MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
MAKAN SIANG



“Jaga sikap anda, Nona Karina. Jika, anda masih saja tidak sopan. Saya akan ikut campur.” Kini Martin mencengkram tangannya.


Memberikan Karina peringatan, kalau dia sampai berani melangkah maju dialah yang akan turun menangganinya.


Tak lama pintu ruangan Max terbuka. Dia tersenyum sumringah sambil menggandeng pinggang gorila kecilnya keluar. Mata Karina membulat lebar, selama dua tahun dia mendampinginya. Setelah kepergiann kakaknya itu, tak sekalipun dia pernah melihat senyuman Max.


Gadis siall itu. Apa dia masih disini? Belum pergikah sejak tadi pagi? Kedua tangan Karina mengepal kuat. Tatapannya suram saat melihat mereka berdua keluar dengan mesra.


“Max, aku akan makan siang dulu dengan gorila kecilku. Tunda rapatnya sampai aku selesai menemaninya.” Maximus Mollary memberikan perintah sambil  membelai rambut Irene.


Lagi-lagi mata Karina membulat lebar. Dia, tak mengira ucapan ketus dan arogannya selama ini bisa menjadi selembut itu. Nadanya ringan dan enak terdengar ditelinganya. Bahkan saat memberikan perintah tak ada penekanan sekalipun.


Go-gorila kecilku? Apa maksud ucapan kak Max itu. Apakah dia sudah benar-benar terpedaya oleh gadis itu? Lagi Karina mengumpat dihati ketika mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Max.


“Kak Max!” Karina membuka suaranya. Maju dan membuka tubuh Clara dan Martin yang menghalangi pandangannya. Dia, tak ingin kalah mencari perhatian Max.


Wajah Max berubah suram saat melihat keberadaan Karina yang persis seperti paparazi. Kemanapun Max pergi dan aktifitasnya. Dia selalu menguntitnya.


“Martin, apa kau tidak menjalankan pesanku tadi.” Max kembali berkata dingin dan arogan saat menatap bawahannya.


“Tidak, Tuan Max. Saya sudah menjalankannya sesuai perintah. Tapi, Nona Karina menemui anda sekarang untuk mengajak makan siang!” jelasnya.


Irene tak berbicara dia mencoba bersikap cuek. Walaupun tatapan mata gadis yang bernama Karina itu menghujamnya bagai busur panah.


“Max, aku bisa pergi sendiri kalau kau sudah ada janji,” Irene berkata sekaligus mengambil kesempatan untuk tak selalu diikuti oleh Max atau pengawalnya.


Hah, apa itu? Dasar wanita rubah. Dia bahkan berani memanggil kak Max dengan sebutan nama saja dan mesra. Geram kembali Karina mendengar saat Irene berbicara pelan.


Sedangkan Irena sedang berusaha mencoba melepaskan lingkaran Max yang bergelayut di pinggangnya.  


“Aku sudah  bilang kita akan makan  siang bersama dan jangan membantah!” cetus Max kesal. Apalagi gadis itu berusaha melepaskan diri darinya.


Lalu tatapannya beralih pada Karina, “Kau makan siang saja dengan Martin dan Clara!” cetusnya acuh dan melewatinya begitu saja.


Apa? Yang benar saja. Aku dari bandara tadi pagi hanya untuk menemuinya, tapi malah diusir ke hotel. Sekerang aku datang pun tetap di usir. Tidak akan kubiarkan.


“Kak Max, tunggu aku. Aku kan mau makan siangnya denganmu, bukan dengan mereka.” Gadis itu berlari mengejar Max yang sudah berada di depan lift dan mengandeng lengan satunya tanpa ragu.


“Lepaskan!” hardiknya. Membuat Irene pun ikut tersentak. Dia tahu saat ini Max sedang dalam suasana buruk.


“Kak Max!” rajuk Karina lagi, dia tetap tak melepaskannya. Malah menempelkan kepalanya di lengan Max.


Max mendelik tajam. Dia menghempaskan kedua tangannya. Membuat Irene pun terkejut kembali. Max membuka jas yang dia pakai dan membuangnya ke lantai.


