MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
MASA LALU MAX



Max melemparkan kemejanya yang tergolek di lantai. Lagi-lagi, tepat menutupi wajah gorila kecilnya. Irene segera memakainya.


Max pun merapikan celana dan berjalan ke mejanya, menekan tombol untuk buka pintu. Tak berapa lama Clara masuk dengan tergesa.


"Tuan memanggil sa-ya." Wajah Clara memerah saat melihat pemandangan langka di matanya.


Tuannya bertelanjang dada dengan bebas tanpa rasa malu sedikitpun. Dia, memperlihatkan roti sobeknya yang besar-besar juga sangat berotot di pelupuk mata Clara. Membuatnya tak bisa menahan diri untuk menelan salivanya.


“Carikan satu set baju perempuan dulu untuk gorila kecilku. Jangan yang terbuka. Dan buang bajunya itu!” perintah Max, melirik pada baju Irene yang tergolek robek-robek di lantai.


Clara segera mengalihkan pandangannya pada Irene yang duduk di sofa. Kakinya sudah dilipat dua. Penampilan yang acak-acakan menggunakan kemeja tuannya. Dan, tentu saja Irene tak memperdulikan hal lainnya jika sedang makan.


"Jangan kaget, Clara. Kalau kingkong jelek mengamuk ya seperti itu. Biasakan matamu, karena mungkin saja sebentar lagi dia akan mengamuk lagi padaku. " Dia menjawab santai pertanyaan yang tak bisa diucapkan oleh Clara sambil menunjukan sederet gigi putihnya.


"Ehem!" Max berdeham keras.


“Ba-baik, Tuan. Saya akan carikan sebentar!” dia segera berbalik, meraih dulu baju Maureen tadi. Tak ingin menodai mata sucinya terlalu banyak.


Namun, lagi-lagi Clara yakin gadis itu. Gadis yang dipanggil gorila kecil oleh tuannya bukan hanya gadis panggilan biasa. Selama ini, tuannya tak pernah membawa seorang pun wanita ke kantornya selain Shareen. Begitu kira-kira masa lalu Max.


Nama gadis itu pun tak berani Clara ungkit lagi setelah lima tahun berlalu. Sedangkan tadi pagi, Karina adalah adik Shareen. Dia, datang setelah kepergiannya tiga tahun.


Karina sempat berada disisi tuannya selama dua tahun. Memcoba menggerakkah hati tuannya yang dingin, tapi Clara tak pernah melihat sikap tuannya seperhatiannya seperti kepada Maureen.


***


“Siapa dia, Martin?” Karina yang terlihat sangat penasaran saat berjumpa dengan Maureen. Dia, terus melihat Martin yang terus fokus saat menyetir.


“Nona Maureen, maksud anda?” Martin mencoba mengartikan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya.


“Tentu saja, memangnya ada hal lain yang kutanyakan!” dengusnya kesal.


Dia, tak mungkin menganggap lawannya kali ini remeh. Apalagi, saat dia melihat ada dua orang pengawal yang membuntuti kemanapun gadis itu pergi. Hati kecilnya berharap, kalau dialah yang ingin diperlakukan seperti itu.


“Nona Maureen teman baru tuan Max, Nona!” sahut Martin singkat tak ingin terlalu jauh membahasnya. Dia, tak ingin melihat tuannya marah saat menjelaskan lebih jauh.


“Teman? Kak Max, punya teman? Sejak kapan? Kapan kak Max mengenalnya? Sepertinya aku tak pernah tahu kalau kak Max memiliki teman seperti itu!” lagi gadis itu memberondongi Martin dengan pertanyaan. Berharap dapat satu informasi yang dapat dia andalkan.


“Belum lama ini, Nona. Maaf, sebaiknya anda silahkan tanyakan langsung  dengan tuan. Saya tidak punya kapasitas untuk menjelaskannya lebih jauh,” jawaban Martin membuat gadis itu makin yakin bahwa gadis itu sedang dalam incaran Max.


Dasar gadis sialann. Berani sekali dia merebut posisiku. Aku sudah mengamankannya selama lima tahun ini agar dia berada dalam pelukanku.


Karina geram. Dia menggigit bibirnya sendiri dengan kesal. Tidak bisa menerima semua kekalahannya begitu saja.


