
Seperti hari biasanya, Keenan menjemput Beverly untuk berangkat bersama ke sekolah.
"Kamu udah sarapan?" tanya Beverly ketika Keenan menjemputnya.
"Belum ...." gumam Keenan.
"Besok-besok biasakan sarapan sebelum berangkat sekolah. Nanti kamu sakit."
"Ada kamu yang selalu siapin sarapan buatku."
"Bagaimana jika kita tak bisa lagi bersama."
"Kenapa kamu berkata begitu, Bie. Aku yakin kamu adalah jodohku." Keenan membisikan itu ditelinga Beverly.
"Kita nggak tau apa yang akan terjadi besok."
"Bie, kenapa perkataanmu seolah kita akan berpisah."
"Aku ambilkan sarapan dulu, tadi aku buat mie goreng Aceh." Beverly masuk ke dalam panti. Air matanya tak bisa lagi dibendung. Dengan air mata ia mengambilkan mie goreng sepiring buat Keenan.
Bunda yang mengambil air minum melihat Beverly yang berusaha menghapus air matanya.
"Kenapa, nak." Bunda berucap dengan menepuk bahu Bie pelan.
"Bunda ...."
"Kenapa menangis."
"Nggak tau, Bunda. Hari ini aku sedih aja."
"Keenan sudah menunggumu."
"Iya, Bunda. Aku bawakan sarapan buat Keenan dulu."
"Iya, silakan."
Beverly membawa sepiring mie goreng dan segelas teh hangat buat Keenan.
"Sarapan dulu. Masih banyak waktu. Kita tidak akan terlambat," ucap Beverly.
Keenan menyantap mie goreng buatan Beverly dengan lahap. Bie memandangi tanpa kedip.
Mungkin ini terakhir kali kamu sarapan di sini. Aku tak yakin kamu masih mau ke sini setelah nanti aku memutuskan hubungan kita. Maafkan aku Keenan. Aku terpaksa mengambil keputusan ini. Persahabatan antara aku dan Cath lebih aku utamakan.
Setelah sarapan Keenan dan Beverly berangkat ke sekolah. Dalam perjalanan ke sekolah Beverly menahan sesak di dada karena menahan tangisnya.
"Keen, sepulang sekolah kita ke kafe. Ada yang ingin aku katakan."
"Baiklah, nanti kamu yang katakan dengan Catherine. Anak itu selalu saja mengganggu hubungan kita. Aku rasanya ingin mengatakan jika kamu dan aku itu pacaran. Beri waktu buta berdua."
"Keen, sebenarnya Catherine itu gadis yang sangat baik. Cuma emang sedikit manja. Maklum saja ia anak semata wayang di keluarga dan terlalu dimanja kedua orang tuanya."
"Aku nggak suka cewek manja. Aku suka cewek mandiri seperti kamu."
"Kalau kamu udah dekat, pasti kamu akan menyukai Catherine. Ia gadis yang sangat perhatian."
"Aku cuma suka kamu." Keenan menggenggam tangan Bie dan mengecupnya.
Pelajaran sudah hampir di mulai saat mereka sampai di sekolah. Beverly, Keenan, Dimas serta Catherine mengikuti pelajaran seperti biasanya.
Pulang sekolah, Catherine kembali ingin mengajak Beverly, tapi ia menolak dan mengatakan akan pergi berdua Keenan.
"Apa Lo ingin mengatakan mengenai perasaan gue pada Keenan," bisik Cath.
"Ya, gue pulang dengan Keenan. Lo sama Dimas aja."
"Baiklah, gue berharap Keenan juga memiliki perasaan yang sama." Catherine berucap dengan senyum mengembang.
Keenan yang menunggu di dekat mobilnya tampak gelisah. Ia takut Catherine kembali memaksa Beverly ikut dengannya.
Melihat Beverly yang berjalan menuju dirinya, Keenan baru tersenyum.
Ia mengendarai mobilnya menuju salah satu kafe yang terdekat dari sekolah.
Beverly dan Keenan memilih duduk dekat jendela. Tampak langit mulai gelap pertanda hujan akan turun.
Setelah pesanan mereka datang, Beverly mulai membuka suara.
"Keen," lirih Bie memanggil nama Keenan.
Keenan melirik Bie dan mengangkat alisnya sebagai tanda jawaban atas panggilan Bie, karena Keenan saat itu sedang minum air.
"Sebaiknya hubungan kita diakhiri saja," ucap Bie pelan.
Mendengar kalimat Bie membuat Keenan yang sedang minum jadi menyemburkan air dari mulutnya.
