
Beverly mengulurkan tangannya pada Clara."Beverly."
"Clara ...." ucap Clara. Tangannya tetap memeluk lengan Keenan.
"Boleh aku pinjam Keenan sebentar. Ada yang ingin aku katakan."
"Kenapa nggak di sini saja," ucap Clara.
"Oh, Maaf. Agak sedikit privasi. Tapi jika kamu keberatan tak apa kok. Aku pamit dulu." Beverly melangkahkan kakinya perlahan meninggalkan Keenan dan Clara.
Baru beberapa langkah, pergelangan tangannya di tarik seseorang. Ia di seret menuju sudut mal yang sedikit sunyi.
"Keen ...."
"Kamu mau bicara apa?"
"Apa Clara itu benar pacarmu?"
"Ya, kenapa?"
"Kenapa kamu lakukan ini pada Cath. Bukankah kamu dan Cath telah resmi berpacaran."
"Apa urusanmu?"
"Cath sahabatku, Keen. Jika ia terluka dan bersedih,aku juga ikut merasakannya." Mendengar ucapan Bie, Keen bertepuk tangan.
"Hebat ... aku salut dengan kesetiaanmu pada sahabat. Tapi akan kita buktikan nanti, apakah Cath juga akan setia kawan."
"Apa maksud kamu, Keen?"
"Suatu hari kamu akan mengerti dengan perkataanku ini."
"Keen, jika kamu marah padaku jangan balas dengan Cath. Ia tak salah."
"Jadi kamu mengaku salah."
"Aku memang salah, maafkan aku."
"Apa menurutmu kata maaf cukup untuk semua yang telah kamu lakukan. Nggak perlu minta maaf untuk apapun yang kamu tahu salah tapi kamu lakukan."
"Keen, Maaf kalau keputusanku melukai hatimu. Aku cuma bisa berharap kau mengerti. Aku juga tidak pernah menginginkan ini."
"Minta maaf saja takkan memperbaiki apa pun. Minta maaf takkan mengobati hati yang luka, takkan pernah. Obatnya adalah tindakan. Memaafkan itu gampang. Melupakan tidak bisa. Tdk usah basi basi minta maaf atas kepura-puraan ini."
Keenan berjalan meninggalkan Beverly tanpa menoleh lagi. Air mata yang dari tadi Beverly tahan akhirnya jatuh dan tumpah. Ia terduduk karena tubuhnya yang terasa lemah.
Aku tau ini salahku. Kenapa kamu balasnya dengan menyakiti Cath.
Setelah Beverly dapat menahan tangisnya, ia kembali ke tempat Catherine menunggunya.
"Lama banget, Say. Dari mana sih?"
"Aku tadi kebelet." bisik Bie.
"Menurut kamu Keenan suka jam tangan yang model mana? Ini apa ini." Catherine menunjuk jam tangan yang ia pilih.
"Bagus ini," tunjuk Bie pada jam tangan yang ada di tangan Bie.
"Oke, aku ambil ini aja. Mbak ... tolong bungkuskan sekalian." Catherine menyodorkan jam tangan yang ia pilih.
Setelah memilih jam tangan buat Keenan, Catherine mengajak Beverly ke restoran yang ada dalam mal.
Saat akan menyantap makanan, Cath melihat Keenan bersama Clara.
"Bukankah itu, Keen." Catherine berucap dengan pelan. Beverly memandang ke arah Catherine menunjuk.
"Siapa yang bersama Keen? Apakah Keen selingkuh?" gumam Catherine.
"Lo bisa tanya Keen," ucap Beverly lirih. Ia tak berani mengatakan jika cewek itu dikenalkan sebagai kekasihnya.
"Gue percaya, Keen. Nggak mungkin Keen menduakan gue. Pasti itu tadi hanya teman atau saudaranya. Gue belum kenal semua saudaranya."
"Semoga saja dugaan Lo benar."
"Bie, gue ingin Keen hanya jadi milik gue seorang. Akan gue lakukan apapun itu." Catherine bergumam sambil mengaduk air minumnya.
Setelah makan, Catherine mengajak Beverly pulang. Saat diperjalanan Catherine menitikan air matanya sambil menyetir.
"Apakah Keen emang berselingkuh,Bie."
"Gue nggak bisa jawab itu. Lo bisa tanyakan langsung ke Keenan."
"Gue sangat mencintai Keenan. Nggak pernah gue rasakan cinta sebesar ini. Gue takut banget kehilangannya."
"Lo bisa bicarakan ini nanti berdua Keenan."
"Apa kurangnya gue, Bie? Keenan sepertinya nggak mencintai gue dengan tulus. Dia nggak pernah mengajak gue kencan. Setiap kami pergi jalan, pasti karena paksaan dari gue."
"Lo tak ada kekurangan. Cantik, baik dan juga Lo memliki orang tua yang mampu."
"Gue ingin papi melakukan sesuatu untuk hubungan gue dan Keenan," lirih Cath.
Beverly hanya dapat tersenyum mendengar ucapan Catherine. Tak ada kata yang dapat ia ungkapkan.
..................
Keesokan harinya Beverly kembali duduk sendirian di taman. Sejak Keen dan Cath pacaran ia jarang ke kantin.
Ia tak mau bertemu Keenan. Setiap bertemu Keenan, cowok itu selalu memandang dirinya dengan sadis.
Saat Beverly sedang asyik membaca, Dimas menghampirinya.
"Kenapa Lo jadi sering menyendiri. Lo masih belum bisa melupakan Keen," ucap Dimas uang berdiri di samping Bie duduk.
"Gue bukan tak bisa melupakan Keen, tapi gue tak mau bertemu dengannya. Setiap bertemu matanya selalu memandangi gue sadis."
"Apa Keenan masih belum bisa menerima keputusan yang Lo ambil."
"Ya, bahkan ia ingin membalas gue dengan cara menyakiti Cath. Semua salah gue. Seandainya gue tak menerima dirinya, tak akan ada hati yang terluka."
"Apa maksud Lo? Apa Keenan mau membalas sakit hati Lo dengan pura-pura mencintai Cath."
"Lo benar. Keenan bahkan saat ini telah memiliki kekasih selain Cath. Apa yang harus gue lakukan, Dim. Jika Cath tau selama ini Keen menerima cintanya hanya karena ingin membalas gue, pasti Cath akan kecewa. Gue tak mau Cath terluka. Sakit, Dim. Nafas ini terasa sesak setiap ingat itu. Jika sampai Cath patah hati karena Keen, aku tak akan bisa memaafkan diriku sendiri." Tangis Bie akhirnya pecah. Ia berdiri dihadapan Dimas.
"Dengar ,Bie. Ini bukan salah Lo jika Keen akhirnya menyakiti Cath. Berani mencintai berarti harus siap patah hati. Jangan menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi. Mereka berdua bukan anak kecil lagi."
Dimas membawa Bie kedalam pelukannya. Ia ingin memberikan cewek itu kekuatan. Bie tampak sangat rapuh sejak putus dengan Keen.
Tangis Bie makin pecah saat berada dipelukan Dimas. Tanpa mereka sadari Keenan melihat semuanya.
Bersambung
*********************
Apa yang akan terjadi? Apakah Keenan akan salah paham melihat Bie dan Dimas berpelukan?. Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.