MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
WANITA BIANG KEROK



Irene terdiam saja saat mendengar jawaban yang keluar dari Max. Dia merasa salah berbicara lagi.


"Katakan padaku, kau sedang mau makan apa?" Kembali Max bertanya saat gorila kecilnya tak bersuara setelah mendengar ucapannya.


"Terserah!" cetusnya.


"Kau marah, hah?" Max kesal karena gorila kecilnya memalingkan wajah. Dia memutar tubuhnya agar saling berhadapan.


"Katakan!" Max menarik dagunya, karena walaupun berhadapan dia tetap saja tertunduk.


"Apa aku masih punya hak untuk marah? Bukankah tadi kau bilang, kau tidak kekurangan uang!" cibirnya kembali membentuk kerucut.


"Hah, kau selalu saja meminta yang aneh-aneh!" Max balik mengumpat.


"Aku tidak aneh-aneh. Kau kan tadi bertanya, ya aku jawablah. Sudah, apa saja yang penting makan. Perutku sudah kelaparan," ucapnya sambil menghempaskan tangannya yang berada di dagu.


"Memang kau mau makan apa?" cetusnya, akhirnya tetap saja dia mengalah saat melihat wajah sedihnya.


"Tidak jadi. Lagipula, itu bukan makanan, tapi camilan yang aku mau!" lanjut Irene.


"Camilan terus. Nanti perutmu lebar. Badan kecil tapi perut kapasitas gorila!" Max yang tahu-tahu gemas menarik lagi pipinya.


"Ih, sudah aku bilang jangan tarik-tarik. Sakit tahu!" Irene mode on merajuk membuat Max menariknya ke dalam pelukan.


Max mengacak-acak rambut gorila kecilnya, "Kita beli semua setelah makan siang, ok!" ucap Max.


"Terima kasih!" Irene mendangakan wajahnya menunjukkan senyuman kudanya.


Karina sampai bergidik ngeri. Mata dan telinganya seolah tak percaya. Bahkan saat bersama dengan kakaknya--Shareen tak pernah sekali pun Max bersikap manis seperti tadi.


"Tuan Max, anda disini juga?" sapa seseorang saat Max baru saja melangkah keluar. Max hanya menoleh sesaat, tangannya masih menahan pintu untuk Irene.


Karina keluar dari pintu depan langsung memberikan tatapan sinis pada orang yang menyapa Max.


"Kak Shasa? Sedang apa disini?" Irene menatap kakaknya sedang menggandeng Nicholas. Saat melihat adiknya turun, dia tak menjawab hanya memalingkan wajahnya.


"Kami akan makan siang disini, Iren. Kamu juga makan disini?" Nick menyapanya dengan lembut. Sekarang giliran Max yang beruap. Kepala sudah seperti kepala kereta api, ngebul tanpa henti.


"Uhm, sepertinya sih. Soalnya aku tinggal ikut saja dengan di-a!" Irene tanpa ragu menggerakkan jari telunjuknya tepat di dada Max.


"Wah, kebetulan sekali, Tuan Max. Kami juga akan disini. Bagaimana kalau kita pilih table bersama saja. Tambah ramai tambah seru!" Shasa sangat antusias mendengarkan jawaban Irene. Ingin rasanya dia menggandeng lengan kekarnya. Namun, dia urungkan.


Sabar Shasa, yang penting kesempatan sudah datang, jangan dibuang begitu saja.


Siapa lagi ini? Satu wanita rubah, satu lagi wanita biang kerok. Satu saja sudah buat kepala pusing. Apalagi menjadi duo siluman seperti ini.


Karina menatap Shasa yang berpenampilan tidak jauh seperti dirinya. Memamerkan dada besarnya secara terbuka. Pakaian super ketat, mini dan kekurangan bahan.


Max tak memperdulikan mereka. Baginya, dia bisa membuat gorila kecilnya bahagia itulah misi utamanya. Dia, meraih pinggang gadisnya dan memboyongnya masuk ke dalam.


Nicholas hanya bisa menatap seseorang yang sangat dicintainya. Namun, dia sendiri tak bisa berbuat banyak. Selain meratapi nasibnya.


Martin tampak mengatur meja untuk tuannya. Dia dan beberapa pengawal sudah bersiap mengatur posisinya.


Max menarik kursi untuk gorila kecilnya. Shasa dan Karina hanya bisa mengigit bibir dan mengepalkan kedua tangannya. Keki dan kesal sendiri.