran dari Lola.


"Tidak, Ren. Aku pikir, dia bisa menjadi solusi untukmu!" tegas Lola.


"Solusi?" Irene masih tak mengerti dengan ucapan Lola.


"Kita kan tak mungkin bisa menembus pertahanan kakakmu itu. Tapi, aku rasa dengan kekuasaan yang dimilikinya. Informasi seperti yang sedang kita cari pasti sangat mudah dia dapatkan, Ren!"


Ucapan Lola sedikit memberikannya pencerahan padanya. Tapi, gadis itu berpikir kembali, jika dia meminta bantuannya. Konsekuensi ataupun imbalannya akan membuat dirinya terkekang dalam penjara Max.


"Memangnya apa perbedaan? Toh, kau memang sudah di kontak mati dengan dirinya kan? Aku yakin, kau lari kemanapun dia pasti akan mengejar dan mendapatkanmu. Ya, anggap saja kau meminta pertolongannya, tapi dengan begitu kau juga bisa tahu keadaan dan keberadaan mama-mu!"


Lola mengingatkan kembali kondisinya saat ini. Dia, tak punya pilihan untuk menolaknya. Sekali pun dia mencarinya sendiri, aksesnya pasti akan sulit dia tembus.


"Baiklah, aku pikirkan lagi nanti, La. Aku akan mencoba berbicara dengannya!" Maureen berkata dan dia melirik Bertho.


"Kemarilah," panggil Maureen sambil celingak celinguk.


"Maaf, Tuan Max," seorang pelayan menghampiri Max dan membawa sebuah tas saat dia akan berjalan ke ruang makan.


Martin maju dan mengambil tas yang akan diberikan pelayanan tadi. Dia, memeriksanya dan setelah melihat isinya, "Dimana kau temukan?" Martin bertanya penuh penekanan.


"Saya menemukan saat membersihkan kamar Tuan Max, saya pikir isinya pasti barang pentingnya Tuan Max!" Jelas pelayanan tadi.


"Baik, pergilah!"


"Apa isinya Martin?" Max menatapnya tajam. Martin tak yakin akan memberi tahu isinya pada tuannya.


"Sepertinya tas ini milik nona Maureen, Tuan. Tapi," Tetap Martin ragu menunjukkannya.


"Berikan padaku!" Max tak sabar dan merampas dan melihat isinya.


Cih, benar-benar gorila kecil nakal. Dia, sungguh berencana tak memiliki anak denganku? Dengusnya kesal dan langkahn besarnya melaju cepat sampai ke meja makan.


Sampai di meja makan, dia melihat pemandangan yang membuat matanya sakit. Maureen sedang membisikkan sesuatu pada Bertho.


"Apa yang sedang kalian lakukan? Hah!" Max berteriak keras. Bertho sampai melompat karena terkejut mendengarnya.


Tubuh Bertho bergetar, keringat besar-besar seketika muncul di dahinya. Wajahnya pucat seperti melihat hantu. Lola sampai tersedak karena kemunculan Max yang tiba-tiba.