MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
OLAHRAGA PAGI



Huh, hampir saja. Aku masih belum mau mati sekarang! Martin berkata dalam hati sambil menggelangkan kepalanya.


Baru saja Maureen duduk, ponselnya bergetar.


"Iya, La," Maureen langsung mengangkatnya. Max melirikkan matanya.


"Irennn, kemana saja kau semalam? Pesanku pun tak kau balas! Apa kau sudah mendapatkan tempat baru atau kau malah kembali ke rumah terkutuk itu?" semprot Lola dari ujung telpon. Dia khawatir karena temannya tak memberi kabar.


Maureen melirikkan matanya pada Max, "Uhm, aku ada di tempat temanku. Kau tidak perlu khawatir," ucapnya kelu terasa berat saat mengucapkan.


"Jadi, kau dimana sekarang? Perlu aku jemput? Aku takut kau tidak ada uang sepeserpun!" suara Lola benar-benar mencemaskannya.


"Uhm, La, sepertinya aku tidak bisa pulang ke tempatmu dulu untuk sementara waktu." Maureen berbicara. Namun, Alex terus menatapnya.


"Kenapa? Ada apa? Apa, Shasa mengancammu lagi? Katakan padaku, biarkan aku yang memberikannya pelajaran!" Lola terdengar emosi ketika menyebutkan kakak tirinya.


"Aku tidak apa-apa, La. Nanti aku hubungi lagi, oke!" Maureen membalikkan tubuhnya dan berbicara setengah berbisik.


Huh, telpon saja tidak bebas. Mau sampai dimana dia mengekangku.


Dia memasukkan kembali ponselnya dalam tas. Duduk sedikit menjauh ke dekat jendela.


"Apa kau sedang menghindariku?" dengus Max tak terima gadis itu menjauhkan dirinya.


Maureen pura-pura tak mendengarkan. Dia tetap mengalihkan pandangannya ke jendela. Dia masih kesal dengan sikap arogan Max.


Max untuk pertama kalinya tidak bisa menahan diri. Apalagi, jika berhubungan dengan gadis itu. Tubuhnya seperti magnet, ingin selalu menempel padanya.


"Setelah makan, kau lebih baik ikut saja denganku ke kantor. Temani aku bekerja!" cetusnya. Maureen hanya menoleh, menatap sesaat. Lalu kembar pada posisinya.


Huh, gadis yang benar-benar sulit ditaklukkan.


Max yang tak terbiasa membujuk seseorang. Dia selalu mendapatkan perhatian dari setiap wanita yang mencoba mendekat. Sedangkan sekarang boro-boro mendekatinya, gadis itu malah terlihat akan kabur jika pintu mobil dibuka.


"Kemarilah!" Akhirnya Max menyerah. Ucapannya melembut saat dia menarik tangannya.


Maureen tetap tak bergeming. Max sudah tak kuat berlama-lama. Saat tubuh gadis itu dalam dekapannya. Membuat keinginannya bangkit.


"Berikan aku ciuman, sayang!" Max menarik wajahnya yang sudah pasrah mau diapakan saja olehnya.


Satu kecupan hangat bermain di bibirnya. Membuat gadis itu merasakan sensasi terbang.


Iren, kendalikan dirimu. Jangan kau terjebak lagi oleh ketampanannya.


Ya, tentu saja Maureen tak bisa memungkiri wajah tampan dan pesonanya Max. Bahkan jika dia mengingat kembali tubuh berotot Max yang besar dan keras. Membuat gadis itu menjadi hilang kewarasan.


"Kita lakukan setelah sarapan, ya? Di kantor saja. Oke?" Max berkata setelah melepaskan kecupan tadi. Tentu saja dia mengajaknya melakukan semua yang dia inginkan.


"Tapi, aku boleh menemui temanku, ya?" gadis itu tetap mencoba meminta izin darinya.


"Boleh saja, asalkan nanti malam kau siapkan diri untuk melayaniku sampai puas!" Perkataan yang memberatkan. Maureen bahkan tak bisa berpikir jernih lagi.


Ck, ck, benar-benar deh nggak mau rugi tetap saja mengambil kesempatan. Apa-apa harus begituan, memangnya tubuhku ini hanya untuk itu saja.


Maureen tak menjawab, hanya memajukan bibirnya membentuk kerucut.


"Tepat sekali, itu kan gunanya aku membayarmu mahal!" cetus Max seolah tahu yang dipikirkan gadis itu.


Huh, sebalnya saat dia membahas masalah uang. Benar adanya aku dibayar untuk itu, tapi tidak perlu selalu diungkit juga sih.


Tangan Maureen membuka gaun sabrina yang dipilihnya, "Sekarang saja, aku tidak mau sarapan. Aku mau pergi menemui temanku!" Maureen yang tersulut, dia membiarkan bagian depannya terekspos.


Max menelan salivanya. Pemandangannya dihadapannya tak bisa dia tolak. Dia pun segera memajukan wajahnya. Mengesap satu persatu miliknya.


Sabar Iren. Dia mengeluarkan uang dan kau dibayar memang ini yang harus kau lakukan.


Dia pasrah. Mobil berhenti dan menepi mendadak saat mendengar teriakan tuannya. Tuannya sedang melakukan olahraga pagi didalam mobil.