
Maureen membuka matanya. Dia melihat, Max baru saja keluar dari kamar mandi. Laki-laki dengan roti sobek itu menghampiri ranjangnya, “Selamat pagi, kau sudah bangun!” Max mendekatkan wajahnya dan mengecup kening gorila kecilnya.
Kembang api seperti menyala diatas kepala gadis itu. Dia, tak menyangka dapat kejutan manis dari kingkong jeleknya saat membuka mata.
“Kau mau mandi atau sarapan dulu?” kata Max saat mengenakan dasi bertanya padanya.
“Uhm, sarapan. Tapi, bagaimana dengan temanku, Max?” gadis itu tetap saja khawatir pada kondisi Lola.
“Tenang saja. Dia, ada di kamar bawah,” ucapnya. Maureen menyibak selimut dan segera melompat kearah pintu. Namun, Max menarik lengannya.
“Mau kutembak kepalamu?” cetusnya. Dia, mendelik dengan lingerie yang masih dipakai gorila kecilnya.
“Oppss, lupa!” dia berbalik dan berlari kecil kearah wardrobe, meraih apapun yang dapat dia tarik dengan mudah. Dia mengenakan sweater milik Max yang sangat kebesaran dipakai olehnya.
“Sudah boleh kan?” dia tak berkomentar. Hanya mengikutinya turun.
“Selamat pagi, Nona Maureen,” sapa Martin sambil membungkukkan badan.
“Kau menginap disini?” sahutnya. Dia, seperti tak pernah melihat Martin pulang.
“Tidak, Nona, saya baru saja datang!” gadis itu hanya manggut-manggut mendengar jawaban Martin.
Ketika Martin menatap tuannya. Dia, tahu suasana hatinya sudah tidak buruk. Syukurlah, kondisi tuan sudah lebih baik.
“Setelah sarapan, kau ikut ke kantor denganku!” Max berbicara saat gadis itu berlari mencari keberadaan Lola.
“Tidak mau! Ada Lola, aku mau main saja seharian dengan dia!” Lola baru saja keluar di bawa oleh dua orang pengawal seperti seorang tahanan.
“Irenee!” teriaknya. Berlari dan memeluknya.
“Hei, hei, lepaskan tanganmu. Jangan sentuh dia!” hardik Max.
“Aku juga tidak tahu, La, sejak semalam dia bilang begitu.” Otak Maureen berputar memikirkan ucapan yang keluar dari mulut Max.
Astaga jangan bilang dia juga phobia dengan orang yang menyentuhku.
Irene membekap mulutnya dan menatap Max yang masih memicing tajam. Mereka belum melepaskan pelukannya. Seketika Irene menjauh.
“Kau, bukan hanya kingkong jelek, tapi juga gila. Dia, ini wanita, masa kau cemburu dengannya sih?” dengus gadis itu melontarkan perkataannya.
"Aku tidak perduli mau dia, wanita atau laki-laki. Pokoknya, aku tidak suka kau disentuh oleh siapa pun!"
Persis seperti orang cemburu terhadap laki-laki. Max menarik tangan gorila kecilnya menjauh darinya.
"Selamat pagi, Kak Max!" suara seseorang langsung merubah suasana.
Karina dengan tampilan super ketat dan sexy sudah berdiri dihadapan mereka.
Pagi-pagi sudah datang saja. Bikin mood-ku jelek. Maureen menghempaskan tangan Max dan menarik tangan Lola ke meja makan.
Apa aku tidak salah lihat? Wanita siluman rubah itu sudah mendahuluiku? Tapi, melihat baju yang dia pakai, itu bukankah punya kak Max. Cih, bagaimana dia bisa memakai dan menguasai apapun tentang kak Max.
"Mau apa kau kesini?" Max berkata ketus. Karina mencoba mendekati, tapi Max mundur perlahan dengan pasti.
"Kak Max, ada apa denganmu? Bukannya kau sudah mengusir wanita itu?" Karina kesal sekaligus penasaran bertanya pada Max.
"Apa urusannya denganmu? Mau dia kembali atau pergi. Aku yang menentukan. Bukan urusanm!" tambah ketus dia menjawab pertanyaan dari Karina.
Max terganggu olehnya. Dia, sudah mirip seperti serangga penganggu.