
Pagi hari seperti biasa Bie disibukan dengan kerja onlinenya. Ia mengecek satu persatu pesanan para pelanggan.
Bie senang pelanggan banyak yang puas dengan hasil dagangannya. Belum pernah pelanggannya yang merasa tidak puas.
Bie telah menghubungi Bunda. Bunda janji akan datang siang ini. Ia ingin bicara dengan Keen.
Bie sesekali mengajak Barra bercanda disela kegiatannya. Putranya itu tampak sangat riang.
"Barra, Sayangnya mami. Cepat besar dong. Biar bisa tolong mami antar barang pesanan pelanggan." Barra tertawa seolah mengerti ucapan Bie.
Saat Bie mengajak Barra mengobrol terdengar suara ketukan pintu.
"Mami buka pintu dulu, Sayang. Mau lihat siapa yang bertamu," ucap Bie menowel pipi tembem Barra.
"Bunda," ucap Bie dan langsung memeluk dan mencium pipinya.
"Kayak yang tak jumpa dah lama aja. Padahal baru satu minggu yang lalu Bunda datang."
Melihat Barra yang sedang berada di kereta, Bunda mendekati dan mengecupnya. Bunda menggendongnya.
"Bunda, aku titip Barra. Mau masak."
"Iya, silakan. Biar Bunda bermain dengan cucu ganteng ini," ucap Bunda sambil mengecup seluruh wajah Barra.
Setelah masak Bie mandi, barulah ia menemui Bunda. Tampak Barra telah tertidur dipelukan Bunda.
"Bunda, biar aku tidurkan Barra di kamar dulu." Bie mengambil Barra dan menidurkannya di atas tempat tidur dengan perlahan.
Setelah Bie melihat Barra terlelap, barulah ia keluar menemui Bunda dan duduk disamping Bunda dengan memeluk wanita yang disayanginya itu.
"Kenapa ...?"
"Aku takut Bunda."
"Apa yang kamu takutkan,Nak?"
"Aku takut semua tidak berjalan sesuai dengan keinginan. Seandainya nanti Cath tidak bisa menerima dan membenciku seumur hidupnya. Gimana Bunda?"
"Kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya. Semua itu adalah rahasia Tuhan. Kita hanya bisa menjalani saja."
"Bunda, apakah piihanku menerima Keen udah tepat."
"Sudah, Nak. Keen ayah kandungnya Barra. Jadi pilihanmu menerimanya itu sudah tepat. Jika kamu menikah dengan pria lain, walaupun ia berkata bisa menerima anakmu Barra tapi jika suatu saat Barra melakukan kesalahan pastilah ia akan membencinya. Seorang ayah kandung tidak akan pernah membenci anaknya."
"Terima kasih, Bunda. Aku sayang,Bunda." Bie mengecup pipi wanita yang telah dianggapnya seperti ibu kandungnya itu.
Setengah jam berlalu, terdengar kembali suara pintu di ketuk. Bie berjalan membuka pintunya. Teenyata Keen yang bertemu. Bie mempersilakan masuk.
"Selamat siang, Bunda," sapa Keen.
"Selamat siang."
"Apa kabar, Bunda?"
"Baik ... seperti inilah orang tua, dalam sehat terkadang tiba-tiba sakit."
"Bunda, Keen ... makan dulu ya."
"Boleh, Bunda juga sudah lapar. Mari nak Keen, makan dulu. Nanti baru lanjutkan mengobrolnya."
Keen dan Bunda makan siang dengan lahapnya. Bie emang jago soal memasak. Makanan apa saja yang ia buat, rasanya enak.
"Keen, Bunda dengar dari Bie jika kamu mengajaknya menikah."
"Benar, Bunda."
"Apakah semua telah kamu pikirkan matang-matang termasuk risiko yang mungkin akan keluarga kamu terima."
"Apa maksud Bunda?"
"Bie kemarin mengatakan pada Bunda jika kamu bertunangan dengan Cath karena jodoh dari orang tuamu. Itu dilakukan karena orang tua Cath yang telah menanam saham di perusahaan orang tuamu."
"Itu betul Bunda."
