Love Is Rain

Love Is Rain
Novel CINTA DAN MASA LALU



Salsa kembali ketoilet setelah dari kantin untuk membersihkan seragamnya yang terkena noda kecap. Ia membersihkan kemeja putihnya dengan air juga tisu tanpa menyadari keberadaan Lara dan teman-temannya yang juga berdiri di depan cermin mencuci tangan juga merapikan rambutnya.


"Ra!" panggil Jeny menyenggol lengan Lara saat melihat Salsa tengah menunduk sibuk dengan seragamnya.


"Dia cewek yang berusaha goda Azka bukan Sih? Yang kata lo masuk keapartemen Azka padahal pemiliknya masih tidur," sindir Jeny melempar tatapan sinis pada Salsa.


Lara ikut melirik Salsa yang bergemin. "Masasih kapan gue ngomong gitu?" tanya Lara pura-pura lupa.


"Hati-hati Ra, sama cewek modelan dia, bisa aja kan dia jebak Azka tau-tau nya hamil dari cowok lain."


Pembicaraan Jeny dan Lara semakin panas di telinga Salsa, gadis itu dengan cepat mencuci tangannya lalu melangkah menuju pintu tak ingin mencari masalah dengan Lara.


Baru satu langkah kakinnya tersandung oleh kaki panjang Lara, membuat salsa terjatuh dan sikunya membentur siku tembok hingga terasa nyeri dan sedikit mengeluarkan darah.


"Sorry, gue nggak sengaja," ujar Lara dengan mimik wajah menjengkelkan di mata Salsa.


Gadis itu berusaha bangkit dengan sebelah tangan, karena tangan satunya sangat sakit. Jika hanya di sindir habis-habisan, maka ia tidak peduli, tetapi jika sudah bermain fisik jangan salahkan jika ia membalas.


"Nggak sengaja lo bilang?" tanya Salsa. "Setinggi apa lo sampai kaki ketengah jalan gitu? Setinggi tiang listrik?" sinis Salsa.


"Kok loh nyolot? Punya dendam pribadi lo sama gue? Apa karena gue pacaran sama Azka jadi lo marah?"


Lara berjalan mendekati Salsa dengan bersedekap dada, meneliti gadis itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Anak dari kelas menengah aja bangga," hina Lara. "Lo sama Azka tuh nggak serasi, Azka tuh penerus om Ans yang kekayaannya di mana-mana jadi harus punya pasangan pintar buka bego kayak lo," lanjutnya mendorong pundak Salsa dengan jari telunjuk.


"Jangan sentuh gue!" bentak Salsa mendorong Lara agar menjauh darinya.


"Aaaauwwww," rintih Lara.


Tubuh Salsa membeku, tak menyangka dorongannya begitu kuat hingga membuat Lara terjatuh dan kepalanya membentur tembok dan mengeluarkan darah. Ia berjongkok hendak menolong tetapi lebih dulu siswa lainnya muncul satu persatu dan saling berbisik, menimbulkan kegaduhan hingga mengundang siswa yang lain untuk menyaksikan.


Azka dan teman-temannya yang tak sengaja lewat seketika berhenti melihat kerumunan.


"Kok ramai, di toilet perempuan ada apa?" Kepo Rayhan.


Mendengar dua nama gadis yang ia kenal, Azka segera masuk dan membelah padatnya kerumunan, ia mendapati Lara masih duduk dengan darah di kening sedang menangis, sementara Salsa berdiri di depannya.


Azka hanya melirik Salsa sekilas, lalu berjongkok membatu Lara berdiri.


"Maaf Ka, gue nggak sengaja," ujar Salsa menundukkan kepalanya.


"Lo nggak papa Ra?" Menghiraukan ucapan maaf Salsa.


Lara mengelengkan kepalanya. "Jangan gitu lagi ya Sal, kalau lo nggak mau berteman sama gue nggak papa kok," lirih Lara sembari meringis dalam pelukan Azka.


"Bohong Ka, gue ..., gue cuma membela diri," jawab Salsa berusaha mempertahankan dirinyan agar tidak di fitnah didepan banyak siswa seolah-olah yang jahat disini adalah dirinya.


"Jadi makaud lo, Lara yang bohong gitu? Lara yang dorong lo? Lo mau ngelak gimana lagi, padahal Lara udah terluka seperti ini!" Tatapan dingin Azka layangkan, kecewa akan sikap Salsa.


"Terserah lo mau pecaya sama gue atau nggak Ka, tapi gue nggak dorong Lara asal lo tau," jawab Salsa yang juga kecewa akan sikap Azka, menghakimi begitu saja tanpa cari tahu kebenaranya.


"Minta maaf sama Lara!" pinta Azka.


"Nggak, gue nggak salah dan sampai kapanpun gue nggak bakal minta maaf!" tolak Salsa tegas, pelupuk matanya mulai mengumpulkan bulir-bulir yang siap tumpah jika menutup mata.


"Salsa!" bentak Azka. "Apa lo nggak pernah di ajarin sopan santun sama orang tua lo?"


"Iya gue nggak pernah diajarin sopan santun, Mama gue sibuk bekerja buat hidupin gue, dan ayah gue udah nggak ada. Puas lo!" jawab Salsa.


Usai mengatakan itu, Salsa pergi dari toilet, berjalan melewati teman-teman Azka yang kini berdiri di ambang pintu, tak peduli dengan Alana yang terus memanggilnya saat tak sengaja bertemu di koridor, Ia terus berjalan dengan berderai air mata.


Bukan hanya Salsa, kelima anggota inti juga kecewa akan sikap Azka yang menghakimi tanpa mencari tahu dulu. Mereka yakin bukan Salsa yang memulai.


"Gob*lok!" maki Rayhan sebelum meninggalkan toilet perempuan, di ikuti anggota yang lainnya.