MR. ARROGANT'S BABY

MR. ARROGANT'S BABY
MISI DAN PRIORITAS UTAMA



"Kak Max, aku mohon biarkan aku masuk. Aku ingin berbicara denganmu, Kak. Kak Max buka pintunya. Kak, tolong buka pintunya!" Karina terus mengetuk pintu dengan keras. Dia berteriak mencari perhatian semua orang.


"Apa kau tak bisa membungkam mulutnya, Martin. Berisik dan aku muak melihat wajahnya!" geram Max berkata. Suasana hatinya mendadak burubah saat bertemu dengan Karina.


Benar-benar wanita yang menyebalkan. Aku dulu buta sampai bisa bertemu dan terjebak oleh dua saudari itu.


"Jika Tuan sudah mengizinkan, saya tidak akan sungkan untuk bertindak!" Martin yang tahu dengan jelas keinginan tuannya. Dia tak mungkin meloloskan masalah ini begitu saja. Mengingat Martin tahu masa silam diantara mereka.


"Bereskan, seret atau kau buang saja ke tempat sampah. Aku tidak perduli. Yang penting aku sudah tak mau lagi melihat wajahnya!" Max berkata tanpa keraguan. Dia ingin menuntaskan segalanya. Dia tak ingin kehidupan yang baru dimulai dengan bidadari impiannya, hancur sebelum berkembang.


Baginya saat ini, Maureen adalah prioritas utama yang harus dia jaga dan lindungi. Dia masih memiliki misi untuk merebut semua hak istrinya dan tentu saja misi paling utama dari segala misi, membuat penurus yang kuat dan banyak untuk kerajaan bisnis Molarry Company.


"Akhirnya kau membukanya, Kak Max. Aku tahu, kau tidak mungkin tega denganku! Aku yakin, kau-," saat dia menarik wajahnya, bukan Max yang berdiri dihadapannya. Tapi, Martin.


"Kau? Sedang apa kau disini? Dimana Kak Max?" Karina menghujani Martin dengan pertanyaan yang membuatnya makin kesal.


"Maafkan saya, Nona Karina. Sebaiknya anda pergi sebelum saya memanggil keamanan!"


"Lancang. Berani sekali kau memperlakukanku seperti itu?" Karina sudah mengangkat kembali tangannya. Tapi, Martin menangkapnya dengan cepat.


"Ini perintah dari Tuan, Nona Karina!" delik Martin. Cengkramannya makin kuat dan akan menyeretnya.


"Tidak mungkin. Kau pasti berbohong. Kak Max tidak mungkin memperlakukanku seperti itu. Ini semua pasti hanya akal-akalanmu saja kan untuk menjauhkanku dengan Kak Max!" Karina masih tidak terima. Baginya perlakuan Martin tidak masuk akal.


"Maaf, Nona Karina. Untuk apa saya berbohong pada Anda. Tidak ada untungnya. Sebaiknya Nona pergi sekarang!" Martin menyeret paksa tangan Karina untuk ikut dengannya.


"Tidak. Aku tidak mau. Kak Max, tolong aku, Kak. Kak Max!" Teriakan histeris Karina bergema dan dia terus meronta untuk melepaskan diri dari cengkraman Martin.


Huh, wanita benar-benar merepotkan! Dengus Martin dihati dan sekuat tenaga dia melemparkan tubuh Karina keluar dari gedung kantor Max.


"Ingat baik-baik, Tuan sudah menurunkan perintah untuk memblokir semua akses Nona ini. Jika dari kalian ada yang berani melanggar, kalian terima sendiri akibatnya!" Suara Martin memberikan perintah dengan lantang pada para pengawal dan security yang sedang menghampirinya.


"Arghh! Martin, dasar kau kurang ajar. Kau benar-benar sedang menantangku. Lihat saja, aku pastikan kalian menyesal. Aku pasti akan buat perhitungan denganmu!" Karina berteriak seperti orang kerasukan. Mata mendelik, tubuhnya bergetar dengan eratan yang terdengar di giginya. Murka ketika mendengar perintah yang keluar dari mulut Martin.


"Silahkan, Nona Karina. Saya, dengan senang hati menunggunya!" seringai Martin cool. Dengan senyuman smirk khasnya lalu berbalik, pergi dan meninggalkannya.