"Kamu bicara apa, Bie. Tak lucu candaanmu." protes Keenan menyimpan air minumnya dimeja dan menggenggam bahu Bie keras.
"Aku nggak bercanda, Keen. Aku ingin kita mengakhiri hubungan ini. Kita sebaiknya bersahabat saja seperti dulu." jawab Bie menatap nanar bola mata Keenan, kemudian melepaskan tangan Keenan dari bahunya. "Maaf,"
"Kenapa?" tanya Keenan pelan dengan menatap Bie dalam.
Bie terdiam, dia tidak bisa mengatakan apa maksud seterus terangnya, pada Keena.
"Berikan aku satu alasan! Kita sudah bersama dan kamu memutuskannya secara sepihak! Tanpa alasan yang jelas? Ini sama saja dengan kamu egois, Bie." lanjut Keenan.
"Kita tak mungkin bersama, karena Catherine juga memiliki perasaan cinta padamu." jawab Bie lirih menundukkan kepalanya.
Melihat itu Keenan meraih dagu Bie dan mengangkat wajah sendu itu agar menatapnya serius.
"Terus apa hubungannya denganku. Catherine mencintaiku, tapi kenapa kamu ingin kita putus?" tanya Keenan dengan suara yang pelan namun menusuk, membuat sanubari Bie bergetar karenanya.
Bie terdiam membuat Keenan tidak sabar mendengar jawaban darinya.
"Jawab Bie!" bentak Keenan yang membuat Bie tersentak.
"Karena Cath sahabat terbaikku, aku tak mungkin membuat dia terluka, disaat nanti dia menerima fakta bahwa kita adalah sepasang kekasih? Apakah aku harus kehilangan sahabatku hanya karena keinginanku sendiri? Kau menganggapku egois? Aku memang egois? Lantas apa yang paling buruk dari itu disaat aku menjalin hubungan dengan sosok yang disukai sahabatku sendiri? Katakan Keen, kenapa aku harus memilihmu daripada sahabatku, disaat aku tahu bahwa aku terjebak dalam dilema itu sendiri." teriak Bie.
"Terus kamu anggap apa aku. Apa aku tak ada artinya bagimu. Sehingga kamu begitu mudahnya memutuskan hubungan kita," lanjut Keenan membuat Bie memalingkan wajahnya.
"Kau tidak akan paham Keen," gumam Bie.
"Apa yang tidak aku pahami sekarang selain, keputusan sepihak mu itu?" tanya Keenan meraih tangan Bie.
"Catherine sangat mencintaimu, Keen. Ia meminta aku mengatakan ini. Ia sangat berharap kamu bisa membalas cintanya, namun apa yang aku lakukan? Aku mengkhianati kepercayaannya dengan hubungan kita ini? Terkadang mencintai tidak harus saling memiliki karena ada kalanya harus terjadi pengorbanan."
"Dan kau perlu tahu Bie! Melepaskan seseorang yang kamu cintai demi orang lain sama saja dengan bunuh diri? Keputusanmu ini tidak merubah pendirianku pada perasaanku, lantas apa yang kamu harapkan dari perpisahan kita?" Keenan menjeda ucapannya.
"Aku hanya mencintaimu, Bie." lanjut Keenan.
"Cobalah mengerti dengan posisi aku saat ini, Keen. Aku ingin kamu mencoba menerima Cath. Pasti tak akan sulit bagimu untuk dapat mencintai Cath. Dia gadis yang baik."
" Jadi kamu ingin aku berkorban untuk dirimu, dan kamu berkorban untuk dirinya. Apakah ini adil?"
"Dunia memang tidak adil, jadi biasakan dirimu." Final Bie berdiri dari duduknya dan akan meninggalkan Keenan disana.
Sebelum Bie benar-benar pergi, Keenan berkata,"Coba bayangkan kalau kamu ditimpuk batu. Sakit, kan? Seperti itulah hatiku yang sakit saat ini, karena cintaku kamu lempar-lempar ke orang lain. Tak akan ada kekecewaan yang mendalam tanpa ada cinta yang dalam, Bie."
Keenan berdiri di samping Bie yang telah terlebih dahulu berdiri.
"Sangat menyakitkan ketika orang yang membuatmu merasa istimewa kemarin, ternyata membuatmu merasa sangat tidak diinginkan hari ini."
Setelah mengucapkan itu Keenan pergi meninggalkan kafe itu tanpa menoleh lagi pada Beverly.
Bersambung
*****************
Bagaimana sakitnya hati Keenan saat ini? Dan bagaimana juga perasaan Beverly? Nantikan terus kelanjutan novel ini.