
Satu tamparan keras kembali mendarat di wajah Wina. Wanita itu meringis tajam. Kedua tangannya, memegangi pipinya kembali. Entah berapa kali dia mendapatkan tamparan dari laki-laki itu.
“Lancang! Berani sekali kau berbicara. Apa kau sudah tak menginginkan lidahmu itu? Jika kau sudah tak menginginkan, aku bersedia memotongnya!” Wina menggeleng keras.
Air matanya mengalir begitu saja, bukan karena takut, tapi dia kesal tidak dapat melakukan pembelaan dan perlawanan diri. Semua usaha yang mereka lakukan terpental seperti ketemu magnet berbeda.
“Sudah Ma, kita diam saja. Jangan bicara lagi, huhuhu!” Shasa menyikut pinggang ibunya. Dia, tak ingin menambah kemarahan bos preman itu. Lalu membuat meraka menghacurkan barang yang belum mereka hancurkan.
Mereka berdua tak bergeming ketika ponsel bos preman berdering, “Siap bos besar!” ucapnya membungkuk padahal tidak ada orang dihadapannya.
“Baik, oke bos besar, saya akan kirimkan foto dan videonya!” ucapnya lagi masih tetap membungkukan badan saat mendengar perintah.
Bos preman menutup telponnya, “Ayo kita pergi! Kata bos besar cukup memuaskan!” ucapnya yang tak dimengerti oleh kedua wanita yang masih berlutut di lantai itu.
Tanpa basa basi lagi mereka keluar dari rumah itu. Wina dan Shasa baru bisa menghela nafas bebas setelah kepergian mereka.
"Huhuhu!"
Mereka berdua kembali menangis. Kali ini meraung keras saat melihat rumahnya yang hancur berantakan.
"Ya ampun, Sha, bagaimana kita menjelaskan sama papa. Dia, pasti marah saat melihat ini."
Kini Wina cemas kembali saat membayangkan kemurkaan suaminya.
"Hah, Mama tanya aku. Aku juga tidak tahu harus bilang apa!"
Shasa seperti wanita monyet menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia memutar otaknya. Memikirkan yang terjadi dirumahnya seolah sudah terencana. Dan tuduhannya jatuh pada Maureen. Hatinya langsung tertuju pada gadis itu.
"Aku yakin, ini ulah anak sial itu, Ma. Aku yakin dia yang menyuruh mereka. Dia, pasti bpelakunya, Ma! " tuduh Shasa.
Wina mendelikan matanya saat membayangkan Maureen, "Dasar anak tidak tahu diuntung. Kurang ajar. Rupanya dia sudah merasa besar kepala. Lihat saja nanti, aku akan memberikannya pelajaran padanya dua kali lipat." ancam Wina menatap geram. Dia benar-benar merencanakan balas dendam untuk gadis itu.
"Aku setuju, Mah. Pokoknya kita harus memberikannya pelajaran balik. Aku tidak terima kita diperlakukan seperti ini!"
Shasa terus menyulut kobaran kemarahan ibunya. Dia, bertekad membuat gadis itu merasakan balasan yang setimpal.
***
"Tuan." Martin memberikan ponsel barunya. Menunjukkan foto babak belur ibu dan kakak tiri Maureen juga video saat penghancuran barang-barang di rumahnya.
Max melemparkan ponselnya setelah melihat isinya, "Itu hanya hukuman kecil dariku karena sudah berani menyentuh wanitaku!" dengus Max.
Martin buru-buru mengantongi ponselnya. Max meliriknya tajam, "Cih, sudah kubilang borong semua ponsel di toko itu!" cetusnya bangkit dari duduknya.
Max melirik jam sudah menunjukkan makan malam. Maureen tidur dari siang belum juga bangun.
"Suruh Berto siapkan hidangan, aku akan membangunkannya!"
Martin merasa telinganya hampir tuli mendengar kata-kata yang tak pernah diucapkan tuannya selama ini. Dia bahkan berjalan cepat menuju kamarnya.
Max duduk dipinggir ranjang. Dia melihat wajah gadisnya yang masih tertidur dengan pulas.
Cih, dia tidur benar-benar seperti gorila. umpat Max saat mendengar suara dengkuran Maureen.
Dia menyibak rambutnya perlahan. Membelai pipinya dengan lembut. Membuat gadis itu terusik.