Shareen dan Karina adalah kakak beradik dari keluarga Nugraha. Maximus dan Shareen adalah teman satu kampus. Max dulu terkenal lugu dan cupu, dia menggunakan kaca mata super tebal saat kuliahnya.


Tak ada penolakan dari gadis itu. Max membuat gadis itu seperti dewi. Apapun keinginannya Max turuti. Di kampus pun, Shareen memperlakukan Max seperti pembantunya. Disuruh kesana kemari, mengerjakan ini itu. Apalagi otak Max yang super jenius dapat melakukan segala hal.


Max tak perduli, asalkan dia mendapatkan perhatian gadis itu. Dia, pasti akan melakukannya. Apapun perintahnya pasti akan dilakukan. Sampai Max memergokinya sedang melakukan adegan mesra di mobil dengan salah satu teman kampusnya.


Matanya benar-benar terbuka. Dia, dengan berani memecahkan kaca mobil hingga membuat mereka yang polos tanpa sehelai benang pun terlihat dipelupuk matanya.


Bukan kata maaf yang dikeluarkan oleh Shareen. Dia, malah memakinya jelek, kotor dan bau. Apalagi kacamata super tebalnya yang membuat gadis itu jijik berdekatan dengannya. Dia, malah berkata kalau lebih cocok bersama dengan Karina—adiknya yang sama cupunya dengan dirinya.


Setelah peristiwa itu Max menutup dirinya. Ditambah lagi kecelakaan yang menyebabkan  kedua orangtuannya meninggal. Membuatnya  makin terpuruk.


Perlahan, Max mengubah dirinya. Martin adalah salah satu orang kepercayaan peninggalan orangtuanya. Bersama dengannya, Max perlahan bangkit. Mengubah semua dengan kedua tangan dan hatinya yang dingin. Mengalahkan semua lawan yang berada di depan mata dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri.


Melihat perubahan yang terjadi pada Max. Kekayaan  dan tentu saja puluhan perusahaan yang berkembang dengan pesat dalam waktu dua tahun membuat Shareen memalingkan pandangannya.


Apalagi Max berubah dari sosok cupu dan dekilnya seperti umpatan Shareen dulu. Max kini berbeda. Siapapun wanita yang melihat wajah tampannya, langsung luluh. Shareen berusaha keras mendekatinya lagi.


Hati Max tergoda kembali, apalagi sosok Shareen memang sudah menjadi gadis impiannya. Tapi, kali ini Karina—adik Shereen pun tak mau kalah. Dia, mengubah penampilannya dan bersaing terang-terang, hanya diantara mereka berdua.


Namun, karena sikap wanita murahan yang sudah tertanam di dalam jiwa Shareen. Dia, tak pernah mengubah sikapnya. Kali ini setelah diberikan kesempatan pun, dia melakukan hal yang sama. Lebih parahnya, Shareen kabur dengan membawa beberapa perusahaaan milik Max bersama dengan laki-laki lain. Dan, kabar terakhir yang Max tahu, gadis itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat mabuk di salah satu negara yang sedang mereka kunjungi.


“Kau pelit sekali, Martin! Aku kan hanya bertanya. Apa susahnya sih? Tinggal jawab!” Karina dongkol mendengar jawaban Martin agar dia menanyakannya langsung  pada Max.


Martin menghentikan mobilnya secara mendadak. Membuat kepala Karina terantuk kursi didepanya, “Aw, kau kenapa sih, Martin? Menyetirlah dengan benar. Kalau tidak akan kulaporkan semua ulahmu ini pada Max.” Karina berkata penuh percaya diri sambil memegangi jidatnya.


“Sebaiknya, Nona Karina berhati-hati. Aku tidak akan membiarkan seorang Nona sepertimu atau yang lainnya. Mengganggu lagi kehidupan tuan Max!” jelas Karina mendengar ucapan Martin. Laki-laki itu tidak hanya berkata. Dengan tatapan tajamnya yang dia tunjukkan dari kaca spion jelas adalah ancaman untuk Karina.


“Cih, siapa yang mau mengganggu sih? Aku datang karena merindukan kak Max saja,”lidah gadis itu kelu. Hatinya terbakar, kedua tangannya mencengkram dengan erat.


Lihat saja Martin, saat aku menjadi nyonya Max, kau adalah orang pertama yang akan kusingkirkan.