Dan membuat mata Irene dan Karina membulat lebar. Mungkin ini pemandangan pertama kali bagi Irene. Karena dia, tidak tahu kalau Max benar-benar phobia saat disentuh orang lain. Dia berpikir, dengannya Max tak pernah melakukan itu.


Hah, kak Max melakukan ini padaku. Dia benar-benar masih phobia kebersihan dan tak suka disentuh? Lalu bagaimana gadis sialann itu bisa menyentuh kak Max dengan bebas. Benar-benar membuatku geram.


Otak Karina terus saja berputar. Dia tak menyangka akan dipermalukan oleh Max dihadapan semua orang apalagi bawahannya Max. Dulu, hanya kakak—Shareen sajalah yang bisa menyentuh tubuh Max dengan bebas. Sekarang gadis rubah sialan itu. Pikirnya.


“Aku tidak keberatan, Max kalau dia ikut dengan kita,” Irene angkat suara.


Dia merasa tidak enak. Bagaimanapun dia juga perempuan yang sama sepertinya dan pernah dapat perlakuan tak mengenakan dari Max.


Max melayangkan padangannya. Namun, dia lagi-lagi kalah. Saat ingin marah ataupun sedang emosi, ketika dia menatap wajah gadis gorilanya seketika dia pun luluh.


“Ayo, ikut!” teriak Irene menghamburkan lamunan Karina yang masih mengumpat gadis itu dengan kesal.


Dia pun tak punya pilihan selain mengekorinya. Martin dan beberapa pengawal mengikuti mereka.


Karina terus melirik diam-diam Irene dari rambut hingga ujung kaki. Cih, tidak ada yang spesial dan menarik  darinya. Tubuh pendek, pipi chubby, dada kecil dan wajah yang biasa saja. Oh, dibawah standar menurutku. Mana bisa bersaing denganku untuk  memuaskan  kak Max. Tipe kak Max itu seperti aku dan kak Shareen. Sexy, cantik dan dada besar tentunya.


Cibiran Karina dalam hatinya. Dia masih tidak terima Max lebih memperhatikan gadis yang menurutnya biasa saja.


“Kak Max, aku kangen makan shushi di restoran kita biasa makan. Bagimana kalau kita makan siang disana?” ucap Karina mencoba mencairkan suasana. Max tak bergeming.


Huh, dicuekin lagi. apa sih maunya kak Max itu? Aku, apa penampilanku masih kurang sexy? Dia berkaca dalam bayangan pintu lift melirik penampilannya.


“Ayo!” Max kembali menarik tangan Irene. Membukakan pintu mobil untuk gorila kecilnya dan mendorongnya masuk.


Saat Karina akan ikut masuk. Dia menutup pintunya, “Kau duduk di depan dengan Martin!” ucapnya ketus.


“Ah, aku tidak mau kak. Aku mau duduk dekatmu!” Karina melakukan lagi protesnya. Dia tak mau membuat kesempatannya dekat makin jauh. Apalagi, dia tahu sekarang ada seorang rival yang harus diperhitungkan.


“Kau pilih sendiri. Ikut dengan mobil ini, tapi di depan. Atau kau pilih mobil dibelakangku!” jawaban ketus lagi yang gadis itu dapat. Max membuka pintu dan menutupnya dengan kasar.


“Arrgghh!” Karina menghentakan kakinya. Dia geram dan kesal, tapi tak punya pilihan. Segera masuk ke bangku depan sebelum mobil Max melaju.


"Kau mau makan apa siang ini?" Max berkata dengan mendekatkan tubuhnya, menarik kembali gorila kecilnya kepelukan karena dia mulai menjauhinya lagi.


Karina mendelik kembali. Telinganya seperti salah mendengar dan dia melirik diam-diam dari kaca spion. Dia, melihat laki-laki yang diincarnya sedang menaruh kepalanya di pundak Irene. Max seperti raja serigala yang bertemu dengan pawangnya.


"Uhm, kalau aku mau makan dipinggir jalan apa boleh?" Irene berkata ragu-ragu sambil menolehkan wajahnya.


"Apa aku kekurangan uang sampai kau harus makan di pinggir jalan," dengusnya kesal.


Tuh, kan Irene, dia pasti menolak. Seharusnya kau tak perlu bertanya.