MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
PERNAH MENJADI CINTA PERTAMANYA



"Max, lepaskan!" Lagi-lagi gadis itu tak bisa menahan debaran jantungnya. Kata-kata Max membuatnya ikutan melambung dan setengah gila.


"Kita ke kantor saja ya sayang. Aku maunya, kau selalu berada disisiku." Lagi Max berkata akan membawa tubuh gadis itu masuk ke mobilnya.


"O-o-ow, no-no-no. Aku tidak bisa. Rencanaku hari ini panjang bersama Lola. Aku akan pergi bersamanya!" Irene tetap menolak ajakannya. Dia tak ingin hari bebasnya berakhir dalam ranjang panas Max.


"Kalau kau menolak, kita ke kantor catatan sipil dulu saja!" Cetusnya. Mata Maureen mendelik lebar.


"Jangan bercanda, Max!" Irene mendorong tubuh kingkong jeleknya yang terus mendorong tubuhnya.


"Aku tidak bercanda, sayang. Ayolah, kau kan sudah setuju menikah denganku. Hari ini kita menikah dulu saja ya. Martin sudah mengurus semua, kau hanya perlu datang sebagai mempelai wanitaku!" Rasa tak sabar Max makin menggebu.


Max ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Bukan hanya merasakan tubuhnya saja. Dan, dia pun tahu apa yang dipikirkan oleh gorila kecilnya. Tidak lain dan bukan bahwa gadisnya hanya menganggap dirinya sebagai selimut


penghangat di ranjang.


"Uhm, itu?" Irene setengah kebingungan menjawab ajakan Max. Niatan hanya untuk mengalihkan perhatian agar tak ditanya masalah obat kontrasepsi yang dibawanya.


"Jangan bilang kau berubah pikiran, hah?” mata  Max mendelik. Dia melihat gelagat gorila kecilnya yang akan menolak ajakannya.


“I—tu, memangnya tak bisa kau pikirkan lagi. Mungkin besok atau lusa, atau mungkin bulan depan.”


“KAU!” spontan tangan Max menjewer telinga gorila kecilnya.


“Iya, iya. Ayo kita ke catatan sipil sekarang!” sambil menahan panas di telinganya, gadis meringis.


“Hah, ayo!” Max akan menarik tangan gadis itu. Namun, dia segera mendorong perlahan dan kembali ke mobil yang ada Lola menunggunya disana.


“Cih, kau gila, Ren. Lihat, lihat, dia sepertinya marah besar denganmu!” Lola yang takjub manatap wajah tampan Max berubah membesar dengan dua tanduk di kepalanya dan berwajah merah. Mungkin kira-kira


begitulah bayangan Lola.


“Dia tidak mungkin bisa marah denganku, La. Kau tenanglah. Kita mampir dulu ke kantor catatan sipil ya!” Irene berkata seperti tak ada beban saat mengatakan soal pernikahan dan menepuk pundak sopir yang akan


mengantarkan  mereka.


“Kau serius?” pertanyaan setengah tak percaya keluar dari mulut Lola. Dia bahkan tak mengira dengan pikiran absurd temannya.


“Dua rius. Hehehe, sudahlah. Jangan banyak berpikir. Dia benar-benar memperlakukanku dengan sangat baik, La. Meski dia phobia sentuhan dan kebersihan, aku kira itu semua tak berlaku denganku!”


Ya, penuh percaya diri Irene berkata. Dari pemantauannya beberapa kali. Hanya dengan dirinya saja dia tak bereaksi. Phobia itu seakan lenyap, asalkan dia berada disisinya.


Sebenarnya dia pun masih belum mengetahui apa penyebabnya. Namun, gadis itu yakin, dibalik sikapnya itu terselip satu kisah yang tak mengenakkan.


“Baiklah, asalkan semua yang terbaik dank au bisa menjalaninya dengan bahagia. Aku, Lola, yang terdepan akan mendukungmu!” lega rasanya Irene mendapatkan satu dukungan. Selama ini dia selalu berjuang


sendiri.


“Uhm, aku pasti bisa bahagia, La. Lagipula, aku tidak mungkin meminta pertanggung jawaban laki-laki lain kalau aku sampai …,” Irene dengan lembut mengelus perutnya sambil tersenyum.


“Iya, aku tahu bagaimana perasaanmu, Ren. Aku benar-benar berharap kau bahagia dan tidak salah memilihnya!” Lola memeluk tubuh temannya dengan erat. Bagaimana pun, di lubuk hati Lola, dia tahu temannya itu sangat


mencintai Nicholas setengah mati. Laki-laki itu pernah  menjadi cinta pertamanya.