Love Is Rain

Love Is Rain
Bab 19. Ujian Akhir



Saat ini semau siswa telah kembali ke sekolah. Dua hari lagi ujian akhir akan dilaksanakan.


Sejak kembali dari tours sekolah, Keenan tampak mulai menjauhi Bie lagi.


Dimas dan Bie masuk ke kelas. Ia meminta semua temannya mendengar apa yang akan ia katakan.


"Selamat pagi teman-teman semuanya. Mohon waktunya sebentar, ketua kelas akan bicara," ucap Bie.


"Selamat pagi semuanya, karena kita akan menempuh ujian akhir, aku sebagai ketua kelas meminta seluruh teman-teman untuk dapat bekerja sama agar ujian akhir dapat berjalan lancar. Bagi yang masih ada terkendala dalam pelajaran bisa bertanya denganku atau Bie. Kita akan berusaha bersama-sama agar kelas ini mendapat nilai terbaik. Satu lagi, kita akan mengadakan pesta perpisahan, untuk itu kita akan rapat untuk pemilihan ketua acara perpisahan. Masing-masing kelas akan diminta empat orang sebagai bantuan nantinya. Siapa yang bersedia sebagai panitia bisa menghubungiku. Sekian pengumuman dari aku sebagai ketua kelas. Terima kasih."


Bie dan Dimas kembali ke bangku tempatnya duduk. Bie tersenyum pada Cath saat melewatinya.


Walau Cath tak pernah membalas senyum yang ia berikan tapi Bie tak pernah bosan melakukannya.


Dimas dan Bie memutuskan akan belajar berdua untuk menempuh ujian akhir ini. Setiap pulang sekolah, Bie dan Dimas mampir ke perpustakaan hingga sore. Sore harinya Bie kan bekerja.


"Bie, apa nggak sebaiknya Lo berhenti aja kerjanya."


"Kenapa harus berhenti, Dim?"


"Lo kelihatan capek banget saat pulang kerja. Maaf, Bie. Gue harap Lo nggak akan tersinggung dengan ucapan Gue."


"Lo mau bilang apa, sih?"


"Gue akan memberi uang sebanyak gaji Lo. Jadi Lo bisa berhenti bekerja, nanti setelah lulus Lo bisa lanjut kerjanya."


Bie tertawa mendengar ucapan Dimas. Ia mengambil tangan Dimas dan menggenggamnya.


"Dengarkan gue Dimas. Gue sangat bersyukur dan beruntung banget memiliki sahabat sebaik Lo. Gue nggak tau kebaikan apa yang orang tua gue lakukan sehingga gue bisa bertemu sahabat seperti Lo. Gue menghargai niat baik Lo. Gue nggak tersinggung dengan ucapan Lo karena gue tau semua yang Lo lakukan pasti untuk kebaikan gue. Tapi gue tak bisa menerima kebaikan Lo lagi. Sudah terlalu banyak gue berutang budi. Gue nggak bisa membalasnya."


"Gue tak mengharapkan balasan. Gue ikhlas melakukan semua itu."


"Gue tau, Dim. Lo ikhlas, tapi gue yang merasa tak enak hati. Lo terus yang bantu gue. Kapan gue bisa melakukan sesuatu buat Lo?"


"Lo bisa membalas semuanya hanya dengan satu tindakan."


"Apa itu ...."


"Tetaplah menjadi sahabat terbaik gue. Apapun yang terjadi jangan pernah berubah."


"Tanpa Lo minta gue pasti akan menjadi sahabat terbaik Lo," ucap Bie dengan tersenyum manis.


.........


Hari ini ujian akhir di mulai. Tampak wajah-wajah tegang dari semua siswa.


Sebelum ujian dimulai, Dimas maju ke kelas. Ia akan memberikan sedikit pengarahan.


"Nggak, Dim. Aku rasa cukup."


"Oke, kita akan memulai ujian sepuluh menit lagi. Jika ada yang kurang paham dengan pelajaran masih ada waktu bertanya pada Bie ataupun aku. Terima kasih."


Dimas dan Bie kembali ke bangku tempat ia duduk. Tak lama masuk guru untuk memberikan soal ujian. Semua diam ketika menjawab pertanyaan yang ada selembaran soal ujian yang diberikan.


.................


Ujian berlangsung satu minggu. Ini hari terakhir ujian. Semua senang akhirnya dapat melalui ujian dengan baik.


Sesuai kesepakatan pesta perpisahan akan diadakan sepuluh hari setelah ujian akhir.


Dimas dan Bie sebagai panitia acara tampak mulai sibuk. Dari mencari tempat, mencari katering, dan menyiapkan susanan acara.


Bie berjalan tergesa menuju ruang kesenian. Teman-temannya sedang latihan untuk pementasan di malam perpisahan.


Saat akan masuk ke kelas Bie berpapasan dengan Keenan. Langkah Bie terhenti begitu juga Keenan.


"Apa kabar,Bie," ucap Keenan.


"Baik," jawab Bie pelan.


"Sebentar lagi kita akan lulus, mungkin akan semakin jarang kita bertemu. Aku ingin bicara, Bie. Kapan kamu ada waktu?" tanya Keenan.


"Apa lagi yang akan kamu bicarakan, Keen. Aku rasa sudah nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan."


"Banyak, Bie. Banyak banget yang ingin aku katakan padamu."


"Tapi, Keen. Aku rasa lebih baik kamu simpan saja apa yang ingin kamu katakan itu. Seprti katamu, kita mungkin jarang akan bertemu."


"Karena kita akan jarang bertemu itulah aku ingin bicara. Aku ingin kamu tau semua yang aku rasakan. Malam saat pesta perpisahan, aku harap kamu bisa meluangkan sedikit aja waktumu. Aku janji tidak akan mengganggu kau lagi setelah itu."


"Baiklah, Keen. Aku usahakan. Aku masuk dulu. Semakin lama kita berdiri di sini akan semakin banyak gosip." Bie masuk ke ruang kesenian meninggalkan Keen yang masih terpaku menatap kepergian Bie.


Keen menarik nafasnya panjang saat tubuh Bie telah menghilang masuk ke ruang kesenian.


Menginginkannya sulit untuk dilupakan, mencintainya sulit untuk disesali, kehilangannya sulit untuk diterima, tetapi bahkan dengan semua rasa sakit yang aku rasakan, melepaskan adalah yang paling menyakitkan. Bagaimana aku bisa melangkah, ketika aku masih mencintaimu. Aku sudah mencoba, tetapi tidak ada yang sepertimu dan caramu mencintaiku sulit untuk diganti, dan semua kenangan saat bersamamu walau hanya sekejab masih terus terbayang dipelupuk mata ini.


Bersambung


******************


Tak terasa pesta perpisahan sekolah akan diadakan. Itu tandanya sudah saatnya mereka akan lulus dan berpisah. Apakah yang ingin Keenan sampaikan di malam acara perpisahan nanti? Nantikan terus ya lanjutan dari novel ini. Terima kasih banyak. 💜💜💜❤❤❤