"Argghh! Aku tidak terima. Aku pasti membalasmu Martin. Aku pasti membalas semua perlakuanmu ini!" Karina berteriak. Tapi, tak ada siapapun lagi kecuali para pengawal yang menjaga di pintu.


Kurang ajar. Aku tidak terima. Kak Max bahkan tak mau menemuiku. Ini semua pasti karena ulah wanita rubah itu. Dia yang membuat Kak Max menjadi seperti ini. Aku benar-benar tidak terima. Lihat saja siluman rubah, aku pasti membongkar topeng lugu-mu di hadapan Kak Max. Agar kau tahu bagaimana rasanya dicampakkan seperti ini.


Karina merancu dengan dirinya sendiri. Otaknya berputar sedang mencari cara untuk membalas semua yang dilakukan Maureen. Hari ini dia bahkan sudah berpenampilan serba hitam seperti orang yang sedang berkabung demi menarik simpati dari Max.


***


Martin tahu, walau sikapnya tadi keras terhadap Karina. Saat Karina mengucapkan tentang mendiang Shareen pasti akan mengusik hatinya.


"Aku tidak apa-apa, Martin. Kau tenanglah. Saat ini, ucapan seperti itu tidak akan menggangguku. Yang aku pikirkan, aku hanya takut jika ini sampai terdengar di telinga istriku! Aku takut dia memikirkan hal lain kalau tahu tentangnya!" Max berkata dengan pandangan sama keluar jendela.


"Saya mengerti, Tuan. Saya akan berusaha membungkamnya!" cetus Martin tanpa basa basi.


"Aku tidak suka bertele-tele, lebih baik lagi kau singkirkan dia. Aku rasa waktu yang kuberikan sudah cukup lama. Dan, aku sudah sangat baik terhadap mereka!" Max sudah membukatkan tekad. Daripada istrinya yang secara tidak sengaja terluka akan lebih baik menghilangkan akar permasalahanya.


"Saya mengerti, Tuan. Anda tidak perlu khawatir lagi, Anda hanya perlu menunggu sampai saya menemukan waktu yang tepat untuk menyingkirkannya!"


***


"Terima kasih, ya, Irene, berkat dirimu kini aku sudah memperoleh satu tempat tinggal yang layak. Biaya kuliah sudah aku lunasi dan bahkan hadiah-hadiah yang kubeli untuk panti sudah terpenuhi!" ucap Lola setelah mereka seharian berkeliling.


"Iya, La, aku juga ikut senang. Seharusnya bukan aku yang mendapat terima kasih. Tapi, Max!"


"Iya sih, Ren. Tapi, kalau aku disuruh kembali ke tempatnya itu, aku tidak mau. Apalagi harus ketemu dengan si muka batu es itu. Aku takut, dia menagih janjinya!" Lola berkata sambil bergidik ketika membahas soal Martin.


"Siapa juga yang menyuruhmu. Coba saat itu kau jangan berkata apa-apa dengannya!" Irene memutar bola matanya, saat menggoda Lola.


"Iya aku salah. Semoga dia tidak ingat. Makanya, kau janganlah ajak atau ungkit masalah ini dihadapnya!"


"Uhm, kau tenanglah. Aku, tidak mungkin kan selalu membuatmu susah!"


"Haiis, kayak siapa aja. Kita ini teman, sudah seharusnya saling membantu!" tegas Lola.


"Iya, iya, ngomong-ngomong, kau besok bongkar barang di rumah baru kan? Lalu, lusa ke panti?" Irene bertanya demi menyusun rencana izinnya pada Max.


"Iya, hanya kalau harinya tidak cukup, mungkin aku bisa ganti di esok harinya lagi!"


"Oke. Intinya, besok kita tetap harus ketemu kan?" Irene cengar-cengir tidak jelas.


"Iya. Kenapa sih? Jangan buat aneh-aneh, Ren. Saat ini, kau membutuhkannya. Ingat kau perlu dia untuk mencari keberadaan ibumu!" Lola kembali mengingatkan temannya agar tak bersikap gegabah yang akan membuatnya menyesal.


"Iya, aku tahu, La. Misi dan prioritas utamaku menemukan Mama. Mana mungkin aku melupakan!" Benar-benar terasa nyes di hatinya. Irene sedih, dan sekaligus tak sabar menantikan langkah apa yang akan diambil oleh Max ketika menolongnya mencarikan ibu.