MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
BOSAN



Maureen  menempelkan kartu akses ke kamarnya. Mengumpat kesal tidak jelas saat memasuki ruangan. Mungkin


bukan umpatan, bahkan Martin bisa mendengar cacian dan makian gadis itu untuk tuannya.


Wah, nona Iren benar-benar sungguh berani. Dia bukan hanya bisa menaklukan hati tuan. Tuan bahkan rela melakukan apapun untuknya.


Gibah Martin dihatinya. Dia baru saja mendapat perintah untuk mengeluarkan ibu Maureen dari rumah sakit, dan mencarikan tepat yang aman dari keluarga Maureen.


Semoga kali ini tuan benar-benar tak melukai siapapun. Dan, nona Iren benar-benar bisa menyembuhkan semua luka yang tuan rasakan.


Martin tetap mendukung semua usaha tuannya. Dia tahu, tuannya memiliki trauma menyakitkan yang tak bisa begitu saja dilupakan. Dan, pertemuan tak sengajanya dengan Maureen seolah dia mendapat setitik harapan.


“Aaarrggghhh! Aku mau ngapain? Sepi sekali!” cetusnya. Membanting kasar tubuhnya di ranjang. Walaupun anak buat Martin sudah membelikannya berbagai makanan dan camilan, tetap saja sendiri mmebuatnya bosan.


Dia,  mendengar getaran ponselnya. Masih dengan nomor yang belum dia simpan. Hah, dia lagi? Mau apa sih? Sudah kesal dia dibuatnya.


“Halo!” gadis itu menjawab dengan datar.


“Kenapa kau lama menjawabnya? Kau masih belum menyimpan nomorku, hah?” cetus Max. Dia kesal dengan mendengar suara Maureen seperti tak bersemangat.


“Cih, mana sempat aku menyimpannya. Kau, kan tak memberiku kesempatan!” sahutnya senggit seperti petasan yang disundut api.


“Benarkah?”


“Huh, masih pura-pura lagi, memangnya siapa yang menarik paksaku dan tadi di ruanganmu ...,” Maureen enggan menjabarkannya secara detail kejadian tak menyenangkannya hari ini.


Segurat senyuman tertarik di wajah Max. Dia bahkan bisa membayangkan wajah gadisnya yang sedang marah, “Oh, jadi kau ngambek denganku?” cetusnya.


“Cih, siapa yang berani marah denganmu. Kau itu batu dan maniak. Keras kepala, arogan dan mau menang sendiri,” lagi gadis itu menguapkan segala kekesalannya.


“Ada apa? Kau sungguh-sungguh marah denganku, hah?” Max terdengar tak sabaran, tapi wajahnya terus saja tersenyum saat menanggapi ocehan yang keluar dari gadisnya.


“Kau benar-benar keterlaluan!” pekiknya tambah kesal.


“Apanya?” Max mengoda gadisnya.


“Semua data ibu nona Iren sudah disini, Tuan!” Martin menyerahkan berkas kondisi ibu Maureen dan semua grafik kesehatannya. Max ingin mencari cara yang tepat untuk menyembuhkan ibunya.


Namun, dia menautkan alisnya. Menatap kecut pada Martin, “Iren?” ucapnya.


“Oh, maksud saya, nona Maureen, Tuan!” jelasnya.


“Berani sekali kau menyebut nama wanitaku seenaknya. Kau sudah bosan hidup!” dengus Max kesal. Dia bahkan tak diberi kesempatan untuk mengetahui nama lain dari gadisnya.


“Maafkan saya, Tuan, tapi, nona Maureen sendiri yang memang ingin dipanggil seperti itu!” sahut Martin menjelaskan.


Namun, Max berdiri dan menendang kaki Martin, “Enak saja, tanpa seizin dariku, jangan berani kau menyebutnya seperti tadi.” Hardiknya.


“Baik Tuan, saya tidak akan mengulanginya.”


“Uhm, ayo kita pulang.” Cetusnya kemudian. Martin belum melangkahkan kakinya, “Maksudku, kita pulang ke tempatnya!” jelas Max.


“Baik, Tuan!”


Martin melihat tuannya begitu tenang dan bersemangat untuk kepulangannya. Biasanya tuannya menghabiskan banyak waktu di kantor. Baru pulang tengah malam dan pagi harinya sudah kembali.


Semoga tuan benar-benar bisa berubah dan membuka hatinya. Helaan nafas lega berhembus dari jiwa Martin. Mungkin bukan hanya Martin, Max pun sangat bersemangat karena sedang ada orang yang menantikan kepulangannya.


“Selamat sore, Tuan Max!” suara seorang wanita menghampiri. Dia terlihat tergesa karena sudah melihat Max membuka pintu mobilnya.


Max melirik dingin kerarah suara. Dan saat melihat wanita dihadapannya. Mood baiknya tadi berubah buruk.


“Ma-maaf, Tuan Max bisakah aku mengganggu waktumu. Sebentar saja, ada yang harus saya sampaikan. Ini mengenai adik saya, Maureen!” cetusnya. Shasa sudah merencanakan hari ini. Apapun caranya, dia harus bisa merebut dan manarik hati Max.


Max menautkan alisnya, tanpa berbicara, “Sepertinya, kita akan mengobrol cukup lama, Tuan!” tanpa ragu, Shasa sudah bergelayut di lengan Max.


Max yang sangat benci disentuh. Langsung memicing matanya dengan tajam. Rahangnya mengeras seketika, “Duduklah di kursi depan. Itu pun kalau kau masih mau!” cetusnya mantap. Menghempas kasar tangan yang sedang bergelayut dengannya.


“Martin, ambilkan kemeja baru untukku!” Max membuka kemejanya dan membuangnya dijalan.