MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
TINGKAH MENGGEMASKAN



Shasa menelan salivanya saat Max membuka kemejanya. Dia tak menyangka Max akan melakukan hal senekad itu. Martin menyerahkan satu kemeja baru untuk tuannya.


Hmm ... benar-benar sempurna. Tampan, kaya, dan memiliki segalanya. Aku tidak mungkin meloloskannya begitu saja. Shasa berkata lirih. Dia tak ingin melewatkan kesempatan apapun. Jadi, dia pun menuruti saat Max menyuruhnya duduk di sebelah Martin.


“Uhm, kita bisa mampir di coffee shop sebentar, Tuan. Sepertinya disana tempat yang cocok untuk berbincang,” lirikan mata Shasa dari spion dan Max hanya memberi kode anggukan saat Martin meliriknya.


Mobil melaju ke tempat yang diingkan wanita itu. Saat turun saat mencoba mendekat, “Jangan sentuh. Jika kau tetap memaksa, aku pastikan mengirimkan mayatmu dengan sangat baik!” ancamnya.


Shasa menciut dan tak berani lagi mendekat. Dia harus kembali menyusun stategi untuk meluluhkan Max. Padahal penampilannya saat ini sudah sangat terbuka dan menggoda. Siapapun laki-laki yang memandang pasti


langsung klepek-klepek.


“Katakan, waktumu hanya sepuluh menit!” ucap Max terlihat tak sabar. Dan Martin mulai menghitung waktunya.


“Se-sepuluh menit? Anda tidak salah, Tu—,” Max mendelik tajam.


“Ah, baiklah, Tuan. Saya hanya ingin memberitahu, anda jangan sampai terjebak oleh wajah polos adik saya itu. Sebenarnya, dua malam kemarin saja dia sudah pulang menjelang pagi. Dan, anda tahu Tuan, sepertinya


adik saya itu mempunyai pekerjaan yang tidak baik!” Shasa mulai memberikan hasutannya. Dia benar-benar menjadi kompor meleduk.


“Apa kau bilang?” Max kembali memicingkan matanya. Menatap geram lawan bicaranya.


“Iya, Tuan, mungkin saja adikku itu bekerja di klub malam dan melayani laki-laki hidung belang,” cetusnya lagi, tanpa ragu. Dia benar-benar menjelekkan  Maureen.


“Sisa berapa lama lagi, Martin!” ucap Max.


“Tiga puluh detik lagi, Tuan!” sahut Martin.


“Apa?” Shasa sampai tidak percaya. Max terlihat ingin segera pergi dari hadapan wanita menyebalkan itu.


“Apa masih ada yang ingin kau bicarakan padaku?” Max berkata dengan dingin. Tanpa melihat sedikitpun wajahnya.


“Hah?” Shasa kelabakan sendiri mendengar ucapan dari Max. Dia benar-benar tak menyangka mendapatkan perlakuan seperti barusan.


Martin membukakan pintu untuk tuannya. Dan para pengawal Max menghalau Shasa untuk mendekat. Mobil Max kemudian melaju dengan sangat cepat.


***


Max membuka pintu apartemen tempat tinggal Maureen. Dia menyalakan lampu perlahan. Melihat sekitar ruangan yang berantakan penuh dengan kantong camilan yang dibuang sembarangan olehnya.


Maureen sengaja. Dia akan bersikap seenaknya. Menunggu sampai laki-laki itu kesal dan membuangnya ke jalan.


Namun, Max hanya tersenyum. Apalagi melihat gadisnya tertidur dengan memeluk guling dan selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Max tak mengganggunya. Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak berapa lama dia sudah keluar tanpa mengenakan sehelai benang pun. Max masuk dalam selimut gadis itu. Menarik tubuhnya kedalam


pelukan, “Uhm, kau sudah pulang?” Maureen berkata setengah sadar. Lagi-lagi hanya membuat segurat senyum di wajah Max.


Huh, mana tega aku memakanmu. Kelihatannya kau kelelahan menungguku. Baiklah, aku berbaik hati malam ini.


Satu kecupan mendarat dikeningnya. Maureen malah mendekap tubuh Max seperti guling. Dan tentu saja membenamkan wajahnya di dada besar dan berototnya itu.


Awas saja kalau kau banyak bergerak. Aku tak menjamin bisa menahannya.


Max memperat pelukannya. Dan memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya dia bisa tertidur dengan nyenyak.


“Hoowaahhh!” gadis itu melebarkan kedua tangannya dan menguap. Dan saat matanya terbuka dia melihat wujud Max yang sedang tertidur pulas seperti bayi.


“Huwa ... apa aku tidak salah lihat? Dia, tampan sekali kalau sedang tidur!” Maureen berusaha mengecilkan suaranya. Dia menekan-nekan hidung Max. Menyentuh kedua alisnya perlahan. Lalu tanpa sadar tangannya kini


sedang bermain mengikuti bentuk bibir Max.


“Ya ampun ... sexy banget sih!” celotehnya saat dia menurunkan pandangan matanya. Melihat roti sobek besar-besar milik Max. Dia pun tak sabaran menyentuh otot-otot itu, hingga tubuhnya sendiri tak sadar kalau Max membuka mata dan melihat tingkah menggemaskannya.