"Jika kamu memutuskan pertunangan kalian apakah itu tak berdampak dengan perusahaan orang tuamu."
"Aku tau itu, Bunda. Pastilah ada dampaknya bagi perusahaan papi."
"Apakah kamu yakin orang tuamu setuju jika kamu memutuskan Cath?"
"Mereka harus menerima karena Bie telah menjadi istriku. Ada Barra juga di antara kami."
"Jika orang tuamu tidak setuju dan meminta kamu menceraikan Bie bagaimana?"
"Aku tak akan mau Bunda. Aku akan tetap pertahankan Bie dan pernikahan kami."
"Bunda harap begitu. Jangan kamu berubah pikiran. Bie tidak memiliki siapa-siapa. Jika nanti kalian menikah, kamulah tempat ia bersandar jadi Bunda harap kamu tak akan menyakiti dan meninggalkan Bie. Jika kamu menikah dengan Bie hanya untuk dapat dekat dengan Barra, lebih baik kamu urungkan niatmu. Walau tak menikahi Bie, kamu masih bisa bertemu Barra."
"Aku mencintai Bie, Bunda."
"Dulu kamu juga berkata sangat mencintai Bie. Tapi tetap kamu meninggalkan Bie. Kamu saat ini telah menjadi seorang ayah, Bunda harap kamu tidak main-main lagi dalam mengambil keputusan. Jika kamu benar mencintai Bie buktikan dengan perjuangan kamu untuk mendapatkan restu orang tuamu. Cinta itu harus diperjuangkan. Bunda tak akan pernah memaafkan jika sekali lagi kamu meninggalkan Bie. Bunda merestui pernikahan kalian hanya demi Barra. Anak itu tak bersalah. Ia berhak mendapatkan keluarga yang utuh."
"Biak, Bunda. Aku janji tidak akan meninggalkan Bie lagi."
"Jangan hanya janji. Kamu harus bisa buktikan dengan cara mendapatkan restu dari kedua orang tuamu secepatnya. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Bie dan Barra baru restu itu kamu pegang. Jangan lama-lama. Bunda juga ingin kamu menyelesaikan hubunganmu dengan Cath secepatnya. Takutnya kesalahpahaman akan terjadi jika Cath tau kamu telah menikahi Bie. Sebelum ia dapat kabar itu sebaiknya hubunganmu telah berakhir."
"Aku akan memutuskan hubunganku dengan Cath secepatnya, Bunda."
"Bunda akan menunggu kabar itu secepatnya. Keen, pernikahan itu bukan sekadar penyatuan dua orang saja tapi seluruh keluarga. Jangan yang ada dalam pikiran kamu, setelah menikah kamu dapat bersama dan memiliki Bie seutuhnya saja. Akan banyak rintangan yang akan kalian hadapi kedepannya. Kamu nanti setelah menikah harus bertanggung jawab atas hidup Bie dan Barra."
"Ya, Bunda. Aku akan bekerja sambil kuliah."
"Kamu akan ke luar negeri. Jaga diri. Ingat kamu telah menikah. Lagi pula Cath tidak tau mengenai pernikahan kalian. Dalam pikiran Cath kamu adalah tunangannya. Pasti ia merasa memiliki. Jadi kamu harus bisa menjaga jarak jika bersama Cath."
"Aku akan mengusahakan papi mengizinkan aku kuliah di sini."
"Bunda hanya bisa mendoakan semoga orang tuamu setuju. Kamu juga mendapat restu secepatnya. Setelah kalian menikah, Bunda akan menyerahkan tanggung jawab Bunda padamu. Jaga Bie dan Barra."
"Baik,Bunda."
Bunda dan Keen masih terus mengobrol. Bie ikut bergabung dengan Barra yang telah bangun tidur. Dimas janji akan datang untuk menolong Keen dan Bie mengurus pernikahan mereka. Dimas menunda keberangkatan ke Jakarta hingga hari pernikahan Bie dan Keen.
Bersambung
*******************
Semoga pernikahan Bie dan Keen berjalan lancar. Nantikan terus kelanjutan novel ini. 😘😘😘😘😘😘
Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.