
"Berani sekali kau menyebutkan nama laki-laki lain saat kau berada di atas tubuhku!" cetus Max. Akhirnya, dia tak sabar mengutamakan isi hatinya yang terpendam.
"Argghhh! Sakit. Lepas!" pekik Maureen. Tangan besar laki-laki itu menambah cengkraman di mulutnya.
"Cepat makan! Aku sudah sangat kelaparan denganmu!" Max tak sampai hati dan melepaskan cengkraman tangannya. Dia, merasa sudah benar-benar tertarik olehnya.
Sudah tahu kelaparan. Kenapa tidak makan saja. Malah komplen padaku. Dengus Maureen mencibirnya di dalam hati.
Maureen tak mau mendengarkan lagi ucapan Max. Dia, hanya fokus menghabiskan makanannya. Dan, Max menatap wajah gadis itu lekat-lekat sambil sesekali tersenyum dan mencubiti pipi gadis itu.
"Jangan ganggu, aku sedang makan!" pekik Maureen kesal dengan laki-laki yang mencoba akrab dengannya.
"Uhm!" Max menjadi patuh. Dan menuruti semua ucapan Maureen.
Maureen meletakkan sendok dan garpunya. Dia, sudah tak nyaman duduk dalam pangkuan.
"Aku sudah selesai makan, bolehkah aku turun," ucapnya, tapi Maureen sangat hati-hati saat menggerakkan tubuhnya. Dia tak ingin terlampau mengusik sesuatu dibawahnya.
"Aku masih sangat ingin seperti tadi!" Max berbisik lirih di telinganya. Maureen membalikkan wajahnya dan tetap saat wajah mereka saling berhadapan.
"Arrrggghhh, aku kan tadi bilang. Kalau kau berani menyentuhku lagi, akan ku patahkan tanganmu!" delik Maureen. Matanya membulat dengan lebar saat menatap Max.
"Kau lupa ucapanku tadi, aku sudah bilang akan membayarmu double. Jadi, service aku hingga puas!" dia tak mau kalah dengan gadis itu. Apalagi jiwanya mulai kembali membara saat melihat tingkah Maureen yang menurutnya menggemaskan.
Maureen bangkit dari pangkuannya, dia mendorong kasar tubuh Max. Martin dan semua orang yang menyakitkan membulatkan matanya dengan lebar.
"Ayolah, Tuan, antarkan aku pulang!" kakinya menghentak di lantai seperti anak kecil yang sedang meminta permen.
"Ahahahah, kau membuatku gila!" Max yang sudah dihinggapi rasa panasnya kembali mengangkat tubuh Maureen.
"Berto, siapkan lagi hidangannya dan bawa ke kamarku! Aku akan mandi dulu!" dia membawa tubuh Maureen secara paksa. Walaupun, dia meronta tetap tak diindahkan oleh Max.
"Kau gila, Tuan!" pekiknya saat tubuhnya di turunkan dalam bathtub berukuran besar. Dan, Max langsung menyalahkan airnya. Tak lupa Max meraih sabun dan menuangkan di dalamnya, bahkan aroma terapi sudah dinyalakan membuat pikiran mereka relex.
"Temani aku mandi, oke? Aku berjanji hanya menemani!" pintanya, tanpa ragu melepaskan semua kembali atribut yang dipakainya. Dan, dilemparkan sembarang di lantai.
"Ti-tidak! Aku tidak mau! Aku mohon, Tuan! Kau pasti berbohong padaku!" tubuh Maureen bergetar. Dia, benar-benar ketakutan.
Namun, Max tak memperdulikannya, dia malah melucuti semua pakaian Maureen yang sudah basah tersiram air mancur diatas kepalanya.
Dia menarik paksa Maureen agar duduk diantara pangkal pahanya, "Ssstt, diamlah sebentar. Semakin kau banyak bergerak kau sendiri yang akan menanggung akibatnya!" Max menyibakkan rambutnya dan berbisik penuh penekanan. Kali ini dia, benar-benar serius dengan ucapannya.
"Sungguh kau tidak akan melakukannya lagi? Aku mohon, Tuan!" dia menoleh dan langit saling bertatapan kembali.
"Tergantung usahamu! Jika kau terus menggodaku sambil menunjukkan wajahmu itu, aku pun tidak akan tahan!" goda Max.
Dia memang hanya ingin mengoda gadis itu. Max berharap gadis itu mengerti kemauannya dan tak membuatnya semakin marah.
***
Terima kasih buat yang sudah baca, jangan lupa tinggalkan like, favorit, rate 5 dan komentarmu ya.🙏🙏