
Siang harinya setelah Bie pulang mengajar, Dimas pamit ingin kembali ke kota kelahirannya.
"Gue pulang. Ingat pesan gue. Apapun yang terjadi, jangan lupa kabari gue."
"Lo hati-hati. Nanti di Jakarta Lo harus kuliah yang benar, biar cepat wisuda. Jika Lo sukses, gue pasti akan kecipratan."
"Lo pasti orang pertama yang akan menikmati kesuksesan gue," ucap Dimas dengan mengacak rambut Bie. Mata Bie sudah tampak berkaca. Ia berusaha menahan air mata yang akan tumpah.
"Dim, berjanjilah Lo tak akan pernah mengatakan tentang kehamilan gue pada Keen atau Cath."
"Kenapa?"
"Janjilah, Dim."
"Baiklah jika itu maunya Lo. Tapi ada syaratnya!"
"Syarat ...?"
"Ya! Syaratnya Lo harus mengabari gue jika Lo akan melahirkan."
"Lo bukan suami gue." Bie berkata dengan tersenyum tapi air matanya berlinang. Ia tak dapat menyembunyikan rasa harunya karena memiliki sahabat yang sebaik dan pengertian seperti Dimas.
"Jangan menangis. Berapa kali harus gue ulangi kata gue itu. Tersenyumlah, hidup ini hanya sekali jangan dihabisi dengan kesedihan saja. Rugi!" Dimas menghapus air mata di pipi Bie dengan jarinya.
"Iya ...."gumam Bie.
"Lo jangan lupa jaga kesehatan. Jangan dengar omongan orang. Satu lagi ... jangan lupakan gue" ucap Dimas dengan mencubit pelan hidung Bie.
"Mana mungkin gue bisa lupakan sahabat sebaik Lo, Dim. Rugi gue. Lo juga jangan lupa sarapan. Mau nebeng sarapan di sini kejuhan."
"Liburan gue akan datang lagi. Gue pamit." Dimas membawa Bie ke dalam pelukannya.
"Ingat Bie, tidak selamanya langit itu gelap. Tak selamanya langit itu mendung. Selalu ada bintang di balik awan yang gelap. Selalu ada pelangi setelah hujan. Selalu ada matahari di balik mendung. Selalu ada hikmah di balik kesusahan. Ingatlah, di balik awan yang hitam selalu ada matahari. Kehidupan itu berharga, jadi jangan sia-siakan dia walau perjalanan hidup kita berat."
"Dimas ...." ucap Bie di sela isak tangisnya.
"Gue yakin Lo akan mampu menjalani semua ini. Lo harus buktikan pada orang-orang jika Lo juga mampu menjadi orang sukses walau dengan tanpa bantuan siapapun. Ini buat Lo." Dimas menyerahkan kotak yang berisi satu buah ponsel.
"Apa ini, Dim. Nggak perlu. Ponsel gue masih bisa digunakan. Lo udah tau, kan nomor baru gue?"
"Ponsel ini gue beli sebulan yang lalu, emang buat Lo. Gue pikir Lo tak bisa dihubungi karena ponsel yang rusak. Ambillah, Bie."
"Dimas, Lo terlalu sering memberi. Gue tak pernah bisa membalasnya."
"Bukannya tak pernah, tapi belum. Gue yakin suatu saat Lo jadi orang sukses. Siapa tau saat itu gue yang akan sering minta bantuan."
"Gue akan selalu ingat semuanya. Orang pertama yang akan menikmati keberhasilan gue itu adalah Lo."
"Semoga Lo sukses."
Sampai detik ini setidaknya aku tahu gimana rasanya mencintai dalam diam, memendam perasaan rindu sendirian.Terkadang memendam adalah pilihan satu-satunya agar semua terlihat baik-baik saja.Padahal aku tau jika memendam rasa kepadamu begitu sulit dan menyakitkan, tapi mengapa hatiku enggan menyerah hingga detik ini.
Dengan perlahan Dimas menjalankan mobilnya meninggalkan Bie yang masih terpaku di tempat ia berdiri.
Setelah mobil Dimas menghilang dari pandangannya Bie masuk ke dalam rumah.
.............
Sejak hari itu Dimas hampir setiap waktu menghubungi Bie. Apa lagi di malam hari, hingga waktu Bie tidur baru Dimas selesai mengobrol.
Pernah Bie bertanya kenapa ia selalu menghubungi Bie,apakah ia tak belajar. Dimas memberikan jawaban jika ia setiap malam menghubungi Bie agar wanita yang ia cintai dalam diam itu tak merasa kesepian. Bunda sesekali juga mengunjungi Bie.
Dua bulan telah berlalu. Saat ini kandungan Bie telah memasuki bulan ke tujuh. Dimas yang sedang libur kuliah langsung menuju ke temoat Bie tinggal.
Dimas sengaja tak memberi kabar tentang kedatangannya. Ia ingin memberikan kejutan pada Bie.
Ia mengawasi dari jauh saat Bie mengajar. Kebetulan pintu kelas Bie mengajar tidak tertutup rapat.
Saat jam istrihat, seperti biasa Bie langsung menuju kantin untuk berdagang. Dimas masuk perlahan dan berdiri di samping Bie.
"Ada yang bisa saya bantu bu guru Bie," ucap Dimas, mengagetkan Bie.
"Dimas ... kok nggak beri kabar mau datang," ucap Bie sambil melayani anak didiknya yang belanja.
"Ini suaminya ibu guru," tanya salah satu muridnya. Bie hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Lo mau gue jadi bahan gosip lagi. Kenapa harus ke sekolah, sih?" ucap Bie sambil menyusun dagangannya. Sebentar lagi bel tanda masuk berbunyi.
"Lo nggak senang ya gue datang."
"Senanglah ...." ucap Bie. "Aku harus masuk kelas lagi. Lo mau menunggu di mana. Jangan ngumpul bareng ibu-ibu lagi."
"Gue beresin ini. Lo masuk aja. Nanti tinggal pulang bareng gue aja lagi."
"Hhhhhmmmm ...boleh juga. Tapi jangan minta bayaran ya!"
Bie meninggalkan Dimas sendiri di kantin. Setelah jam pulang sekolah, ia mengajak Dimas pulang. Banyak mata ibu-ibu menatap mereka.
Bersambung
*************
Nantikan terus ya kelanjutan novel ini. Terima kasih. Lope-lope sekebon buat semuanya 😍😍❤❤❤💜💜💜
Sementara menunggu bab ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.