
"Masih berani kau bilang tak pernah melihat belut listrik-ku?" Kali ini gadis itu kebingungan. Apa dia harus menggeleng atau mengangguk.
"Maaf, Max. Aku memang tidak tahu. Jadi, aku mohon ...," Irene mencoba memohon belas kasihnya.
"Aku tadi kan sudah bilang, kalau disana sampai bangun, kau harus bertanggung jawab. Buat dia tidur, apapun caranya!" Max berkata dengan sangat tegas. Walaupun sebenarnya dia mengambil banyak keuntungan dari kepolosan istrinya.
"Aku tidak tahu ada cara lain selain itu!" malu Irene mengakui tapi dia yang benar-benar polos membuat Max tersenyum kembali.
Huh, untung saja aku yang bertemu dengannya malam itu. Kalau dia benar-benar mengalami jebakan itu, aku yakin bukan hanya jiwanya yang hancur. Dunianya pun pasti akan hancur.
Sejenak Max merasa bersyukur untuk malam naas itu. Kalau dia tak pura-pura mabuk dan mengakhiri pertemuannya, mungkin yang bertemu dengan gadis penyelamat yang di carinya, bukanlah dia. Melainkan laki-laki lain.
"Aku punya cara lain. Aku akan mengajarinya sekali. Lain kali kau harus mempraktikkannya padaku!" Irene dengan wajah malu-malu. Mengangguk pelan. Dia pun tak mau terus menahan sesuatu yang sedikit demi sedikit berdenyut disana.
"Jangan teriak. Meski di depan kedap suara, aku tidak mengizinkan suara indahmu keluar!" Tentu saja Irene menyetujuinya.
"Perhatian baik-baik apa yang kulakukan, setelah ini kau harus mencoba menjinakkan belut listrik-ku!" Makin mengangguk Irene.
Max menyingkap gaunnya perlahan. Menurunkan sesuatu yang menghalangi pandangan indahnya disana. Membenamkan disana. Hanya dalam hitungan beberapa menit gadis itu sudah menggeliat. Dan, Max mengeluarkan wajahnya sambil mengusap bibirnya yang basah dari ulahnya tadi.
"Cobalah!" Perintah Max dan gadis itu pun mencoba meniru perlakuan Max. Hingga 20 menit kemudian. Irene malu-malu mengusap bibirnya. Ini pertama kali baginya melakukan hal segila itu. Jika, bukan Max yang meminta yang sudah berstatus resmi dengannya. Gadis itu pasti akan menolaknya.
"Ayo!" Max membuka pintu setelah mereka dalam kondisi rapi seperti awalnya.
"Kita mau kemana?" Irene terkejut saat suaminya menggandeng tangannya masuk ke salah satu gedung yang entah gadis itu pun tak tahu.
Max tak sedetik pun melepaskan pelukannya. Tangannya terus melingkar di pinggang gadis itu.
"Max, kita mau kemana?"
"Ssttt, diam. Sudah kubilang aku punya kejutan untukmu!" Meski tanya terus bergelantungan di hati. Tapi, perkataan Max adalah perintah. Tak mungkin bisa dirubah, sekali pun Irene yang mengatakannya.
Max membawa gorila kecilnya hingga lantai paling atas. Dia lagi-lagi tak melepaskan gandengan tangannya. Mata Irene membulat tak percaya saat dia melihat satu heli sudah menunggunya.
"Max!" Gadis itu melirik memanggil namanya.
"Ssstt. Ayo, aku bantu!" Max membantu gorila kecilnya naik, duduk dan memasang sabuk pengaman di punggung.
"Lama perjalanannya akan sekitar 3 jam. Kalau kau lelah, kau bisa beristirahat!" Max mengusap kepalanya. Melihat wajah paniknya, dia tahu, ini pengalaman pertama gorila kecilnya.
Syukurlah ... semua pengalaman pertamamu bersamaku, sayang.
Maximus Mollary tersenyum bahagia. Tak pernah dia merasakan bahagia seperti saat ini.
"Bagaimana kau bisa senorak ini, hah?" dengus Max kesal. Istrinya masih memegangi perutnya yang mual. Putaran di perutnya seperti dia naik rollercoaster. Walaupun notabene-nya sebagai putri dari kelurahan yang berkecukupan, Irene tak pernah merasakan wahana bermain itu.
