MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
NENEK SIHIR SHASA



Maureen menghela nafasnya. Kewarasan sudah menguasainya kini. Dia pun ambruk di jalanan setelah kepergian Shasa.


Tubuhnya masih bergetar dengan hebat. Tangannya pun tak berhenti bergetar saat Lola membantunya berdiri.


"Arrggh, Lola. Bagaimana ini? Bagimana kalau kakakku benar-benar membalasnya. Aku takut!" Sedetik kemudian gadis itu sesegukan menangis dipelukan Lola.


Dia benar-benar ketakutan. Ini pertama kalinya dia melawan dan memberontak keinginan kakak tirinya itu.


"Sudah, jangan pikirkan itu dulu, lebih baik kita cari obat untuk wajahmu itu!" Lola menunjuk wajah lebam disudut bibir Maureen dan benjolan dijidatnya.


Maureen mengangguk pasrah. Dan mengikuti Lola mencari apotek terdekat.


"Kau sudah sarapan, Ren?" Lola bertanya setelah mendudukkan temannya dibangku depan apotek. Lola berniat melanjutkan mencari sarapannya yang tertunda.


"Tadi sih sudah, La, tapi sekarang aku malah kelaparan lagi. Tolong, belikan aku apapun yang penting dua porsi. Dan aku ingin segera memakannya. Aku benar-benar kelaparan sekarang!" pintanya sambil menunjukkan wajah sedih dengan wajah yang sudah bengap-bengap.


"Hurf, ya sudah kamu tunggu disini. Jangan kemana-mana!" perintah Lola. Gadis itu mengangguk mantap.


Ponselnya berdering setelah lima menitan Lola pergi.


"Halo!" sahutnya datar tanpa melihat siapa yang memanggil.


"Kau dimana?" sapa dari seberang telpon.


"Aku sedang ditempat Lo-la!" Maureen menarik ponselnya dan melihat si pemanggil. Matanya mendelik.


"Ka-k Nick?" ucapnya terbata. Pikiran Maureen kalang kabut. Tiba-tiba dalam bayangannya terlihat wajah arogan Max.


"Uhm, aku akan kesana. Tunggulah, kebetulan aku tidak jauh dari tempat Lola!" Nick yang tak menyerah mendekatinya. Dia tak ingin gadis itu memutuskan telponnya lebih dulu.


Maureen ingat kata-kata Max. Dia memberikan perintah untuk para pengawal mengikutinya. Namun, saat dia melirikkan mata kesegala arah tidak ada siapapun yang terlihat.


Huh, untungnya hanya pikiranku saja. Dia tak benar-benar melakukannya. Pikir gadis itu, dia membuang jauh nafasnya yang sempat tercekik karena memikirkan ucapan Max.


Tak lama sebuah motor trill berhenti. Penumpangnya turun menghampiri Maureen yang membenamkan wajahnya di meja.


"Kau sedang apa, Iren?" dia menarik bangku, duduk disebelahnya dan mengacak rambut Maureen.


"Hah?" Maureen menarik wajahnya. Namun, tangannya menurunkan rambut agar menutupi wajahnya yang sudah seperti ayam bonyok.


"Ada apa? Kau sakit?" Nick berkata akan menyingkap rambut yang menutupi wajahnya.


"Ti-tidak! Aku tidak apa-apa," ucapnya. Menghindari tangan dan beranjak dari duduk.


"Ren, ini o-bat-nya," ucap Lola berlari kecil dan langsung berhenti saat melihat Nick. Mereka berdua saling memandang.


"Obat? Kau benar-benar sakit?" Nick maju mendekatinya, tapi gadis itu malah berbalik badan.


"La, aku pulang saja!" pamit Maureen tanpa melihat lagi.


"Ren, tunggu, sarapanmu. Katanya kau lapar. Aku sudah beli double nih!" protes Lola ngambek saat Maureen akan pergi.


Nick tambah yakin ada yang tak beres. Dia pun menarik tangan Maureen dan menyibak rambut yang menutupi wajahnya.


"Astaga, apa yang terjadi denganmu? Siapa yang melakukan ini?" pertanyaan yang mungkin terbersih pertama kali di benak Nick.


"Ya, siapa lagi sih yang tega melakukan itu kalau bukan nenek sihir Shasa!" cetus Lola. Dia sebenarnya juga ikut kesal. Mungkin kalau dia tadi tahu lebih awal, Lola pasti akan membantu menghajar Shasa juga.