"Argh, Lola jangan ganggu aku. Aku masih mengantuk!"
Dia mengeliat dan membalikkan tubuhnya sambil memeluk guling. Gadis itu bahkan belum mengganti bajunya yang lusuh dan kotor akibat adu sumo-nya dengan Shasa.
"Bangun gorila, kau tidak lapar!" Max tersenyum geli ketika melihat tingkahnya. Dia mencubiti pipi chubby gadisnya. Dia, bahkan menjuliki gadisnya seperti Adolf.
"Ehemm!" Max berdeham cukup keras membuat mata gadis itu membuka perlahan.
"Kau? Sedang apa disini? Kau menerobos masuk lagi ke rumah temanku!" Maureen menarik selimutnya dan menggengam dengan erat.
"Cih, apa kau tidur selalu seperti itu? Tidak pernah mengingat apapun," cibir laki-laki berwajah tampan dengan mata hazelnya yang seolah menghipnotis Maureen.
Sambil merengut, menautkan alis dan menutar bola matanya gadis itu mencoba mengingat.
"Astaga, maaf, aku benar-benar lupa Max!" Maureen menepuk jidatnya perlahan.
"Kau mau makan atau mandi dulu?" Maureen melihat lagi kondisinya yang compang camping, tapi cacing-cacing di dalam perutnya tidak bisa diajak kompromi.
"Gendong!" Kedua tangannya sudah terulur.
Max berdiri dan membalikkan badannya. Maureen tersenyum dan segera melompat seperti gorila ke punggung Max.
"Cih, kau sungguh-sungguh keturunan gorila!" dengus Max, tapi tetap menggendong gadis itu keluar kamarnya.
"Agh, kau jangan meledekku seperti dokter gila tadi!" Maureen merajuk manja di punggungnya.
Huh, aku benar-benar bisa gila melihat tingkat imutnya ini. Tahan Max, dia sedang sakit. Tiga hari paling lama, tiga hari.
Otak Max berputar tak karuan. Keperluan biologisnya sedang meningkat pesat. Namun, tubuhnya tak bisa menerima gadis lain.
Martin, pengawal dan para pelayan kembali dibuat takjub oleh tuannya. Dia, tak menyangka tuannya bisa bersikap lembut dan manis seperti itu.
"Sudah siap semua, Berto?" Max berkata sambil menurunkan Maureen yang seperti anak kecil. Dan memapahnya duduk. Maureen sudah diperlakukan seperti ratu nyonya mansion tuannya.
"Semua sudah saya hidangkan di meja, Tuan!" Max tak menjawabnya. Dia hanya mengangguk.
Tangannya membuka piring makan untuk gadis itu. Meletakkan sendok dan garpu di piring gadis itu. Dan, Maureen menunjuk satu demi satu makanan yang dia inginkan.
Martin sampai mengucek kedua matanya. Kali ini selain pendengaran, dia merasa matanya pun perlu diperiksa.
"Kau tidak makan?" kata Maureen sambil memasukkan satu sendok makanan ke mulutnya.
"Apa boleh aku memakanmu malam ini?" bukan jawaban yang diterima gadis itu.
"Hah?" Maureen merasa salah mendengar.
"Aku makan setelah kau kenyang!" cetusnya. Dia sedang melipat kedua tangannya di dada.
"Oh, ok. Ok." ucapnya manggut-manggut tak sadar dengan permintaan Max padanya.
Huh, kau terus saja menggodaku. Kau pikir aku bisa menahannya lagi.
Max berkata dalam hati sambil menatap lekat wajah gadisnya. Dia makan begitu lahap seperti orang yang tidak makan tiga hari.
Bahkan cara makanmu saja berbeda. Max, Max, kau ini Maximus Mollary. Bagaimana bisa terpikat oleh gadis biasa saja sepertinya itu.
Kembali Max dalam diam dia mengagumi Maureen. Tanpa terasa sudut wajahnya pun menarik keatas menjadi segumpalan senyum mempesona.
"Ada apa? Kau sedang meledekku lagi?" Maureen menghancurkan semua imajinasinya.
Wajah Max kembali muram saat mendengar ucapan gadis itu, "Jangan banyak bicara, cepat habiskan!" dengusnya kesal sambil menggebrak meja.
Astaga, laki-laki ini mudah sekali terpancing amarah. Duh, Maureen ... bagaimanapun kau harus bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini.