
“Kau sudah memisahkan semuanya seperti yang aku suruh kan, Bertho?” Maureen bertanya pada Bertho yang telah siap dengan beberapa box makanan yang dipesan Irene.
“Sudah, Nyonya, semua seperti permintaan Anda. Dan, tuan juga tadi berpesan melalui tuan Martin. Jika Nyonya menginginkan ini setiap hari, saya boleh membuatnya,” jelas Bertho. Maureen dan Lola saling memandang. Mereka tak menyangka sikap arogan seorang Maximus Mollary diam-diam begitu mulia.
“Terima kasih banyak, Berto. Tolong masukkan semua kedalam mobil!” untuk pertama kali dalam hidup gadis itu, dia merasa tak terbebani.
Lola terus menyenggol sikutnya, “Dia, iblis berhati malaikat ya, Ren!” Lola berkomentar. Kali ini Maureen mengangguk mantap atas ucapan temannya.
“Kau akan menggunakan uangnya kali ini, Ren?” Lola menoleh pada Maureen yang tengah sibuk mencatat sesuatu.
“Uhm, seperti yang kau bilang. Aku pun tak akan bisa lari darinya juga. Jadi, sudah aku putuskan akan menurutinya. Apapun keinginannya akan aku penuhi. Aku akan berusaha tidak mengecewakannya. Ya … walaupun aku tahu, imbalannya sebagai jasa penghangat yang dikontrak mati olehnya. Setidaknya, aku bisa menemukan ibuku dan membalas dendam pada ibu dan kakak tiriku itu!” sepertinya tekad gadis itu sudah bulat. Dia tak ingin lagi menjadi lemah dan tertindas oleh mereka.
“Huh, akhirnya. Aku senang mendengarnya, Ren! Walaupun begitu sepertinya kau harus berhat-hati juga. Wanita yang tadi pagi berteriak dan bisa masuk dengan leluasa ke tempatnya. Dia pasti bukan hanya wanita biasa. Aku yakin, dia punya rencana lain. Aku sebagai teman hanya mengingatkan. Seorang seperti laki-lakimu sekarang, dia bukan hanya dari kalangan seperti kita, Ren. Pasti masih banyak yang dia sembunyikan!”
“Lalu apa rencanamu, La? Kau akan apakan uang yang diberikan olehnya?” Maureen bertanya sambil melihat temannya. Dia, menunjukkan sederet giginya lagi.
“Hurf, apa ya? Jujur, aku ngeblank nih. Seperti dapat durian runtuh dan mimpi ketiban bulan! Apa kau punya saran?” kekeh Lola. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Uhm, apa ya?” Irene terlihat memutar otaknya, lalu, “Bagaimana kalau kau gunakan untuk mencari tempat tinggal yang baru. Setidaknya belilah satu rumah mungil dan layak kau tempati, agar kau tak perlu pusing lagi memikirkan sewa bulanan. Berhentilah bekerja, La. Pakai uangnya untuk membuka usaha. Usaha yang benar-benar kau ahli dibidangnya. Uhm, mungkin, selain kau lunasi biaya kuliahmu sampai selesai, kau, sebaiknya mengunjungi panti. Bukankah kau juga sudah lama tak memberikan kabar pada mereka?” Irene menatapnya mantap penuh keyakinan.
“Wah, benar banget, Ren. Seridaknya itu yang harus aku lakukan lebih dulu.” Ya, Lola pun tak pernah menyangka, dia akan mendapat cipratan keberuntungan saat bersama dengan Irene.
“Pokoknya, aku bersedia menemanimu. Heheh, setidaknya aku punya alasan keluar rumah dan tak pusing saat mencari alasan denagan kingkong jelek itu!” Irene terkekeh saat memikirkan rencana yang berputar di otaknya.