"Argghhh. Sudah jangan memarahiku. Kepala sakit. Lagipula, aku tidak menyuruhmu membawaku ke tempat seperti ini. Apa jangan maksudnya kejutan? Ini kejutan yang sedang kau rencanakan? Hah!" Irene benar-benar mabuk perjalanan. Defini ngamuk tapi, otak dan perutnya tak sanggup menahan lagi. Dia malah muntah kembali.
Hah, benar-benar merepotkan. Kalau tahu begini pergi dengan pesawat pribadi mungkin lebih nyaman.
"Martin, buang dan bakar rongsokan itu. Benar-benar benda yang merepotkan. Berani sekali benda itu membuat istriku seperti ini!" Alhasil dari pada dia memarahi Irene lagi. Dan dia pun tak tega. Lebih baik melimpahkan kesalahan pada heli yang di tumpangi.
"Hei, kau gila. Mana ada orang gila sepertimu, membicarakan membuang heli seperti benar-benar membuang sampah!" Walaupun senang menahan perutnya yang mual akibat perjalanan. Irene tak ingin juga karena kesalahannya muntah, Max membuang dan membakar heli yang menurut kasat mata nilainya cukup tinggi.
"Aku tidak perduli. Kita kembali akan menggunakan transportasi lain. Martin akan membakar benda itu setelah kita pergi!" Mata Irene makin mendelik.
"Kau gila. Benar-benar kingkong jelek. Dengarkan aku, sampai kau berani membakarnya, aku berani menjamin 100% ... belut listrik-mu itu tidak akan bisa berfungsi dengan baik. Aku akan memotong-motongnya dengan gunting dan membuangnya ke laut. Biar dia di makan ikan hiu sekalian!" Irene tak mau kalah lagi soal saling mengancam. Dia hanya tak ingin, Max membuang barang-barang yang mungkin saja berfungsi dengan baik. Hanya ulahnya, barang itu harus di musnahkan.
Memangnya, dia mau memberikan kejutan apa sih? Sampai jauh-jauh datang ke pulau terpercil seperti ini.
Irene bergerutu sendiri saat tubuhnya berada dalam pelukan suaminya. Max tak mengizinkan istrinya jalan dengan kondisi mabuk perjalanan.
Mata Irene kembali di sajikan dengan sesuatu yang tidak di sangkanya. Di pulau yang cuacanya benar-benar segar terdapat sebuah tempat tinggal yang sangat nyaman. Hamparan laut dihadapannya.
"Kau sudah datang?" sapa seseorang menyambut mereka. Max menurunkan perlahan gendongannya dan mengambil air yang di berikan orang tadi.
"Minumlah, ini akan mengobati sedikit mualmu!" Irene menerima dan meminumnya perlahan.
Lalu, dia tersadar dengan seseorang yang berada di hadapannya.
"Argghh. Max, kenapa ada orang sinting ini? Apa yang sebenarnya sedang kalian berdua sedang rencana kan? Aku yakin, semua yang di rencana itu tidak akan beres!" Tuding
Irene satu berkacak pinggang dan satu tangannya menunjuk dengan botol air yang di minumnya barusan.
"Heh, mulut mu benar-benar masih tajam ya, gorila jelek!" Makjleb Irene mendengar ucapannya.
"Argghh. Dasar pria resek. Dokter gadungan!" Seketika amarahnya tiba-tiba meluap. Irene menyerang maju lebih dulu karena orang tadi memanggilmu gorila jelek.
"Dasar mulut beracun. Harusnya mulutmu aku cuci pakai bayclin agar putih dan bersih!" cetus Irene. Dia sepertinya mendapatkan kembali tenaganya. Dan sudah mendorong tubuh orang tadi hingga dia tersungkur di pasir pantai.
Tangannya sudah menjambak orang tadi. Dan membanting kan kepalanya beberapa kali di pasir pantai tadi.
Max membulatkan matanya. Dia hampir frustasi saat melihat istrinya. Layaknya seekor gorila yang sedang melakukan penyerangan.
Grep! Saking kesal dan cemburunya, Max mengangkat tubuh gadis itu seperti mencengkram seekor kucing yang sedang mencakar-cakar di sofanya yang berharga.