MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
JASA KEHANGATAN



"Apa kau sungguh membeliku?" Maureen memberanikan diri bertanya setelah mereka makan malam.


Setidaknya dia masih memiliki sedikit harapan kalau laki-laki yang sedang duduk disampingnya itu hanya memakainya sebagai alat.


Maureen masih memiliki impian. Impiannya memang tidak besar. Tapi, jika impian kecilnya itu pun bisa terwujud betapa bersyukurnya dia.


"Memang kau mau melunasi hutangnya sampai berapa lama? Apa tubuhmu itu sanggup memenuhi semua kemauanku!" sahutnya kecut.


"Lagian aku kan tidak menyuruh Tuan melakukan transaksi bodoh itu! Siapa juga yang menyuruh Tuan!" balas gadis itu tak mau kalah dengan omongan kecutnya.


"Jadi, kau menyalahkanku? Kau anggap aku bodoh, hah?" Max spontan menarik hidung gadis itu.


Entah kenapa dia jadi gemas sendiri saat mendengar perkataannya. Seharusnya dia marah, tapi dia tidak marah sedikitpun. Dia bahkan sudah mengeluarkan uang sampai ratusan milyar untuk menebus gadis yang menurutnya menyebalkan itu.


"Sudah, sudah. Aku yang salah. Aku yang bodoh. Turunkan aku disana saja, dan Tuan bisa menghubungiku disaat Tuan memerlukan jasa kehangatanku!" Cetusnya berkerucut bibir. Dia bahkan sudah tak malu menyebutkan kata-kata ekstrim seperti tadi.


"Berani sekali kau memerintahkan! Kau sudah bosan hidup! Hah?" Hardik Max.


"Ayolah, jangan minta lagi sekarang. Tubuhku masih sakit semua, aku kan juga perlu istirahat. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tinggal sementara dengan temanku!" Maureen yang tidak ingin kembali dibawa ke tempat laki-laki itu.


Dia sudah membayangkan kehidupannya akan bagai burung dalam sangkar emas jika mengikutinya.


"Hah, aku benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya bertemu kucing liar sepertimu!" Max benar-benar ingin marah. Namun, lagi-lagi dia tak bisa marah saat melihat wajah gadis itu yang sudah memelas.


"Hentikan mobilnya, Martin!" Maureen langsung mengembangkan senyumnya saat Max berkata demikian.


"Terima kasih, Tuan!" satu kecupan mendarat di pipi Max. Dan gadis itu membuka pintu, menerobos jalanan dan menghilang di balik gang sempit.


Wajah Max memerah. Dia belum pernah mendapatkan perhatian seperti tadi, "Suruh beberapa orang mengikuti dan laporkan semua kegiatannya padaku, Martin!"


Martin melirik spion dan mengangguk.


Apa aku tidak salah melihat, tuan tersenyum?


***


"Lola!" Maureen segera menghambur kepelukan seseorang saat dia membuka pintunya.


"Iren? Sedang apa malam-malam begini?" Lola mempersiapkan gadis itu masuk dan langsung mengunci pintunya.


"Bisakah kau mencarikanku tempat tinggal?" Maureen membanting kasar tubuhnya di kasur milik Lola.


"Apa kakakmu membuat masalah lagi?" Lola memberikan satu kaleng minuman bersoda.


"Kira-kira seperti itulah, La. Jadi, bisakah aku tinggal disini beberapa hari dan aku sangat lelah. Biarkan aku tidur dengan tenang sebentar saja!" dia membuka kaleng minumannya dan meneguknya sedikit.


"Uhm, tidurlah. Aku juga sangat mengantuk. Kau bisa mengganti pakaianmu dulu," ucap Lola. Dia tidak akan banyak bertanya lebih jauh soal masalah yang sedang dihadapi gadis itu. Selama Lola masih melihat senyuman diwajahnya, dia tahu Maureen masih bisa menghadapinya.


***


"Aargghh! Aku tidak bisa tidur!" Max bolak-balik di ranjangnya. Gelisah sendiri. Sejak kepergian Maureen dia menjadi tidak tenang.


Huh, bisa-bisa dia membuat hatiku menjadi khawatir seperti ini.


"Martin!" teriaknya. Dia duduk di tepi ranjang saat Martin masuk ke kamarnya


"Apa ada menginginkan sesuatu, Tuan?" dia tahu Tuannya jika memanggilnya pasti berhubungan dengan akses biologisnya.


"Kau ada stok? Aku menginginkannya sekarang juga?" cetusnya. Wajahnya terlihat tegang dan suram.


"Ada Tuan, masih bersegel. Aku akan menyuruhnya seseorang untuk menjemputnya!" cetus Martin.


"Tidak, kita yang kesana!" Max menolak. Dia segera meraih coathnya dan keluar dari kamarnya diikuti Martin.