
Maureen baru saja melangkah keluar dari gang sempit tadi. Tak diduga orang yang paling tidak ingin dia temui, menghadangnya.
"Oh, jadi seperti ini wanita pelihara tuan Max yang katanya kaya raya dan uangnya tak akan habis dimakan tujuh turunan!" suara Shasa menggema. Matanya memicing tajam pada Maureen.
Shasa sengaja mencacinya di jalanan. Dia tak sungkan berteriak mencari perhatian. Agar semoga orang melihat pertunjukan yang akan dia lakukan.
Maureen menguatkan hatinya. Walaupun eratan berada di kedua tangan. Kali ini, dia tak ingin terlihat lemah. Dia, berjalan melewati begitu saja. Mengacuhkan semua ucapannya.
Shasa berang. Selama ini yang dia tahu adiknya tidak akan pernah bersikap seperti tadi. Adiknya yang dulu pasti merenggek meminta belas kasihnya. Atau mencoba memohonnya untuk tak melakukan hal seperti itu.
"Hah, rupanya kau sudah besar kepala. Semenjak menjadi wanita pelihara, kau menjadi sombong!" Shasa terus menghujani gadis itu dengan perkataan menyakitkan. Dia ingin melihat sejauh mana adik tirinya itu bertahan dengan ucapan yang dia lontarkan.
Maureen menghentikan langkahnya. Dia kemudian berbalik. Dengan memberanikan diri, dia melangkah maju. Sepertinya, Shasa sudah tak sabar menunggu reaksinya.
"Sekarang apa lagi, Kak? Apa kakak belum puas juga? Kakak sudah menjebakku dengan orang-orang brengsek itu. Lalu, aku juga sudah keluar dari rumah seperti yang kalian inginkan! Apa masih belum cukup, Kak?" gadis itu menumpuk semua sesak dalam dadanya yang terus terbakar. Memberikan pembela diri. Dia tak ingin selalu ditindas oleh kakak tirinya.
Shasa makin barang. Matanya sudah keluar. Seolah-olah akan menelan gadis itu hidup-hidup.
"Kurang ajar! Berani sekali kau melawanku, hah!" satu tamparan bolak-balik keras mengujam di kedua pipi chubby-nya. Panas dan terbakar kembali dihati gadis itu makin membara.
Mereka berdua bergulat seperti atlet sumo. Shasa pun tersulut tak mau kalah. Dia membanting balik tubuh Maureen. Membalas tamparannya.
Shasa sudah seperti orang gila, rambutnya acak-acakan, bibirnya sudah robek karena balasan tamparan Maureen dan bajunya yang kekurangan bahan pun sudah di robek oleh Maureen. Gadis itu benar-benar tak bisa menahan diri lagi.
"Kau pikir aku takut denganmu, hah. Selama ini aku diam saja, bukan karena aku takut! Aku menahan diriku dengan sangat baik agar tak menjadi orang seperti kalian!" Maureen memuntahkan emosi yang seperti gunung berapi. Lahar panasnya akan membakar siapapun yang mendekatinya.
Tadinya orang suruhan Martin ingin mencoba mendekat. Membantu gadis itu. Namun, nyali mereka pun menciut saat mereka melihat kemarahan Maureen.
Mereka, urungkan karena mereka pun takut menjadi sasaran, saat melihat Maureen seperti singa kelaparan. Alhasil, mereka hanya bisa memberikan rekaman sebagai bukti pembelaan mereka.
Lola yang turun akan mencari sarapan. Melihat kerumunan dia pun kepo. Saat dia melihat sahabatnya sedang menggila, dia pun meminta bantuan untuk melerai. Menarik tubuh Maureen dari atas tubuh Shasa yang rambutnya sedang di jambak habis-habisan olehnya.
"Lihat saja, ini belum berakhir. Aku pasti membalasnya!" Shasa melontar umpatan dan bergegas pergi karena sudah menjadi tontonan banyak.
"Iren, sadar. Tenangkan dirimu!" Lola yang meminta sahabatnya untuk menarik nafas dalam-dalam. Meredakan emosinya.