
Dimas telah sampai dikontrakan Bie sejak pagi hari. Ia menggendong Barra. Bunda dan Bie sedang berpakaian. Hari ini Bie dan Keen akan melangsungkan pernikahan. Dimas sebagai saksinya.
Setelah berpakaian Bie menemui Dimas yang duduk di ruang tamu dengan Barra dipangkuannya.
"Dim, gimana pakaian gue? Norak ya?" ucap Bie yang berdiri dihadapan Dimas dengan kaki gemetar. Dari bangun tidur ia telah gugup menghadapi hari pernikahannya.
Dimas memandangi Bie dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya tak berkedip melihat penampilan Bie. Merasa diperhatikan begitu, Bie mengagetkan Dimas.
"Dim ...?" ucap Bie sedikit keras yang mengagetkan Dimas.
"Eh ... Eh ... iya. Kenapa?" ucap Dimas gugup.
"Kok malah tanya gue."
"Lo ngomong apa tadi?"
"Ih ... Lo melamun ya? Gue dari tadi tanya nggak dijawab. Pakaian gue gimana? Norak nggak riasan wajah gue juga?"
"Maaf! Nggak norak kok. Lo cantik banget dengan pakaian begitu."
"Bohong ...."
"Lo kok bohong. Tadi tanya. Gue jawab dikatain bohong."
Lo emang cantik banget dengan pakaian itu, Bie. Andai saja aku yang menjadi pengantin prianya pasti aku adalah pria paling bahagia.
Setelah setengah jam menunggu, Keen belum juga datang. Bie mulai tampak gelisah. Ia mengambil Barra dari pangkuan Dimas dan membawa ke kamar untuk disusui.
Setelah Barra tertidur Bie meletakkan diatas tempat tidur. Ia keluar dan duduk di dekat Dimas dan Bunda. Bunda yang menyadari kegelisahan Bie, akhirnya angkat bicara.
"Jangan kuatir, Bie. Pernikahan kamu dan Keen akan berlangsung dua jam lagi. Mungkin kita yang kecepatan berpakaian. Keen pasti datang," ucap Bunda, agar Bie sedikit lebih tenang.
"Aku kuatir orang tua Keen tau dan menghalangi pernikahan ini."
"Jangan terlalu jauh berpikir, Bie. Jika emang kedua orang tua Keen tau dia akan menikah, mungkin itu lebih baik. Moga aja mereka merestuinya," ujar Dimas.
"Bie ... rezeki, jodoh dan maut itu rahasia Tuhan. Tidak ada yang tau. Kita sebagai umat manusia hanya bisa berencana, tapi yang menentukan segalanya hanya Tuhan. Kita juga tidak pernah tahu apa yang terjadi selanjutnya karena semua ketetapan hanya milik-Nya. Jika hari ini Keen tidak jadi datang ke pernikahan yakinlah semua itu mungkin yang terbaik. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Tuhan mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," ucap Bunda menasihati Bie.
"Iya, Bunda." Bie menunduk menahan air mata.
Dimas mencoba menghubungi Keen tapi ponselnya tak aktif. Melihat itu Bie bertambah gelisah. Sekitar lima belas menit kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah kontrakan Bie.
Dimas berdiri dan membuka pintu, tampak Keen dengan setelan jasnya. Ia bergegas masuk ke dalam rumah.
"Maaf aku telat. Aku meminta izin papi dan mami untuk menginap di rumah teman. Jadi aku ke kantor papi dulu."
"Kenapa ponsel kamu tak aktif?" tanya Dimas.
"Baiklah, kita segera berangkat. Bie bersamamu, Bunda dan Barra denganku," ucap Dimas.
Bie masuk ke mobil Keenan dan Bunda yang menggendong Barra masuk ke dalam mobil Dimas. Seorang pengacara kenalan Dimas, dimintanya untuk menjadi saksi pernikahan Keen dan Bie. Itu semua Dimas lakukan untuk kebaikan Bie. Jika suatu saat orang tua Keen tidak bisa menerima pernikahan anaknya ada pengacara yang sebagai saksi.
Keen memandangi wajah Bie sesekali sambil menyetir. Ia melihat raut muka Bie yang cemberut.
"Kenapa cemberut? Kamu nggak bahagia kita akan menikah?"
"Kamu sadar nggak sih tadi telah membuat aku cemas."
"Kenapa cemas?"
"Tentu aja cemas. Kamu datangnya telat banget. Aku takut kamu membatalkan semuanya."
"Mana mungkin aku melakukan itu, Bie. Hari ini telah aku nantikan. Aku dapat memiliki kamu seutuhnya. Apapun yang menjadi rintangan pasti akan aku usahakan menghadapi untuk dapat menikahi kamu." Keenan meraih tangan Bie dan menggenggamnya.
Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di kantor urusan agama tersebut. Dimas menemui kenalannya itu. Pengacara yang akan menjadi saksi pernikahan Bie dan Keenan juga telah hadir.
Dimas di minta membawa kedua pengantin dan kerabatnya masuk. Setengah jam lagi ijab kabul akan diucapkan.
Keen dan Bie tampak gugup. Bunda tersenyum agar Bie tidak gugup. Penghulu masuk dan duduk dihadapan Keen. Ia membacakan tata cara ijab kabul dan memberikan nasihat pernikahan.
Setelah Keen menyatakan mengerti, Penghulu mengatakan segera memulai ijab kabul. Ia menjabat tangan Keen. Dimas dan pengacara itu duduk di samping pak Penghulu.
"Keenan Farrel El Renova," ucap Penghulu.
"Saya, Pak."
"Saya nikah dan kawinkan engkau dengan saudari Beverly Fedelia binti Abdullah dengan mas kawin sebuah cincin emas dibayar TUNAI."
"Saya terima nikah dan kawinnya Beverly Fedelia binti Abdullah dengan mas kawin tersebut, TUNAI." Keen mengucapkan dengan sekali helaan nafas.
"Bagaimana saksi," ucap Penghulu.
"SAH!" ucap Dimas dan pengacara itu serempak.
"Baiklah, jika begitu kalian berdua telah dinyatakan sah sebagai suami istri."
Mendengar ucapan Pak Penghulu, Keen menarik nafasnya, merasa lega. Air mata Bie tanpa ia sadari turun membasahi pipinya.
Bersambung
*******************
Akhirnya sah Bie dan Keen jadi suami istri. Jangan berhenti untuk mengikuti kelanjutan novel ini. Terima kasih. 😘😘😘😘